Advertisement
Perkuat Etika Penelitian Kesehatan, UGM Jadi Tuan Rumah FERCAP 2021
Tim Penyelenggara FERCAP 2021 melakukan jumpa pers persiapan FERCAP 2021 di FK-KMK UGM, Selasa (7/12/2021). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Pandemi yang memunculkan banyak inovasi dan pengembangan vaksin atau obat baru Covid-19 meningkatkan tantangan. Pengembangan vaksin dan obat harus aman dan sesuai prosedur. Merespons kondisi tersebut, belasan negara akan bergabung dalam Forum for Ethical Review Commitees in Asian & Western Pacific Region (FERCAP) 2021.
Untuk pertama kalinya, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi tuan rumah penyelenggaraan FERCAP 2021. Agenda yang dijadwalkan terselenggara 8-11 Desember mendatang akan menjadi forum diskusi antara komisi-komisi etik penelitian di bidang kesehatan di Asia dan Pasifik Barat.
Advertisement
Perwakilan Tim Penyelenggara FERCAP 2021 Arief Budiyanto menuturkan agenda ini bertujuan untuk membuat komisi-komisi etik di wilayah Asia dan Pasifik Barat memiliki standar internasional yang sama. Kegiatan ini salah satunya akan merespons pandemi yang banyak memunculkan berbagai pengembangan baru.
"SARS-CoV-2 baru muncul tahun 2020, lalu tahun 2020 juga muncul vaksin, di tahun itu baru muncul semuanya. Vaksin itu biasanya pengembangannya butuh bertahun-tahun, tapi karena pandemi ini darurat semuanya harus cepat. Komisi etik butuh me-review vaksin baru dan pengembangan baru ini dalam waktu cepat, sembari memastikan kualitasnya," kata dia dalam jumpa pers di FK-KMK UGM, Selasa (7/12/2021).
FERCAP merupakan salah satu forum internasional yang didirikan di Bangkok, Thailand pada 12 Januari 2000 untuk meningkatkan pemahaman dan implementasi pengkajian etika penelitian yang melibatkan subyek manusia di wilayah Asia dan Pasifik Barat. Pelibatan subjek manusia ini perlu dipastikan metodologinya apakah sesuai etika penelitian atau tidak.
Anggota tim penyelenggara FERCAP 2021 Tri Wibawa menambahkan penelitian perlu dipastikan metodologinya sebelum dilakukan dan melibatkan masyarakat luas. Hal itu yang perlu dilakukan komisi etik penelitian untuk melakukan review.
“Tiwas [telanjur] sudah melibatkan banyak orang, ternyata metodologinya enggak benar, ini enggak etis. Kami komisi etis memastikan orang-orang yang terlibat dalam penelitian itu minim risiko," kata dia.
Sementara itu, Dekan FK-KMK UGM Ova Emilia berharap forum ini bisa mengedukasi institusi yang memiliki komisi etik agar bisa terstandar. Komisi etik menurutnya harus memiliki kualitas yang baik dan tidak abal-abal.
"FERCAP memberikan standar yang tinggi baik prosedur atau tata caranya agar makin banyak institusi penelitian yang tahu hal ini [etik] dan bergabung, sehingga bisa melindungi subjek penelitian dan orang-orang yang terlibat penelitian," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis
Advertisement
Berita Populer
- Prediksi Skor Real Madrid vs Bayern Perempat Final Liga Champions
- Banyak Tak Sadar Kekurangan Vitamin Ini Bisa Picu Risiko Diabetes
- Makan Bersama Jadi Cara Unik Cegah Stunting di Gowongan
- Dukuh Gugat ke PTUN Seusai Dicopot, Warga Seloharjo Bela Lurah
- Menkeu Tegaskan Kebijakan BBM Subsidi Atas Arahan Presiden
- OPINI: Demam Live Shopping dan Ilusi Pilihan Konsumen di Indonesia
- Baliho Aku Harus Mati Disorot IDAI, Bisa Berdampak pada Mental Remaja
Advertisement
Advertisement






