Minat Perjalanan Saat Nataru Rendah

Apel Pembukaan Posko Terpadu Natal dan Tahun Baru 2019 di area Pelataran Gedung PKP-PK Bandara Internasional Adisutjipto, Kamis (20/12/2018). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
24 Desember 2021 21:17 WIB Anitana Widya Puspa News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengklaim minat masyarakat melakukan perjalanan pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) lebih rendah dibandingkan dengan Idulfitri.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Jalan dan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Eddy Gunawan menyampaikan ada sejumlah alasan dibalik penurunan ini. Salah satunya adalah karena kondisi cuaca dan pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

"Banyak faktor yang menyebabkan minat turun, yaitu karena cuaca ekstrem sampai kepercayaan diri masyarakat bahwa lebih baik tidak melakukan pergerakan. Banyak juga sekolah yang diubah aktivitasnya sehingga terjadi penundaan perjalanan,” ujarnya dalam diskusi Masyarakat Transportasi Indonesia dikutip, Jumat (24/12/2021).

Sebagai perbandingan, merujuk kepada survei Kemenhub ada sebanyak 7 persen atau sekitar 11 juta orang masyarakat Indonesia berpotensi melakukan perjalanan pada akhir tahun.

Sedangkan masyarakat Jabodetabek yang bepergian dari Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, dan Tangerang sebabyak 2,8 juta orang. Sementara itu survei Kementerian Perhubungan pada Mei 2021 menunjukkan masyarakat yang minat bepergian mencapai 18 juta orang saat libur lebaran.

Meski demikian, Pemerintah tetap mengantisipasi potensi melonjaknya anhka kasus Covid-19 setelah libur panjang akhir tahun.Salah satunya dengab memperketat pengawasan di titik-titik simpul angkutan umum, seperti terminal sampai pelabuhan penyeberangan. Sementara itu, rencana skenario lalu-lintas ganjil genap akan diterapkan secara situasional apabila kemacetan kendaraan sudah  Eddy mengklaim pada dasarnya pengawasan terhadap disiplin protokol kesehatan di simpul-simpul transportasi telah membaik.

Adapun sebagaimana diketahui, secara historis, periode liburan selalu mendorong kenaikan kasus Covid-19. Satu hal yang dikhawatirkan pada akhir tahun ini adalah lonjakan kasus Covid-19 di tengah adanya varian Omicron setelah kasus positif di Indonesia berada dalam status landa dalam beberapa waktu terakhir.

 

Sumber : bisnis.com