Advertisement
Studi: Vaksin Sinovac Sangat Efektif Cegah Sakit Berat Akibat Covid
Kemasan vaksin Covid-19 diperlihatkan di Command Center serta Sistem Manajemen Distribusi Vaksin (SMDV), Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/1/2021). ANTARA FOTO - M Agung Rajasa
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Vaksin Sinovac disebut sangat efektif menghindari dampak parah dari virus Corona.
Studi pemerintah Malaysia menemukan 0,011% dari sekitar 7,2 juta penerima suntikan memerlukan perawatan di unit perawatan intensif untuk infeksi. Sebaliknya, 0,002% dari sekitar 6,5 juta penerima vaksin Pfizer/BioNTech membutuhkan perawatan ICU untuk infeksi, sementara 0,001% dari 744.958 penerima vaksin AstraZeneca membutuhkan perawatan serupa. Demikian dilansir dari Asia Nikkei.
Advertisement
Meskipun suntikan vaksin dari Pfizer/BioNTech dan AstraZeneca menunjukkan tingkat perlindungan yang lebih baik.
Vaksin tersebut telah di bawah pengawasan menyusul laporan infeksi di antara petugas kesehatan yang diimunisasi penuh dengan Sinovac di Indonesia dan Thailand.
Dilansir dari Malaysiakini, Menteri Kesehatan Khairy Jamaluddin memastikan semua vaksin Covid-19 dalam Program Imunisasi Nasional Covid-19 sangat efektif mencegah kematian dan sakit parah akibat penyakit tersebut.
Namun, dia mengatakan kementerian sedang melakukan studi lebih lanjut tentang vaksin Sinovac, termasuk kemungkinan memberikan suntikan booster bagi penerimanya.
Kalaiarasu Peariasamy, direktur di Institute for Clinical Research yang melakukan penelitian bersama dengan gugus tugas COVID-19 nasional, mengatakan vaksinasi telah mengurangi risiko masuk ke perawatan intensif sebesar 83% dan menurunkan risiko kematian. sebesar 88 persen berdasarkan penelitian yang lebih kecil yang melibatkan sekitar 1,26 juta orang.
"Tingkat terobosan untuk penerimaan unit perawatan intensif sangat rendah," katanya, menambahkan penerimaan ICU secara keseluruhan di antara individu yang divaksinasi penuh mencapai 0,0066 persen.
Tingkat kematian orang yang divaksinasi lengkap juga rendah yaitu 0,01% dan mayoritas dari mereka berusia di atas 60 tahun atau dengan penyakit penyerta.
Ada perbedaan demografi penerima ketiga vaksin dan itu bisa menghasilkan hasil yang berbeda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- KPK Belum Tahan Yaqut dan Gus Alex, Tunggu Proses Lengkap
- Yaqut Resmi Jadi Tersangka Kasus Kuota Haji, Segini Daftar Kekayaannya
- Bahlil: Tambang untuk Ormas Tetap Jalan Meski Diuji MK
- Ketegangan Baru: Uni Eropa Kritik Klaim Donald Trump atas Greenland
- Pencurian Baut Rel di Blitar Ancam Keselamatan Kereta
Advertisement
Jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Beroperasi Sabtu 10 Januari
Advertisement
Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest
Advertisement
Berita Populer
- Motor Mati di Perlintasan, Lansia Kulon Progo Nyaris Tertemper KA
- Agenda Event, Pariwisata, Konser dan Olahraga, 9 Januari 2026
- 5 Wakil Indonesia Hadapi Lawan Berat di Perempat Final Malaysia Open
- Jadwal KA Prameks, Jumat 9 Januari 2026
- Tekuk Atletico 2-1, Real Madrid Tantang Barcelona di Final
- Sumbu Filosofi Dijaga, Parkir Bus Dialihkan ke Giwangan
- Jadwal SIM Keliling Bantul, Jumat 9 Januari 2026
Advertisement
Advertisement



