Advertisement

Harian Jogja

Mengenal Samin dan Gerakan Menolak Membayar Pajak

Edi Suwiknyo
Senin, 13 Maret 2023 - 10:17 WIB
Jumali
Mengenal Samin dan Gerakan Menolak Membayar Pajak Ajaran Saminisme dituangkan dalam Sedulur Sikep, memperlakukan sesama manusia sebagai saudara. - [email protected]_kepercayaan_adat

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Kisruh gaya hidup mewah pejabat pajak memunculkan sikap antipati dan ajakan untuk menolak membayar pajak.

BACA JUGA: Akal-Akalan Pajak Sudah Ada Sejak Zaman Belanda

Advertisement

BACA JUGA:  Tokopedia Bantu Perempuan Pelaku UMKM Memiliki NIB

Para pembayar pajak kecewa. Mereka tidak terima duit pajak yang dibayarkan digunakan untuk menyubsidi gaya hidup mewah pejabat pajak. Gaya hidup mewah itu telah meningkatkan antipati dan ujung-ujungnya memunculkan sikap pembangkangan sipil.

Sebagai pemungut pajak, seharusnya para fiskus menghindari gaya hidup mewah. Meskipun, semua orang tahu, gaji mereka di atas rata-rata. Para pejabat pajak, termasuk institusi di Kementerian Keuangan, juga perlu belajar dari masa lalu bahwa ketidakadilan pajak bisa menjadi senjata makan tuan.

Sejarah mencatat, ketidakadilan pajak di tengah musim paceklik ekonomi dan merebaknya wabah bisa memicu ketidakpuasan publik. Di Blora, daerah yang kaya dengan kayu jati, pada peralihan abad 19 ke abad 20 muncul sosok Samin Surosentiko. Samin adalah tokoh Sedulur Sikep.

Gerakan ini terkenal karena sikap mereka yang 'menolak' membayar pajak kepada pemerintah kolonial. Namun Samin melawan tidak mengangkat senjata. Dia menghindari kekerasan dan memilih melawan dengan cara menolak membayar pajak. Bagi Samin tanah, air dan kayu adalah milik semuanya. Tidak boleh terkonsentrasi dan dimonopoli oleh satu pihak.

Selain Samin, ketidakpuasaan rakyat terhadap kebijakan pajak kolonial dan tuan tanah juga terjadi di wilayah Banger, sekarang Probolinggo, Jawa Timur pada abad 19 silam.

****

Pertengahan tahun 1813, wilayah Banger (kini; Probolinggo) di daerah Tapal Kuda mencekam. Ribuan orang bergerak menyerang tuan tanah mereka. Han Tik Ko tewas oleh serangan petani yang tidak puas atas penjualan tanah dan kebijakan pajak yang terlampau tinggi.

Arsip-arsip kolonial mencatat Han Tik Ko adalah seorang tuan tanah. Dia berhak atas wilayah Banger setelah membelinya dari pemerintah Kolonial Belanda. Banger dijual oleh Gubernur Jenderal HW Daendels karena Belanda mengalami krisis finansial akibat blokade Inggris terhadap Jawa.

Nilai penjualannya mencapai 600.000 dolar Spanyol. Namun setelah dilakukan kesepakatan, nilainya melambung menjadi 1 juta dolar. Jumlah itu akan dicicil 20 kali oleh Han Tik Ko, atau 50.000 dolar sekali angsuran.

Transaksi pembelian itu kemudian mengubah struktur politik di wilayah Banger. Han Tik Ko tampil sebagai penguasa tunggal di wilayah tersebut. Sementara penguasa wilayah Banger sebelumnya, Tumenggung Jayadiningrat, dibuang ke Sedayu.

Sebagai tuan tanah Han Tik Ko mendapat gelar dari pemerintah Belanda sebagai Majoor Der Chinezen en Landheer Van Probolinggo atau Mayor China dan Tuan Tanah dari Probolinggo.

William Thorm, seorang pejabat Inggris, sebagaimana ditulis Sri Margana dalam Ujung Timur Pulau Jawa, 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan, mencatat tuan tanah ini telah mengubah lahan tidur menjadi lahan subur.

Produksi beras serta hasil alam lainnya yakni sarang burung menunjukan peningkatan yang cukup signifikan. “Dalam waktu relatif singkat, wilayah ini mampu menjadi salah satu daerah terkaya di Jawa”, tulis William dalam sebuah laporannya.

Namun demikian, kemakmuran tersebut rupanya menyembunyikan api dalam sekam. Penerapan pajak yang melebihi ukuran normal, bahkan lebih dari setengah hasil panen, meningkatkan kebencian rakyat Banger terhadap Han Tik Ko.

Sri Margana menyebut seorang pengawas Inggris P.A. Goldbach bahkan sampai mengeluarkan sebuah peringatan kepada Komisioner Sipil Inggris di Semarang, Huge Hope, supaya hati-hati dengan potensi kerusuhan di wilayah Banger.

Goldbach bercerita, di wilayah itu, para penggarap sudah mulai kehilangan kesabaran. Sedangkan kerabat mantan bupati yang terbuang, salah satu penguasa sawah terbaik di wilayah itu, juga menunjukan kebencian yang dalam terhadap Kapitan China.

****

Pertengahan Mei 1813 bibit kerusuhan mulai pecah. Pimpinan kelompok petani adalah Kyai Mas seorang Muslim dari wilayah Ampel, Surabaya. Dia bersama Demang Muneng dan 2.000 pengikutnya, bergerak menuju ke pusat kota Banger.

Pergerakan para petani sebenarnya sudah diketahui oleh para telik sandi Han Tik Ko. Namun dia seolah tak acuh dengan kabar tersebut. Sang Kapitan Cina masih larut dalam pesta dengan koleganya, para penguasa Britania Raya.

Singkat kata, Han Tik Ko baru sadar bahaya mulai mengintai ketika para petani mulai mendekat ke arah kota. Sontak, dia segera menyiapkan dua ratus anak buahnya yang dipersenjatai tombak.

Di sisi lain, para petani semakin mendekat ke rumah Han Kik Ko, sang Kapitan China. Perkemahan dibangun di sekitar perkebunan kopi.

Pergerakan para petani agak membuat ciut nyali Kapitan China. Dia akhirnya melunak. Han Tik Ko memerintahkan orang kepercayaannya berunding dengan para petani.

Ibarat nasi sudah menjadi bubur, bujukan dari utusan Kapitan China tak membuahkan hasil. Tak ada kesepakatan dalam perundingan tersebut. Bahkan ditengah proses perundingan, para petani melakukan serangan yang mematikan kepada juru rundingnya.

“Dengan didahului yel-yel yang mengerikan, pihak pemberontak mulai menyerang dan mengejar rombongan pengikut Tuan Tanah dan orang-orang Eropa tersebut”, tulis Margana menjelaskan kondisi saat itu.

Para juru runding langsung lari tunggang-langgang saat mendapat serangan mendadak. Mereka terpencar ke berbagai arah. Para petani yang berada di atas angin terus mengejar rombongan tersebut hingga memasuki kota Probolinggo tempat tinggal Han Tik Ko.

Pada hari berikutnya, serangan petani makin mendekati kediaman Kapitan China. Sekitar lima ribu orang merangsek mendekat rumah tersebut. Orang-orang yang berada di rumah itu seketika berhamburan. Mereka menyelamatkan diri.

Di tengah kondisi genting, serta ketidakjelasan informasi, muncul kabar bahwa Kapitan China beserta tiga orang Eropa telah tewas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bisnis

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja
Baca Koran harianjogja.com

Advertisement

alt

Ramadan, Okupansi Hotel di Bantul Anjlok 30 Persen

Bantul
| Kamis, 23 Maret 2023, 14:27 WIB

Advertisement

alt

Pesta Daging Iftar Ramadan di Horison Ultima Riss Malioboro Yogyakarta

Wisata
| Senin, 20 Maret 2023, 18:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement