Advertisement

Catatan Perjalanan di Negeri Paman Sam: The American Dream, Mimpi Amerika

Arif Budisusilo
Senin, 11 April 2022 - 05:27 WIB
Budi Cahyana
Catatan Perjalanan di Negeri Paman Sam: The American Dream, Mimpi Amerika Presiden Direktur Harian Jogja Arif Budisusilo (dua kiri) bersama Dubes Rosan P Roslani (tengah) di Griffith Observatory, Los Angeles yang ramai dikunjungi turis. - Harian Jogja/Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, LOS ANGELES—Pada 25 Maret hingga 1 April lalu, Presiden Direktur Harian Jogja Arif Budisusilo diundang oleh Garibaldi 'Boy' Thohir, Presdir Adaro Energy Tbk, berkunjung ke Los Angeles, AS. Selain menghadiri peresmian masjid At-Thohir di LA, kunjungan tersebut juga bermaksud melihat dari dekat perkembangan mobil listrik Tesla, Lucid, dan Toyota Mirae, serta sejumlah agenda lain, berkaitan dengan transformasi Grup Adaro menuju green industry dan green energy. Berikut catatan perjalanannya.

Baru kali ini saya merasa deg-degan ketika bertugas keluar negeri. Bukan apa-apa. Persyaratan perjalanan mengharuskan tes PCR 1x24 jam sebelum jam keberangkatan pesawat. Betapa tidak deg-degan. Meskipun badan merasa sehat, tidak memiliki gejala spesifik seperti batuk, pilek dan demam, banyak kasus Covid varian Omicron sejak akhir tahun lalu terjadi tanpa gejala. Banyak teman merasa badan tidak mengindikasikan gejala apa-apa, eh begitu tes PCR hasilnya positif.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

BACA JUGA: Supriyadi dan Semerbak Tebaran Stroberi di Bibir Gajah Wong

Itulah yang membuat saya deg-degan saat menunggu hasil tes PCR sebelum berangkat ke Los Angeles, Amerika Serikat. Atas bantuan Dokter Wisnu, Direktur RS JIH Solo, dan Mbak Listria, Manajer Penunjang RS JIH, saya menjalani tes PCR pada Rabu pagi (23 Maret). Perasaan saya begitu lega, tatkala menerima pemberitahuan hasil tes PCR via whatsapp, hasil tes tersebut negatif.

Namun, tes pada 23 Maret ternyata tidak bisa dipakai sebagai syarat perjalanan. Sudah lebih dari 24 jam. Terpaksa tes lagi 24 pagi sebelum berangkat ke Jakarta, mengingat jadwal keberangkatan dari Soekarno-Hatta adalah pukul 7.00 WIB esok harinya. Saya kembali lega karena hasilnya negatif.

Maka, dengan penerbangan Japan Airlines, saya bersama rombongan, yang dipimpin Garibaldi 'Boy' Thohir, terbang ke LA. Kami transit di bandara Narita, Tokyo. Penerbangan JL-720 Jakarta-Narita makan waktu sekitar 6,5 jam. Lanjut dengan penerbangan JL-062 ke bandara LAX di Los Angeles sekitar 9,5 jam.

Relatif enggak terlalu lama, karena LA terletak di pantai barat Amerika. Berbeda dengan New York dan Washington DC yang terletak di pantai timur yang lebih jauh. Namun lazimnya apabila terbang langsung ke New York, penumpang dari Indonesia memilih tidak transit via Jepang. Umumnya via Dubai, Uni Emirat Arab,  atau Frankfurt, Jerman, untuk menyingkat waktu.

Kami mendarat di LAX sekitar pukul 11.00, Jumat siang, waktu setempat. Saat kami mendarat, di Jogja sudah tengah malam, bahkan Sabtu dini hari. Kesan pertama, salah satu bandara terbesar dan tersibuk di Amerika itu tidak terlalu ramai, meski juga tidak bisa dibilang sepi. Mobilitas manusia sudah tampak padat.

Setelah resmi masuk Amerika melalui imigrasi, dan berkemas masuk mobil van menuju kota LA, kesan yang muncul adalah "kebebasan". Di sepanjang perjalanan, saat menatap situasi di luar kendaraan, kebanyakan orang sudah tidak pakai masker.

Pemerintah Amerika memang sudah membebaskan warganya dari kewajiban protokol kesehatan. Kami bisa menyaksikan, di berbagai tempat keramaian, terutama di kafe-kafe dan tempat makan, orang bebas berkerumun dan tidak memakai masker.

Terus terang, saya kembali deg-degan. Pasalnya, ini adalah perjalanan pertama ke luar negeri sejam pandemi Covid-19. Masih kikuk rasanya, berpapasan dengan orang asing yang enggak kita kenal. Tanpa masker. Dan dalam kerumunan.

Di kafe tempat nongkrong banyak orang, tempat duduk berdesakan dan berkerumum tanpa masker. Saya melihatnya aneh, tapi barangkali mereka melihat rombongan kami yang bermasker justru aneh.

Beverly Hills

Sesampai di hotel, setelah check-in, kami langsung jalan-jalan sebentar sembari ngabuburit menunggu jadwal makan malam. Setelah dinner dengan menu masakan Thailand yang maknyus, saya bisa tidur di Le Parc Suite Hotel dengan cukup lelap, karena hampir tidak merasakan jetlag.

Saya memang sengaja banyak tidur di pesawat dalam dua penerbangan tersebut.

Paginya, bangun pukul 6.00 dan langsung salat Subuh dengan kebingungan karena info awal waktu Subuh adalah jam 7.00,  ternyata jam 6.00. Setelah itu, bersama Om Whay, panggilan akrab Wahyu Muryadi—Komisaris Independen Hutama Karya Tbk, dan Stafsus Menteri Kelautan dan Perikanan, serta Arifin Asdhad, Pemimpin Redaksi dan Direktur Kumparan, kami jalan kaki bertiga.

BACA JUGA: Ini 5 Negara yang Tidak Punya Bandara

Enggak terasa jalan kaki selama satu jam membawa kami ke Beverly Hills, kompleks perumahan orang-orang top dan para pesohor Hollywood. Dan orang-orang top dari seluruh dunia. Orang Indonesia yang memiliki rumah di Beverly Hills termasuk di antaranya Boy Thohir, pemilik Group Adaro. Rosan P. Roslani, Mantan Ketua Umum Kadin Indonesia yang kini menjabat Dubes di Amerika, pernah pula memiliki rumah di kawasan para pesohor dunia itu.

Setelah berfoto-foto dan saling bantu foto, kami kembali ke hotel karena pukul 9.00 harus berangkat mengikuti agenda resmi perjalanan. Hotel tempat kami menginap, Le Parc Suite, itu memang berada di titik strategis ke mana-mana, meski berlokasi dalam lingkungan perumahan (apartemen).

Manajemen hotel ini mengklaim sebagai tempat beristirahat yang apik dan bergaya bagi para pembuat tren dan orang-orang canggih. Banyak musisi papan atas dunia dan selebritas papan atas yang pernah check-in di hotel tersebut. Beberapa langkah dari hotel dengan mudah bisa dijumpai tempat perbelanjaan, dan makan, serta live music yang glamor di Los Angeles.

Farhat, salah satu Direktur di Le Parc Suite Hotel, bercerita sejumlah artis Indonesia pernah menginap di hotel tersebut. Luna Maya adalah satu nama artis yang disebutnya. Farhat kebetulan berasal dari Jakarta. Dia mengaku sudah 30 tahun bermukim di Amerika, dan tinggal di LA, yang menurutnya memiliki iklim dan cuaca relatif lebih nyaman dibandingkan bagian Amerika yang lain. Namun demikian, Farhat bertutur kepada saya, setelah pensiun dia ingin kembali ke Indonesia menikmati masa tuanya.

Economic of Scale

Los Angeles adalah kota turis dan selebritas. Saat sightseeing di hari pertama tiba di kota itu, enggak tahunya kami sampai di suatu tempat yang ternyata adalah Hollywood Boulevard. Banyak turis yang berdatangan untuk sekadar foto-foto dan barangkali juga belanja.

Di salah satu kawasan itu, terlihat suasana ramai di seputar Dolby Theatre, tempat penyerahan Piala Oscar 2022 pada Minggu (27/3/2022) atau Senin siang waktu Indonesia. Di depan Dolby Theatre itu sudah digelar karpet merah yang masih tertutup plastik. Posisinya sepanjang koridor Hollywood Boulevard, di mana para artis turun dari mobil, hingga menuju Dolby Theatre tempat penyerahan Piala Oscar oleh Academy Award.

Menjelang penyerahan Piala Oscar 2022 itu, saya mendapati fakta banyak turis yang datang entah sekadar berfoto atau berbelanja di seputar Hollywood Boulevard. Suasananya memang relatif ramai, bahkan tak kalah heboh dengan panggung Piala Oscar 2022 yang ternyata sempat diwarnai tragedi pemukulan komedian Will Smith pada presenter Chris Rock.

BACA JUGA: 8 Negara di Dunia yang Punya Durasi Puasa Paling Pendek

Dari situ saya belajar, Los Angeles dengan gegap gempita Hollywood related industry-nya, bukan saja tersohor. Namun, terbukti bahwa kecanggihan dalam mengemas storytelling industry ke dalam berbagai aspek kehidupan dan kebutuhan manusia (baca konsumen) keseharian, telah menjadi motor penggerak ekonomi yang luar biasa. Dan juga konsumsi yang luar biasa, sehingga Amerika cepat sekali pulih dari pandemi.

Catatan saya, data ekonomi AS sangat mengesankan. Tumbuh 7% pada 2021 lalu, angka yang bahkan jauh lebih tingi dari tingkat pertumbuhan ekonomi sebelum pandemi Covid-19. Pada tahun ini, perkiraan awal ekonomi AS akan tumbuh 4%, kemudian dipangkas menjadi 2,8% karena risiko inflasi dan dampak perang di Ukraina. Kendati demikian, level itu masih berada di atas pertumbuhan sebelum pandemi yang umumnya di kisaran 2%.

Mantan Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat, Budi Bowoleksono yang menyertai rombongan menyebutkan di Los Angeles dan Amerika pada umumnya, mobilitas manusia dengan segala aktivitasnya menjadi hidup dan feasible bagi bisnis, karena telah memiliki economic of scale sejak lama.

Dalam kacamata Dubes Sonny, begitu panggilan akrabnya, dasar economic of scale yang kuat itulah yang menjadikan pasar di Amerika begitu kuat. Tak tergoyahkan oleh aneka krisis dan gonjang-ganjing yang menimpa ekonomi dunia.

Dalam perspektif Boy Thohir, posisi sebagai negara kaya membuat daya beli warga Amerika tinggi. Ini seperti lingkaran viral, di mana negara yang maju dan kaya, akan membuat produk perusahaan terserap pasar karena daya beli yang tinggi. Apalagi dibanjiri turis-turis dari berbagai penjuru dunia, yang pasti berdaya beli pula.

Dan yang tampak di depan mata, meski belum sepenuhnya pulih dari pandemi Covid-19, setiap masuk ke kafe dan pergi makan malam, harus selalu antre untuk mendapatkan tempat duduk. Bahkan di tempat-tempat makan yang maknyus dan mahal sekalipun.

Barangkali, itulah yang disebut The American Dream, mimpi Amerika. Mimpi ini semestinya bisa pula menular ke Indonesia. (Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 2 Februari 2023

Jogja
| Kamis, 02 Februari 2023, 04:57 WIB

Advertisement

alt

Seru! Ini Detail Paket Wisata Pre-Tour & Post Tour yang Ditawarkan untuk Delegasi ATF 2023

Wisata
| Rabu, 01 Februari 2023, 14:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement