Advertisement

Ini Makna Tari Soledo yang Akan Jadi Atraksi Budaya Baru di Borobudur

Nina Atmasari
Jum'at, 12 Agustus 2022 - 21:27 WIB
Nina Atmasari
Ini Makna Tari Soledo yang Akan Jadi Atraksi Budaya Baru di Borobudur Konferensi pers launching Tari Soledo Gelangprojo di Borobudur, Jumat (12/8/2022). - Harian Jogja/Nina Atmasari

Advertisement

Harianjogja.com, MAGELANG- Tari Soledo Gelangprojo yang diinisiasi oleh Badan Otorita Borobudur (BOB) sarat makna dan bisa menjadi sarana edukasi. Tari ini merupakan kolaborasi tari Soreng dari Kabupaten Magelang, Lengger Tapeng dari Kulonprogo (DIY) dan Dolalak dari Purworejo.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan  Pariwisata Kabupaten Magelang Slamet Ahmad Husein menjelaskan soreng adalah salah satu kebudayaan asli Kabupaten Magelang yang menjadi objek pemajuan kebudayaan di sektor tari berdasarkan pokok pemikiran kesenian daerah Kabupaten Magelang.

“Soreng pada zaman dahulu adalah tari keprajuritan, setelah tahun 1960-an masih dengan keprajuritan tetapi ditambah sendratari sehingga ada penambahan tokoh-tokoh. Soreng berkembang baik di Kabupaten Magelang setelah dipentaskan di Istana Negara tahun 2019,” katanya, dalam konferensi pers, di Borobudur, Jumat (12/8/2022).

Baca juga: Cocok! Pengunjung Bisa Menikmati Seafood Murah di Pantai Ngrenehan

Untuk pengembangan Soledo Gelangprojo ini, instansinya telah menyiapkan diseminasi. Pengembangan tari ini tidak ke sanggar tetapi ke MGMP guru kesenian dan penarinya adalah siswa sehingga bisa mengawal lebih lanjut. Ia yakin tarian baru ini akan menambah atraksi budaya di kawasan pariwisata Borobudur.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Purworejo, Stephanus Aan Isa Nugroho mengatakan tari dolalak adalah salah satu dari kekayaan di Purworejo yang sudah punya HAKI sebagai warisan budaya tak benda.

“Dolalak cukup tenar di Purworejo. Pada 1930 pernah ada festival dolalak di Alun-Alun Purworejo. Dolalak berkembang di berbagai daerah tapi kami munculkan sebagai simbol yang gerak dan langkahnya disiplin seperti serdadu, dengan nada solawat, nada do dan la. Mudah-mudahan soreng lengger dolalak jadi kekayaan baru yang dimiliki tiga daerah, tidak ada sekat utk mencapai kemakmuran wilayah otoritatif di Borobudur,” katanya.

Baca juga: Dukung Industri Kreatif, JNE Berkolaborasi dengan Seniman Yogyakarta

Adapun Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo, Joko Mursito menambahkan soreng dan dolalak dimainkan oleh seniman laki-laki. “Lengger tapeng adalah tari pergaulan atau berpasangan, ada unsur keputrian,” katanya.

Tari Soledo Gelangprojo ini akan diiringi musik yang keras sehingga bisa didengar meski tanpa sound system. Nantinya jika tarian ini jadi penyambutan di tiga daerah, maka bisa dimainkan di manapun. Musiknya keras, bahkan musik tanpa tarian pun sudah bisa dinikmati. Durasi aslinya 12 menit tapi bisa dipanjangkan, di tengah ada slot untuk kibing, tetapi inti tari tidak hilang.

Advertisement

Pelaksana tugas Direktur Utama Badan Otorita Borobudur, Agustin Paranginangin mengatakan Soledo Gelangprojo adalah usaha bersama. “Mudah-mudahan tarian ini bisa menjadi ikon baru ketika wisatawan datang ke destinasi di Borobudur. Jadi saat wisatawan datang ke Borobudur tidak hanya naik ke candi tetapi juga mencari ilmu. Setelah launching masih didiseminasi, diperbanyak. Setiap desa wisata ada yang bisa tarikan semua ini,” katanya.

Tari Soledo Gelangprojo akan dilaunching secara kolosal oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno pada Senin (15/7/2022) di Marga Utama Candi Borobudur. Tarian ini akan melibatkan 108 penari dan 48 pengrawit (pemain gamelan) dari tiga daerah tersebut.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

alt

Ada 3 Titik Banjir saat Hujan Deras di Jogja Sore Ini, Motor Ojol Hanyut

Jogja
| Minggu, 02 Oktober 2022, 19:17 WIB

Advertisement

alt

Perhatian! Sewa Jip di Tebing Breksi Bakal Naik Rp50.000 Mulai 1 November 2022

Wisata
| Minggu, 02 Oktober 2022, 18:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement