Anggaran Paskibraka Jateng Dipangkas, Kuota Tetap 45 Orang
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Ilustrasi. /Solopos-Sunaryo Haryo Bayu
Harianjogja.com, BOYOLALI — Belasan ibu-ibu di Lereng Merbabu, tepatnya di RT 002/RW 001 Dukuh Selo Tengah, Desa Selo, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali berjalan menuju jalanan kampung setempat, Minggu (31/7/2022). Di tangan kanan, mereka menenteng ember dan sabun cuci untuk melaksanakan tradisi cuci bendera.
Sesampai di jalan kampung, mereka berjejer paralel mencuci bendera Merah Putih bersama. Beberapa dari mereka dibantu anak-anak dan suami, sisanya mencuci sendiri.
Terlihat salah satu lelaki berjaket tebal hitam dan bertopi menyiramkan air dari kendi ke bendera satu menuju bendera lainnya. Lelaki tersebut bernama Sabar. Ia adalah ketua RT 002 Dukuh Selo Tengah.
“Kegiatan ini bertujuan mengenang para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan 17 Agustus. Kami sama-sama mencuci bendera Merah Putih, ini rutin setiap tahun,” jelas Sabar kepada wartawan seusai acara cuci bendera.
Ia mengungkapkan kegiatan sengaja dilaksanakan di jalanan kampung guna menjaga kekompakan warga di tempatnya. Ia juga mengatakan anak-anak sengaja diajak dalam kegiatan tersebut.
“Anak-anak juga dilibatkan agar nanti generasi penerus kami dapat mengikuti apa yang kami lakukan dan mencintai negara Indonesia,” kata dia.
Salah satu tokoh masyarakat, Suyitno, turut mengikuti kegiatan mencuci bendera. Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang bulan Agustus. Tradisi mencuci bendera Indonesia di daerahnya telah dimulai sejak lama.
“Mungkin sejak kemerdekaan. Soalnya dari saya kecil, tradisi cuci bendera Merah Putih menjelang bulan Agustus itu sudah ada. Jadi bendera kami cuci untuk menghormati NKRI [Negara Kesatuan Republik Indonesia],” jelas dia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan tentang filosofi kendi yang dipakai untuk mencuci bendera. Suyitno mengungkapkan kendi terbuat dari tanah berwarna merah dan diisi dengan air yang putih.
Menurut Suyitno, kendi yang berisi air seusia dengan wujud bendera Merah Putih Indonesia. Ia mengatakan merahnya kendi berarti berani dan putihnya air berarti suci.
“Merah dalam bendera kita berarti berani, sedangkan putih berarti suci. Itu filosofinya,” kata dia.
Setelah dicuci, Suyitno mengatakan kegiatan akan dilanjutkan dengan mengeringkan bendera. Saat sudah kering, bendera dipasang di depan rumah masing-masing warga.
“Harapannya, kegiatan ini nantinya bisa dilanjutkan oleh anak-anak kami sebagai bukti cinta Tanah Air. Apapun dilakukan untuk NKRI dan ini yang bisa kami lakukan untuk menunjukkan nasionalisme. Intinya Indonesia jangan sampah terpisah-pisah dan NKRI harga mati,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Baznas Kulonprogo telah menyalurkan 40 tangki air bersih ke 11 titik kekeringan. Sebanyak 200 tangki disiapkan selama musim kemarau.
Bareskrim mengungkap MV King Sun tiga kali menyelundupkan ketamin. Pengiriman ke Indonesia sebanyak 1.298 kg berhasil digagalkan.
KPK belum menahan Yuddy Renaldi dalam kasus dugaan korupsi iklan Bank BJB karena mempertimbangkan kondisi kesehatannya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 14 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Karhutla Gunung Bromo di kawasan TNBTS berhasil dipadamkan. Luas area terbakar mencapai 1.120 hektare di empat kabupaten.