Setahun Merapi Siaga, Warga KRB III Tetap Tenang dan Santai, Jalur Evakuasi Makin Rusak

Luncuran awan panas Gunung Merapi menuju hulu Sungai Krasak sekitar pukul 12.44 WIB terlihat dari Kawasan Turi, Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Kamis (7/1/2021). - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
06 November 2021 07:07 WIB Ponco Suseno News Share :

Harianjogja.com, KLATEN—Aktivitas Gunung Merapi berada pada level Siaga tepat setahun, Jumat (5/11/2021) kemarin. Warga yang tinggal di daerah rawan bencana erupsi Merapi diminta tetap siaga mengantisipasi potensi erupsi Merapi yang masih terjadi.

Pada 5 November 2020, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengumunkan tingkat aktivitas Merapi berada pada level siaga dari sebelumnya level waspada. Daerah rawan bahaya erupsi Merapi di wilayah Klaten tersebar di tiga desa Kecamatan Kemalang yakni Desa Balerante, Sidorejo, dan Tegalmulyo.

Salah satu warga Dukuh Mbangan, Desa Sidorejo, Sukiman, menjelaskan di Sidorejo ada tiga kampung yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) III erupsi Merapi yakni Dukuh Petung, Dukuh Mbangan, serta Dukuh Ngemplak. Jumlah warga di tiga kampung itu sekitar 600 orang.

Secara umum, kondisi warga setahun terakhir tetap santai dan tenang meski tingkat aktivitas Merapi masih bertahan pada level siaga. Warga tetap beraktivitas biasa seperti mencari rumput untuk pakan ternak.

Sukiman menjelaskan aktivitas Merapi mengeluarkan lava pijar maupun awan panas setahun terakhir relatif ke arah barat dan barat daya atau tidak mengarah ke wilayah Klaten. Hujan abu dari aktivitas Merapi juga pernah mengguyur wilayah Sidorejo namun hujan abu tipis. “Secara umum warga masih tenang dan biasa,” kata Sukiman saat berbincang dengan JIBI, Jumat (5/11/2021).

Meski tenang dan biasa, Sukiman memastikan warga yang tinggal di KRB III tetap waspada terhadap ancaman erupsi Merapi. Dia mencontohkan rekomendasi radius daerah yang dilarang yakni radius 3 km dari puncak Merapi tetap dipatuhi warga.

Selain mematuhi rekomendasi daerah bahaya, Sukiman menjelaskan kewaspadaan yang dilakukan warga yakni dengan tetap menyimpan surat dan benda berharga serta perlengkapan lainnya dalam satu tas siaga bencana. Kewaspadaan lainnya yakni masih tetap mempertahankan konsep paseduluran keluarga. Kosep yang dimaksud yakni menyiapkan tempat mengungsi di rumah keluarga yang tinggal di daerah aman dari erupsi Merapi.

Kendala utama warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap erupsi Merapi yakni kondisi jalur evakuasi yang semakin rusak. Jalur evakuasi utama yang menghubungkan Kaliwuluh-Deles hingga kini kian rusak parah terutama di depan Pesanggrahan Paku Buwono X. Jalur evakuasi alternatif yang melintasi jalan di tengah kampung kini juga mulai rusak seiring banyaknya truk pengangkut material galian C yang melintas pada ruas jalan tak sesuai kelasnya.

Warga yang tinggal di daerah rawan bahaya erupsi Desa Tegalmulyo juga dipastikan hingga kini masih tenang serta beraktivitas seperti biasa. “Aktivitas masih seperti biasa, tidak terpengaruh status siaga yang sudah dari dulu. Kemudian aktivitas wisata kuliner dan warung di atas tetap buka seperti biasa. Jadi sama sekali tidak terpengaruh,” kata salah satu Sukarelawan Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Purnama.

Purnama mengatakan sekitar 128 keluarga tinggal di kampung yang masuk KRB III meliputi Dukuh Canguk, Sumur, dan Pajegan. Meski tenang dan beraktivitas seperti baisa, Purnama memastikan hingga kini warga tetap waspada terhadap potensi ancaman erupsi.

Seperti tetap mempertahankan gedung serba guna di depan kantor desa setempat sebagai tempat evakuasi sementara (TES). Saat awal-awal Merapi ditetapkan pada status siaga, sebagian warga terutama kelompok rentan dari KRB III mengungsi ke TES tersebut saban malam. Namun, pada Februari 2021, warga mulai menetap kembali dan tinggal di rumah mereka masing-masing. “TES sampai saat ini stand by dan sebagian besar [sekat], belum dibongkar,” kata Purnama.

Kaur Perencanaan Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Jainu, menjelaskan warga beraktivitas seperti biasa namun tetap menjaga kewaspadaan mereka terhadap ancaman erupsi Merapi. Dia menjelaskan ada 450 warga yang tinggal di KRB III wilayah Balerante. “Sekarang ini aktivitas warga seperti biasa layaknya kondisi Merapi normal,” tutur dia.

Sebagian warga yang tinggal di KRB III Desa Balerante saat awal penetapan status siaga setahun lalu sempat mengungsi di TES berlokasi di gedung serba guna desa serta eks gedung SD. Hingga pada Februari 2021, warga memilih pulang ke rumah mereka masing-masing. Meski tak ada lagi warga yang mengungsi, TES tetap dipertahankan.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Nur Tjahjono Suharto, menjelaskan hingga kini tingkat aktivitas Gunung Merapi masih bertahan pada level siaga. Nur mengakui guguran awan panas maupun lava pijar masih aktif meluncur dari puncak Merapi. Namun, arah luncuran masih cenderung ke barat dan barat daya, atau tak mengarah ke wilayah Klaten yang berada di tenggara Merapi. Dampak hujan abu dari aktivitas Merapi ke wilayah Klaten hingga kini relatif tipis. “Untuk wilayah Klaten sampai saat ini masih mandali [aman dan terkendali],” kata Nur.

Meski terhitung masih aman dari dampak guguran lava pijar, awan panas, maupun hujan abu, Nur menegaskan upaya kesiapsiagaan terhadap ancaman erupsi tetap dipertahankan. Dia mencontohkan seperti tiga selter pengungsian di Desa Kebondalem Lor, Kecamatan Prambanan; Desa Menden, Kecamatan Kebonarum, serta Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko yang masih dikhususkan untuk mengantisipasi ketika ada gelombang pengungsian dari warga lereng Merapi. “Sekat-sekat di selter pengungsian masih dipertahankan karena saat ini juga masih dalam kondisi pandemi Covid-19,” kata dia.

Sumber : JIBI/Solopos.com