Klaten Siaga Darurat Bencana Banjir

Ilustrasi banjir - Harian Jogja/Dok.
12 November 2021 00:37 WIB Taufik Sidik Prakoso News Share :

Harianjogja.com, KLATEN—Pemerintah Kabupaten Klaten menetapkan status siaga darurat bencana banjir, gerakan tanah, dan angin puting beliung per 1 November 2021 hingga 30 April 2022.

Daerah rawan terutama berada pada tepian sungai. Penetapan status itu berdasarkan surat keputusan yang ditandatangani Bupati Klaten, Sri Mulyani. “SK sudah ditandatangani memang perkiraan musim hujan berlangsung seperti yang ada di SK tersebut,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Sip Anwar, saat ditemui di Pendopo Pemkab Klaten, Kamis (11/11/2021).

Soal daerah rawan banjir, Sip Anwar mengatakan berada di desa-desa tepian anak Sungai Bengawan Solo salah satunya Sungai Dengkeng. Desa-desa itu tersebut kebanyakan berada di sisi selatan Kabupaten Klaten. “Dari barat ke timur seperti Kecamatan Gantiwarno, Wedi, Bayat, Trucuk, Cawas, Karangdowo. Mudah-mudahan tidak sapai terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya,” jelas dia.

Soal penyebab banjir, Sip Anwar menuturkan ada banyak faktor di antaranya faktor sampah hingga pendangkalan sungai. “Kami sudah berkoordinasi dengan BBWSBS [Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo]. Tetapi memang untuk menuntaskan pengerukan sedimentasi membutuhkan anggaran besar dan itu menjadi kewenangan di bawah BBWSBS,” jelas dia.

Terkait dengan upaya antisipasi ancaman bencana yang bisa terjadi sepanjang musim hujan, Sip Anwar menuturkan seluruh peralatan sudah disiagakan seperti gergaji mesin serta perahu untuk evakuasi. Selain itu, BPBD sudah berkoordinasi dengan seluruh potensi sukarelawan yang tersebar di berbagai daerah.

Sip Anwar juga mengatakan pemkab berencana mencanangkan kegiatan gotong royong serentak saban Jumat. Kegiatan itu bakal digulirkan di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) hingga pemerintah desa. Pencanangan kegiatan tersebut bakal dilakukan dalam waktu dekat. Kegiatan tersebut digulirkan salah satunya untuk meminimalisasi potensi banjir akibat tumpukan sampah liar di saluran air. “Rencananya dilakukan setiap Jumat dengan menggerakkan seluruh OPD, camat, kepala desa, serta RT/RW. Tetapi untuk di tingkat lingkungan masyarakat tentu menyesuaikan tetapi diharapkan bisa dilakukan secara rutin,” ungkap dia.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Rujedi Endro Suseno, mengatakan banjir akibat luapan air sungai sering terjadi di wilayah Cawas, Bayat, Gantiwarno, Wedi, Truuk, Karangdowo, dan Wonosari. “Antisipasi dari semua OPD sudah menyiapkan sesuai tugas masing-masing dalam antisipasi bencana. Sementara, desa dan sukarelawan juga sudah ada yang melakukan kegiatan gotong royong bersih-bersih untuk meminimalisasi terjadinya banjir dan angin puting beliung,” ungkap dia.

Sementara itu, hujan dengan intensitas sedang mengguyur wilayah Klaten sejak Kamis dini hari hingga sekitar pukul 10.30 WIB. Guyuran hujan di wilayah Klaten hampir merata. Kondisi itu menyebabkan tinggi permukaan air Sungai Dengkeng meningkat. Hingga Kamis sore tak ada perkampungan atau desa yang dilaporkan kebanjiran. Namun, sampah banyak menumpuk terutama di sejumlah bendungan sepanjang Sungai Dengkeng, seperti di Dam Talang,  Bayat serta Dam Pelangi, Balak, Cawas. Sampah yang menumpuk terutama di pintu air rata-rata potongan kayu. Kondisi itu biasa terjadi ketika debit air sungai tersebut meningkat untuk kali pertama ketika musim hujan. “Saat hujan pertama itu sampah dari wilayah hulu banyak ikut aliran. Biasanya sampah kayu-kayu. Memang biasa terjadi,” kata Ketua Komunitas Sekolah Sungai Peduli Pelangi, Desa Balak, Kecamatan Cawas, Wijiyanto.

Wijiyanto mengatakan ketika musim hujan tiba, banyak sukarelawan yang siaga terutama di kawasan dam guna memantau perkembangan ketinggian muka air. Tak terkecuali komunitas Sekolah Sungai Peduli Pelangi, Desa Balak. “Tadi [kemarin] juga banyak teman-teman yang pantauan di Jembatan Pelangi. Harus membersihkan sampah yang menumpuk di pintu-pintu air. Di Jembatan Pelangi pintu air sisi tengah rusak, tidak bisa dibuka. Kami sudah laporkan ke DPUPR Klaten,” jelas dia.

Sumber : JIBI/Bisnis.com