Yuk Mengenal 7 Pahlawan Revolusi Indonesia secara Lebih Dekat

Pahlawan revolusi
30 September 2021 05:07 WIB Dinda Aulia Ramadhanty News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Saat membicarakan peristiwa G30SPKI, kita dihadapkan dengan peristiwa yang panjang, kelam serta memilukan bagi rakyat Indonesia. 

Peristiwa tersebut juga mengakibatkan banyak korban gugur tak terkecuali kisah sadis dan keji tentang Lubang Buaya, yang berisi enam jenderal serta satu perwira pertama TNI AD yang dibunuh lalu dikubur bersamaan dalam lubang yang sama pada 30 September 1965.

Akibat dari peristiwa G30S PKI juga adalah tumbangnya pemerintah orde lama yang dipimpin Soekarno. Ketujuh korban yang sebelumnya disinggung kemudian dikenal sebagai pahlawan revolusi. Berikut 7 nama pahlawan revolusi Indonesia beserta profilnya yang telah diringkas agar dapat dipahami lebih mudah.

  1. Jenderal TNI Ahmad Yani

Ahmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada 19 Juni 1922. Ia pernah berperan sebagai tentara Hindia Belanda dan juga menjadi salah satu anggota tentara Pembela Tanah Air (PETA) saat Jepang menjajah Indonesia. 

Perjuangan serta kontribusi yang diberikannya untuk Indonesia memiliki deretan panjang untuk dipaparkan termasuk melakukan perang gerilya saat melawan Belanda pada peristiwa agresi militer Belanda, berhasil mengalahkan pemberontakan Darul Islam yang dibentuk oleh Kartosuwiryo bersama pasukan khususnya, Benteng Raiders.

Tak hanya itu, Ahmad Yani juga berhasil meredakan pemberontakan yang dilakukan oleh PRRI di Sumatera Barat setelah ia diangkat menjadi staf umum Jenderal AH Nasution yang selanjutnya dilantik menjadi Panglima Angkatan Darat menggantikan Nasution.

jenderal ahmad yani

  1. Mayor Jenderal Siswondo Parman

Pahlawan revolusi yang kedua ini lahir di Wonosobo, Jawa Tengah pada 14 Agustus 1918. Siwondo Parman pernah menjadi siswa di sekolah kedokteran meskipun akhirnya berhenti setelah Jepang menjajah Indonesia. 

Dalam perjalanan karir Parman bermula saat bergabung di Tentara Keamanan Rakyat (TKR) setelah kemerdekaan Indonesia 1945, yang selang beberapa bulan kemudian Parman diangkat menjadi kepala staf polisi militer yang berada di Yogyakarta. Tak berhenti sampai disitu, Parman juga pernah menjadi polisi militer, penerjemah, kepala staf Gubernur militer di Jabodetabek berpangkat Mayor, hingga asisten intelijen bagi KSAD Jenderal Ahmad Yani. 

Parman memberikan banyak kontribusi dengan menggagalkan pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), dimana pasukan tersebut dipimpin Raymond Westerling yang mengakibatkan Parman dikirim sekolah polisi militer di Amerika. 

Siswondo Parman

  1. Brigjen TNI Donald Isaac Pandjaitan

Donald Isaac Pandjaitan lahir pada 9 Juni 1925 di Balige, Sumatra Utara. Di saat Jepang menguasai Indonesia, Pandjaitan baru saja menyelesaikan sekolahnya yang kemudian setelah tamat SMA, Pandjaitan menjadi tentara sukarela di wilayah Pekanbaru, Riau.

Pandjaitan juga bergabung di TKR dan langsung menjabat menjadi komandan batalyon, yang tak lama kemudian dimandatkan menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi pada 1948. Selanjutnya ia beralih menjabat sebagai Kepala Staf Umum IV di Komandemen Tentara Sumatera, menjadi pimpinan Perbekalan Pemerintah Darurat RI saat agresi militer belanda ke I dan II. 

Sebelum peristiwa penculikan pada 30 September 1965, Pandjaitan ditugaskan ke Amerika Serikat untuk mengikuti kursus militer di Associated Command and General Staff College di wilayah Fort Leavenworth. Selanjutnya, ia juga pernah mengikuti kursus atase militer pada 1965 sebelum akhirnya kembali diamanatkan menjadi Menteri Panglima Angkatan Darurat Jenderal AH Nasution bagian logistik.

di panjaitan

  1. Mayjen M. T. Haryono

Atau lebih lengkapnya Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 20 Januari 1924. MT Haryono pernah menempuh pendidikan di Ika Dai Gakko (sekolah tinggi kedokteran) pada masa Jepang, meskipun tidak sampai selesai dikarenakan Jepang menyerah. Keahliannya saat berunding dan memahami beberapa bahasa asing (Jerman, Belanda, Inggris) menjadikan dirinya didaulat sebagai atase militer Indonesia di Belanda. 

Setelah diproklamirkan kemerdekaan Indonesia, MT Haryono bergabung ke dalam TKR dan menerima pangkat Mayor disana. Ia beberapa kali mendapatkan tugas sebagai anggota delegasi Indonesia ketika perundingan Inggris dan Belanda seperti Konferensi Meja Bundar (KMB).

pahlawan revolusi mt haryono

  1. Mayjen R. Suprapto

Pria asal Purwokerto, Jawa Tengah ini lahir pada 20 Juni 1920. R Suprapto pernah mengikuti pelatihan militer di Koninklijke Militaire Akademie di Bandung setelah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya, meskipun tidak sampai selesai akibat Jepang yang menguasai Indonesia. 

Sebelum kemerdekaan, Suprapto pernah ditahan di penjara yang kemudian berhasil melarikan diri. Ia juga sempat mengikuti sebuah pelatihan bernama keibodan, syuisyintai, dan seinendan yang diadakan oleh Jepang. Setelah itu, dirinya memutuskan bekerja di Kantor Pendidikan Masyarakat.

Setelah kedaulatan Indonesia, R Suprapto ditugaskan sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorial dan Teritorial (T&T) IV/Diponegoro di Semarang, yang kemudian diangkat menjadi Staf Angkatan Darat dan Kementerian Pertahanan setelah pindah ke Jakarta. 

Selang beberapa tahun, R. Suprapto dilantik menjadi Deputi (Wakil) Kepala Staf Angkatan Darat daerah Sumatera yang berada di Medan. Hingga akhirnya, ia kembali ke Jakarta sebagai salah satu perwira tinggi Angkatan Darat dengan pangkat Mayor Jenderal.

pahlawan R. Suprapto

  1. Mayjen TNI Sutoyo Siswomiharjo

Sutoyo Siswomiharjo lahir pada tanggal 28 Agustus 1922 di Purworejo, Jawa Tengah. Perjalanan pendidikannya setelah menuntut ilmu di AMS, ia melanjutkan studinya di Sekolah Pendidikan Pegawai Negeri di Jakarta. 

Pasca kemerdekaan Indonesia, Sutoyo atau pak Toyo bergabung dengan satuan Polisi TKR, yang tak lama kemudian ia memperoleh tugas untuk menjadi seorang ajudan Jenderal Gatot Subroto yang kala itu menjabat sebagai komandan polisi militer. Setelah menjadi polisi militer, Sutoyo akhirnya menjabat sebagai kepala staf Markas Besar Polisi Militer pada tahun 1954 serta beberapa tahun kemudian diarahkan menjadi asisten atase militer di kedubes Indonesia di Inggris.

Perjalanan karir nya selepas membereskan sekolah staf dan komando pada tahun 1960, Sutoyo ditugaskan menjadi Inspektur Kehakiman Angkatan Darurat dan naik jabatan sebagai Inspektur Kehakiman atau Jaksa Militer Utama dengan pangkat Brigadir Jenderal TNI.

Sutoyo

  1. Kapten Czi. Pierre Tendean

Memiliki nama lengkap Pierre Andries Tendean ini lahir pada 21 Januari 1939 yang menjadi pahlawan revolusi termuda pada peristiwa G30S PKI. Tendean yang memang bercita-cita besar menjadi tentara sejak kecil memutuskan bergabung ke sekolah militer Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD), hingga akhirnya pernah berpartisipasi dalam sebuah operasi militer memberantas pemberontakan PRRI di daerah Sumatera.

Bahkan setelah lulus pun, Tendean langsung dikerahkan menjadi seorang Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan dengan pangkat Letnan Dua. Beberapa tahun kemudian dirinya bergabung di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD), yang disitulah ia memperoleh tugas sebagai intelijen di Malaysia saat Indonesia dan Malaysia mengadakan konfrontasi.

Akibat dari hal tersebut, Tendean berhasil naik pangkat sebagai letnan satu dan ditarik sebagai ajudan Jenderal AH Nasution. Pierre Tendean merupakan korban salah tangkap penculikan G30SPKI yang seharusnya menculik AH Nasution.

Pierre Tendean

Sumber : bisnis.com