Advertisement

7 Negara Ini Sepakat Tidak Akan Bangun Pabrik Batubara Baru

Nindya Aldila
Minggu, 26 September 2021 - 18:57 WIB
Bhekti Suryani
7 Negara Ini Sepakat Tidak Akan Bangun Pabrik Batubara Baru Ilustrasi perubahan iklim - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA - Sebanyak tujuh negara telah menandatangani perjanjian penghentian pembangunan pabrik batubara yang diinisiasi oleh PBB. Hal ini dilakukan mendekati COP26 yang akan diadakan di Glasgow pada Oktober.

Ketujuh negara yang dimaksud di antaranya adalah Chile, Denmark, Prancis, Jerman, Montenegro, Sri Lanka, dan Inggris.

Kesepakatan ini menjadi upaya paling mutakhir tingkat global untuk penghapusan bahan bakar terkotor, bahan bakar fosil. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan ingin mengakhiri rencana pembangunan pabrik batubara baru pada tahun ini.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Sementara Presiden Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) Alok Sharman mengatakan tujuan KTT menjadikan batubara sebagai sejarah.

"Beralih dari batubara bukanlah lonceng kematian industrialisasi, tetapi merupakan peluang yang jauh lebih baik bagi pekerjaan ramah lingkungan," kata Damilola Ogunbiyi, Chief Executive Officer Energi Berkelanjutan untuk Semua PBB seperti dikutip Bloomberg pada Jumat (24/9/2021)

Sebelumnya, inisiatif serupa telah dilakukan pada 2017 dengan sebutan Aliansi Batubara Powering Past Coal Alliance. Terdapat 41 negara yang bergabung untuk berkomitmen keluar dari operasional batubara pada 2030, salah satunya dengan tidak membangun pabrik baru.

Sementara 40 negara lain di luar aliansi tidak memiliki pembangkit listrik tenaga batu bara, menurut lembaga think tank lingkungan E3G.

Hal tersebut berarti banyak negara berkomitmen untuk tidak membangun pabrik batubara baru, tetapi tidak semuanya siap menghentikan operasi yang ada.

Menjelang COP26, sejumlah aksi serupa mulai bermunculan. Pekan lalu, AS dan Uni Eropa meluncurkan Ikrar Metana Global yang bertujuan untuk mengurangi emisi gas panas sebesar 30 persen dalam satu dekade.

Advertisement

Bulan lalu, Denmark dan Kosta Rika meluncurkan Beyond Oil and Gas Alliance yang berupaya mengakhiri ekstraksi minyak dan gas pada pertengahan abad.

Pembangkit listrik batubara telah berkontribusi terhadap sepertiga emisi kabron dioksida di dunia. Dengan sumber energi yang lebih bersih seperti tenaga surya dan turbin angin maka pembangunan fasilitas dan operasional menjadi lebih murah.

Berdasarkan Badan Energi Internasional, seluruh emisi dari tenaga pembangkit batubara harus berakhir pada 2040 jika dunia ingin menjaga pemanasan di bawah 1,5 derajat celcius.

Advertisement

“Kami memiliki rencana penghentian [pabrik batubara] yang ambisius untuk semua pembangkit listrik tenaga batubara pada 2040,” kata Juan Carlos Jobet Eluchans, Menteri Energi Chili.

Sementara itu, Presiden Xi Jinping mengatakan di depan Sidang Majelis Umum pada pekan lalu bahwa negaranya akan menghentikan pembangunan pabrik batubara di luar negeri.

Kendati demikian, pengumuman tersebut dapat berarti mengakhiri 40 gigawatt pabrik batubara baru yang akan menghilangkan 235 juta ton emisi, menurut Global Energy Monitor.

“Keputusan China adalah akhir dari pembiayaan publik untuk batu bara. Investor swasta sekarang menghadapi semua risiko investasi batu bara sendiri," kata Chris Littlecott, Associate Director untuk transisi bahan bakar fosil E3G.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Ratusan Mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta Terima Beasiswa Pendamping PKH

Sleman
| Minggu, 25 September 2022, 23:37 WIB

Advertisement

alt

Ada Paket Wisata ke Segitiga Bermuda, Uang 100% Kembali Jika Wisatawan Hilang

Wisata
| Minggu, 25 September 2022, 11:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement