Advertisement
Dikaitkan Kasus Rempang Eco City, Ini Perjalanan Karier Konglomerat Tomy Winata

Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Konglomerat Tomy Winata tengah ramai dibicarakan karena dikaitkan dengan pengembangan kawasan Pulau Rempang di Batam, Kepulauan Riau. Lalu bagaimana sepak terjang pengusaha tersebut?
Rencananya, Tomy Winata melalui PT MEG akan mengembangkan Pulau Rempang menjadi kawasan industri yang ramah lingkungan sehingga disebut Rempang Eco City. Tomy akan menggelontorkan Rp1,2 triliun untuk meraih konsensi kawasan tersebut.
Advertisement
PT MEG akan membangun Rempang Tower yang menelan dana hingga Rp45 triliun. Pembangunan bersamaan dengan masuknya Xinyi Group itu, Rempang Tower akan menjadi menara tertinggi di kawasan tersebut.
Baca Juga: Perusahaan Tomy Winata Sewa Rempang selama 30 Tahun, Segini Nilainya
Lantas siapa sebenarnya Tomy Winata?
Mengutip berbagai sumber, pria dengan inisial nama TW ini masuk dalam taipan jajaran kelompok 9 naga, seorang sosok pengusaha yang berpengaruh di zaman Orde Baru bahkan hingga sekarang,
Tomy Winata yang lahir pada 23 Juli 1958, merupakan seorang keturunan Tionghoa yang menggenggam Grup Artha Graha atau Artha Graha Network. Usahanya bercabang di berbagi bidang, mulai dari perbankan, properti dan infrastruktur.
Tak berasal dari keluarga berada, Tomy Winata mengaku hanyalah seorang lulusan SMP, dan tak melanjutkan pendidikan lantaran takut tertarik ikut terjun ke dunia politik.
Dia membangun kesuksesannya berjuang dari nol lantaran menjadi seorang anak yatim piatu yang hidup dalam kemiskinan.
Dia mulai bekerja dari menjadi kuli bangunan hingga akhirnya terhubung dengan dunia militer.
Pria dengan nama Tionghowa Oe Suat Hong ini memulai bisnisnya pada 1972 dalam proyek pembangunan kantor koramil di Singkawang.
TW juga merupakan sosok di balik pemilik kawasan perkantoran SCBD. Di mana saat ini dia menjabat sebagai Komisaris bersama dengan Sugianto Kusuma sebagai Komisaris Utama.
Adapun, pada 2016 nama Tomy Winata sempat tercatat dalam daftar 40 orang terkaya RI, di mana pada saat itu kekayaanya dilaporkan sebesar US$110 juta atau Rp1,6 triliun.
Baca Juga: Menteri ATR Janjikan Warga Rempang yang Direlokasi Dapat Sertifikat Hak Milik
Beberapa sumber kekayaannya antara lain PT Danayasa Arthatama yang merupakan perusahaan pengembang kawasan SCBD yang dimulai sejak 1987. Di mana, pada saat itu Danayasa diberikan kepercayaan untuk menyulap lahan kumuh seluas 45 hektare di "Jantung Segitiga Emas" Jakarta menjadi kawasan niaga terpadu modern.
Kemudian, Tomy Winata juga mendapatkan kucuran kekayaan dari kepemilikannya pada PT Jakarta International Hotels & Development Tbk. (JIHD), yang didirikan pada November 1969 dan mulai beroperasi pada bulan Maret 1974 dengan pembukaan Hotel Borobudur.
Selain itu, namanya juga tak asing lagi di Grup Bank Artha Graha Internasional Tbk. (INPC). Bank ini pertama kali berdiri pada 1973 dengan nama PT Inter-Pacific Financial Coorporation. Perusahaan ini kemudian melakukan merger PT Bank Artha Graha pada 14 April 2005.
Adapun, status kepemilkan Tomy Winata di INPC merupakan kepemilikan tidak langsung usai sejumlah perusahaan miliknya menggenggam porsi kepemilikan saham di bank ini.
Di ketahui, bersama dengan pengusaha Aguan, Tomy Winata membangun 5 perusahaan yang saat ini statusnya merupakan pemegang saham INPC. Kelimanya yaitu PT Pirus Platinum Murni dengan porsi kepemilikan sebesar 6,73 persen, PT Cerana Artha Putra dengan kepemilikan 6,54 persen, PT Puspita Bisnispuri 5,38 persen, PT Arthamulia Sentosajaya 4,15 persen dan PT Karya Nusantara Permai sebesar 3,52 persen.
Di proyek Rempang, Tomy Winata ikut campur tangan lewat PT Mega Elok Graha (MEG) yang merupakan anak perusahaan Grup Artha Graha. Saat ini MEG memiliki hak mengelola lahan pada proyek Rempang Eco-City.
Adapun, MEG terlibat pengembangan Rempang terhitung sejak 2004. Di mana, perusahaan ini diberikan konsesi selama 80 tahun atau berakhir pada 2084 mendatang.
Kekuatannya di berbagai lini bisnis juga tak lepas dari kepemilikannya di perusahaan induk PT Arta Graha Grup, yang merupakan perusahaan konglomerasi milik Tomy Winata yang membawahi 43 perusahaan yang bergerak pada beragam sektor baik pariwisata, perhotelan, hingga pelayanan teknik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Ini Prediksi Puncak Arus Balik di Pelabuhan Bakauheni Lampung
- Arus Balik 2025, Terjadi Peningkatan Jumlah Kendaraan di Tol Cipali
- Arus Balik Lebaran, Tol Semarang-Solo Bakal Dibikin Satu Arah Saat Kendaraan Menumpuk
- Libur Lebaran, Belasan Rumah TNI di Asrama Gajah II Terbakar
- Prison Break Sorong, Tujuh Narapidana Lapas Kabur dengan Melubangi Tembok Pakai Sendok Makan
Advertisement

Pembangunan Taman Budaya Sleman Terhambat Pemangkasan Anggaran
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Penjualan Tiket Bus Lebaran di Sukoharjo Lesu, Banyaknya PHK Diduga Jadi Penyebab
- Khofifah Minta Bos Maspion Pastikan Tidak Ada PHK di Jatim
- Pemerintah Jepang Keluarkan Peringatan Ancaman Gempa Dahsyat, Perkiraan Korban hingga 300 Ribu Orang
- Prison Break Sorong, Tujuh Narapidana Lapas Kabur dengan Melubangi Tembok Pakai Sendok Makan
- Korban Gempa di Myanmar Terperangkap Enam Hari, Diselamatkan Tim SAR Malaysia
- Gempa Myanmar, Pemerintah Pastikan Tidak Ada WNI yang Jadi Korban
- Libur Lebaran, Belasan Rumah TNI di Asrama Gajah II Terbakar
Advertisement
Advertisement