Bank Dunia Ungkap Negara Miskin Catatkan Rekor Utang Akibat Covid-19

Presiden Bank Dunia David Malpass - Reuters/Jim Young
12 Oktober 2021 11:47 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 telah menyebabkan “pembalikan tragis” atas pembangunan selama ini dan meningkatkan utang negara-negara miskin ke tingkat rekor tertinggi, menurut Bank Dunia.

Presiden Bank Dunia David Malpass memperingatkan Covid-19 telah memperlebar jurang antara negara kaya dan miskin. Selain itu, kondisi tersebut juga telah memperlambat kemajuan selama bertahun-tahun dan bahkan selama satu dekade bagi sejumlah negara.

Bank Dunia menunjukkan beban utang lebih dari 70 negara berpenghasilan rendah telah meningkat sebesar 12 persen menjadi US$860 miliar (£630 miliar) pada tahun 2020.

Malpass menyerukan rencana komprehensif untuk mengurangi tekanan utang dan bagi negara-negara kaya harus membuat vaksin tersedia bagi mereka yang kurang mampu.

Dia mengatakan, bahwa satu masalah khusus adalah ketika terjadi kebangkrutan, utang menjadi tidak berlanjut. Perusahaan dapat menyatakan diri mereka bangkrut, tetapi negara tidak bisa, katanya.

Dengan pendapatan per kepala diperkirakan akan meningkat rata-rata 5 persen di negara maju tahun ini dibandingkan dengan 0,5 persen di negara berkembang, Malpass mengatakan masalah ketimpangan semakin parah sebagaimanna dikutip TheGuardian.com, Selasa (12/10/2021).

Bank Dunia khawatir masalah negara-negara miskin dapat memburuk lebih lanjut karena suku bunga global naik dari tingkat darurat yang terlihat selama krisis.

Malpass mengatakan: “Kami membutuhkan pendekatan komprehensif untuk masalah utang, termasuk pengurangan utang, restrukturisasi yang lebih cepat, dan peningkatan transparansi.

Menurutnya, tingkat utang yang berkelanjutan sangat penting untuk pemulihan ekonomi dan pengurangan kemiskinan.

Peningkatan utang 12 persen pada 2020 mengikuti lonjakan 9,5 persen pada tahun 2019 dialami oleh 73 negara.

Negara itu memenuhi syarat untuk ditangguhkan pembayaran utangnya berdasarkan inisiatif yang diatur oleh Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional selama tahap awal pandemi untuk mengurangi tekanan.

Malpass mengatakan, bahwa bahkan sebelum krisis, kenaikan tingkat utang sudah menjadi perhatian di banyak negara dan kerentanan telah meningkat secara dramatis pada tahun 2020.

“Krisis telah mendorong kebutuhan pembiayaan dan dengan demikian pinjaman telah melemahkan fundamental ekonomi masing-masing negara dan kapasitas untuk melayani dan membayar utang publik,” kata Malpass.

Risikonya sekarang adalah terlalu banyak negara yang akan muncul dari krisis Covid-19 dengan utang besar yang bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk dikelola, katanya.

Lebih jauh laporan tersebut mencatat bagaimana indikator utang untuk negara-negara yang memenuhi syarat untuk inisiatif penangguhan layanan utang telah memburuk selama dekade terakhir.

Pada tahun 2020, lebih dari separuh (56 persen) memiliki rasio utang atas pendapatan nasional lebih dari 60 persen, sedangkan 7 persen memiliki rasio utang atas pendapatan nasional lebih dari 100 persen.

Laporan tersebut diluncurkan menjelang pertemuan tahunan Bank Dunia di Washington minggu ini dan dengan latar belakang beberapa bank sentral, termasuk Federal Reserve AS dan Bank of England, tengah mempertimbangkan tindakan untuk memerangi kenaikan inflasi.

Carmen Reinhart, kepala ekonom Bank Dunia, mengatakan: “Perekonomian di seluruh dunia menghadapi tantangan berat yang ditimbulkan oleh tingkat utang yang tinggi yang meningakat pesat. Karena itu pembuat kebijakan perlu bersiap untuk kemungkinan tekanan utang ketika kondisi pasar keuangan menjadi kurang ramah, terutama di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia