Advertisement
44 Tewas dalam Kebakaran Mematikan di Hong Kong
Foto ilustrasi petugas pemadam kebakaran bekerja memadamkan api di lokasi kejadian kebakaran. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Kebakaran di kompleks Wang Fuk Court, Tai Po, Hong Kong menewaskan 44 orang dan memicu penyelidikan terkait kelalaian material renovasi.
Dikutip dari Reuters, Kamis (27/11/2025), otoritas setempat menyatakan korban tewas termasuk satu petugas pemadam. Sebanyak 45 orang lainnya masih dirawat dalam kondisi kritis, sementara ratusan warga dievakuasi dari delapan blok hunian.
Advertisement
"Saya langsung kembali untuk mengambil barang-barang saya. Saya hanya memikirkan di mana saya akan tidur malam ini," ujar seorang warga bernama Harry Cheung, menggambarkan kepanikan saat evakuasi.
Lebih dari 800 petugas dikerahkan dalam operasi pemadaman dan penyelamatan. Kepala Eksekutif Hong Kong John Lee menegaskan bahwa langkah pertama adalah pemadaman dan evakuasi penghuni apartemen terdampak.
BACA JUGA
"Prioritasnya adalah memadamkan api dan menyelamatkan warga yang terjebak," ujar Lee. Ia juga menyebut bahwa dukungan bagi warga yang terluka serta pemulihan area akan menjadi tahap berikutnya.
Tim pemadam menghadapi hambatan serius, termasuk suhu ekstrem, tiupan angin di ketinggian, dan akses terbatas ke lantai atas. Kompleks yang terdiri dari delapan blok dengan 32 lantai ini membuat penyisiran lantai atas membutuhkan waktu lebih lama.
Otoritas menyebut kebakaran ini sebagai salah satu insiden dengan penyebaran api tercepat yang pernah terjadi. Scaffolding bambu dan jaring hijau yang menyelubungi gedung diduga menjadi faktor utama yang mempercepat persebaran api ke beberapa blok.
Polisi telah menangkap tiga eksekutif perusahaan konstruksi yang menangani renovasi kompleks tersebut. Penangkapan dilakukan setelah penyidik menemukan jaring pelindung, plastik, dan busa penutup jendela yang tidak memenuhi standar keselamatan.
"Kami memiliki alasan untuk percaya bahwa pihak yang bertanggung jawab di perusahaan tersebut sangat lalai," jelas polisi setempat.
Sementara, sekitar 900 orang telah ditempatkan di delapan shelter pengungsi yang disiapkan pemerintah. Proses pendataan masih berlangsung, terutama bagi penghuni yang terpisah dari keluarga saat evakuasi awal.
Berdasarkan laporan terbaru, masih ada 279 orang yang belum ditemukan. Sejumlah keluarga masih menunggu informasi mengenai anggota keluarga yang belum dapat dihubungi, sehingga jumlah warga yang hilang belum dapat dipastikan.
Panas tinggi dan asap pekat di lantai atas membuat tim bekerja dengan perlindungan tambahan dan jeda rotasi lebih cepat. Kondisi ini membuat sebagian area tetap berbahaya meski operasi sudah berlangsung sejak siang hari.
Pemerintah terus memantau perkembangan situasi dan berkomitmen memberikan dukungan penuh bagi korban dan keluarga yang terdampak tragedi memilukan ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BMKG Wanti-wanti Hujan Lebat di Jateng hingga Akhir Januari 2026
- PLN Hadirkan Tambah Daya Listrik Instan untuk Hajatan dan Proyek
- KPK Duga Modus CSR Dipakai dalam Aliran Dana Wali Kota Madiun
- OTT Madiun Seret Kepala Daerah hingga Swasta, Ini Rinciannya
- Guru dan Murid di Jambi Adu Jotos, Kasus Berujung Laporan ke Polda
Advertisement
Pohon Tumbang di Sleman Dipicu Angin Kencang Saat Hujan Ekstrem
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Update Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini, 21 Januari 2026
- Konsumsi Warga Kulonprogo Terendah se-DIY
- Frederic Injai Berpeluang Perkuat PSS Saat Menjamu Barito Putera
- KDMP di DIY Bisa Dibangun Tanpa Tunggu SK Gubernur
- Jadwal SIM Keliling Polda DIY Januari 2026, Ini Lokasi dan Jam Layanan
- Pemkot Jogja Terima Rp41,3 Miliar Dana Keistimewaan
- Jadwal SIM Keliling Kulonprogo Rabu 21 Januari 2026, Ini Lokasinya
Advertisement
Advertisement



