JELAJAH MAGELANG: Kerajinan Kulit Dande Beredar sampai Eropa

Eliz menunjukkan produk merek Dande di toko Dande Leather Goods. - Harian Jogja/Nina Atmasari
09 September 2021 07:27 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com, MAGELANG— Produk fashion berbahan kulit sudah banyak dijual di berbagai daerah maupun toko online. Namun, berbekal ilmu, Samsul Anwar Yusuf berinisiatif membuat produk fashion dari kulit dan memasarkannya. Hasilnya, produk yang diberi merek Dande ini diminati pasar dan usahanya berkembang menjadi salah satu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Magelang.

Dande Leather Goods memiliki toko kecil di tepi jalan Sraten-Japunan, Dusun Brengosan, Desa Donorojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Toko itu memajang aneka ragam produk kulit. Kebanyakan adalah tas wanita dengan aneka jenis, bentuk, warna dan ukuran. Ada tas bahu, tas jinjing, tas selempang dan ransel. Ada pula produk tas pria, serta produk lain seperti dompet, pouch, sabuk, topi, sepatu dan sandal.

Harga produk Dande bervariasi, untuk dompet pria Rp150.000 sampai Rp300.000, dompet wanita Rp150.000 sampai Rp500.000, pouch Rp150.000, tas wanita Rp350.000 sampai Rp850.000 dan tas ransel Rp950.000. “Produk kulit memang lebih mahal, tapi penggunanya bisa awet bertahun-tahun,” kata Siti Nurhalizah yang akrab disapa Eliz, Marketing Dande Leather Goods, Rabu (8/9/2021).

Perempuan 20 tahun itu membagikan tips cara merawat produk dari kulit. Semakin sering dipakai, produk akan lebih bagus, lebih lemas dan kulit mengkilat. Jika tidak dipakai dan hanya disimpan di almari, maka seminggu sekali dikeluarkan agar tidak jamuran. Kalau jamuran sedikit masih bisa dibalsem tapi jika sudah parah akan sulit dibersihkan.

Eliz menjelaskan semua produk Dande berbahan dasar kulit. Kebanyakan adalah kulit sapi, meski ada beberapa yang kulit domba. Kulit sapi dipilih lebih banyak karena lebih tebal untuk menghasilkan bentuk produk yang kuat.

Baca juga: JELAJAH MAGELANG: Genduk Manis, Layanan Administrasi Kependudukan Berbasis Online

Dande Leather Goods didirikan oleh kakak ipar Eliz, yaitu Samsul Anwar Yusuf pada 2015. Pria 29 tahun itu memiliki bekal ilmu tentang kulit yang didalaminya di Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta. Selepas kuliah, ia sempat menjalankan usaha produk kulit bersama teman-temannya, namun setelah menikah dengan Yuli Retno Winarsih (kakak Siti Nurhalizah), ia kemudian membuat usaha sendiri yang diberi merek Dande.

Awalnya, produk Dande berupa dompet. Untuk pembuatannya, mereka memiliki karyawan yang saat ini sejumlah empat penjahit dan dua tenaga potong kulit. Produk pun ditambah dengan tas, dan aksesoris hingga terakhir adalah sandal dan sepatu yang baru akhir-akhir ini mulai diproduksi.

Eliz mengakui produk fashion berbahan kulit sudah banyak beredar di pasar maupun toko online. “Namun, Dande memiliki keunggulan yakni kualitas baik dengan harga yang lebih terjangkau daripada produk serupa yang ada di pasaran,” jelasnya.

Untuk penjualannya, Dande awalnya hanya mengandalkan pemasaran secara online melalui Shopee, Instagram, Facebook dan Whatsapp. Setelah tiga tahun, akhirnya Dande membuka toko offline di depan tempat produksi mereka. “Banyak pembeli yang datang ke tempat produksi untuk melihat langsung kualitas kulitnya, jadi sekitar awal tahun 2019, kami membuka toko offline,” jelas Eliz.

Saat ini, penjualan masih didominasi melalui online. Pembelinya berasal dari seluruh daerah di Indonesia bahkan ada yang dari luar negeri seperti Eropa. Adapun di toko offline, pembeli adalah warga Magelang dan sekitarnya. Produk yang paling diminati pembeli adalah slingbag.

Di masa pandemi Covid-19 ini omzet Dande Leather Goods rata-rata sebesar Rp4 juta di toko offline sedangkan di toko online tidak menentu namun lebih rendah. “Dulu sebelum pandemi, omzet lebih dari itu. Kami sempat tutup tiga bulan di awal pandemi dan beberapa minggu di awal PPKM, sekarang sudah mulai berjalan lagi,” katanya. (ADV)