Disorot Jokowi, Kasus Covid-19 di Luar Jawa-Bali Meroket

Ilustrasi - Antara
09 Agustus 2021 19:27 WIB Aprianus Doni Tolok News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA —Setelah Jawa-Bali, kasus Covid-19 kini tercatat melonjak di di luar Pulau Jawa. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di luar Jawa-Bali. Fenomena itu terjadi di saat kasus Covid-19 di Jawa-Bali mulai menunjukkan tren penurunan.

Presiden Jokowi menilai perlu adanya kebijakan yang tegas dan tepat untuk mengendalikan penularan Covid-19 di luar Jawa-Bali. Dia pun memerintahkan jajarannya, khususnya TNI dan Polri, untuk merespons cepat lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di sejumlah daerah di luar Pulau Jawa dan Bali dalam rentang waktu dua minggu terakhir.

Tercatat angka kasus positif di luar Jawa-Bali pada tanggal 25 Juli 2021 sebanyak 13.200 kasus atau 34 persen dari kasus baru nasional, kemudian per 1 Agustus 2021 naik menjadi 13.589 kasus atau 44 persen dari total kasus baru nasional, dan per 6 Agustus 2021 naik lagi menjadi 21.374 kasus atau 54 persen dari total kasus baru secara nasional.

“Saya perintahkan kepada Panglima TNI, kepada Kapolri, untuk betul-betul mengingatkan selalu kepada Pangdam, Kapolda, dan Danrem, Dandim, Kapolres untuk betul-betul secara cepat merespons dari angka-angka yang tadi saya sampaikan. Karena kecepatan itu ada di situ,” kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas tentang evaluasi perkembangan dan tindak lanjut PPKM Level 4 melalui konferensi video dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Sabtu (7/8/2021).

Presiden juga menyoroti lima provinsi di luar Jawa-Bali dengan kenaikan kasus paling tinggi per tanggal 5 Agustus 2021, yaitu Kalimantan Timur dengan 22.529 kasus aktif, Sumatra Utara dengan 21.876 kasus aktif, Papua dengan 14.989 kasus aktif, Sumatra Barat dengan 14.496 kasus aktif, dan Riau dengan 13.958 kasus aktif.

Kemudian pada Jumat (6/8), angka kasus aktif di Sumatra Utara naik menjadi 22.892 kasus, Riau naik menjadi 14.993 kasus aktif, Sumatra Barat naik menjadi 14.712 kasus aktif, sementara kasus aktif di Kalimantan Timur dan Papua mengalami penurunan.

Berdasarkan data tersebut, berikut ini adalah rangkumam Bisnis terkait tren peningkatan kasus positif di lima daerah tersebut:

Kalimantan Timur
Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menunjukkan bahwa kasus di Kalimantan Timur cenderung terus menanjak kendati terjadi dinamika penurunan kasus positif pada hari-hari tertentu.

Pada 1 Juli 2021, kasus positif Covid-19 di provinsi tersebut naik 595 kasus. Lalu, puncaknya pada 30 Juli 2021 kenaikan kasus menembus 2.364 atau melonjak lebih dari tiga kali lipat.

Kabar baiknya, pada bulan ini, kasus positif cenderung menurun yaitu pada 8 Agustus 2021 penambahan kasus positif hanya mencapai 1.576 kasus.

Kendati mengalami peningkatan kasus positif, penambahan signifikan kasus sembuh juga terjadi di Kalimantan Timur.

Pada akhir Juli 2021 kasus sembuh harian naik 1.143 atau jauh meningkat jika dibandingkan dengan awal bulan yang mencapai 111 kasus.

Sayangnya, kasus meninggal juga cenderung naik yaitu dari sekitar 10 orang pada awal Juli menjadi 74 pada akhir bulan.

Sumatra Utara
Pada pekan Juli 2021, kasus harian terkonfirmasi positif di Sumatra Utara naik berkisar 170 hingga 300 kasus.

Namun, pada pekan terakhir Juli melonjak hingga nyaris 1.600 kasus positif per harinya.

Sementara itu pada akhir pekan pertama Agustus 2021, kasus positif di Sumut sempat meroket ke angka 2.045 meskipun setelahnya menurun ke angka 1.400-an.

Sayangnya, peningkatan signifikan kasus positif tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan kasus sembuh.

Pada awal hingga pertengahan Juli 2021, kasus sembuh harian berkisar 170 hingga 200. Lalu pada akhir bulan sempat melonjak ke angka 659 kasus tepatnya pada 24 Juli 2021.

Sempat menembus angka 1.000 kesembuhan dalam sehari, sayangnya pada 8 Agustus 2021 kembali anjlok ke angka 500-an.

Sementara itu, kasus meninggal akibat Covid-19 cenderung meningkat dan tercatat pada 8 Agustus 2021 terjadi 35 kasus kematian atau menjadi yang tertinggi selama ini.

Papua
Kendati tidak setinggi Kaltim dan Sumut, kasus positif harian di Papua tetap cenderung meningkat.

Pada pekan pertama Juli 2021, kenaikan kasus positif harian dibawah 100 kasus. Namun, setelahnya meroket hingga puncaknya pada 14 Juli yaitu 357 kasus.

Kendati demikian, pada akhir pekan pertama Agustus kasus positif cenderung menurun meskipun masih tergolong tinggi yakni berkisar di angka 200-an.

Sementara itu, kasus sembuh harian juga meningkat seiring peningkatan kasus positif. Pada 8 Agustus 2021, Satgas Covid Nasional mencatat terjadi peningkatan 200 kasus sembuh.

Kasus meninggal di Bumi Cendrawasih ini tercatat berfluktuasi. Sempat melonjak pada akhir Juli 2021 yaitu 24 kasus meninggal tetapi kemudian menurun hingga pada 8 Agustus kasus meninggal hanya mencapai 5 orang.

Sumatra Barat
Kasus positif Covid-19 di Sumatra Barat atau Sumbar tercatat sebanyak 549 pada 1 Juli 2021. Namun, sebulan setelahnya atau pada 1 Agustus 2021 meningkat menjadi 718 kasus.

Puncak kurva kasus positif di sana terjadi pada 3 Agustus 2021 yaitu mencapai 1.157 kasus. Setelahnya, kasus kembali melandai dengan laporan terakhir 778 kasus positif pada 8 Agustus 2021.

Sementara itu, kasus sembuh juga mengalami tren yang sama yaitu peningkatan dari hari ke hari.

Pada 1 Juli 2021 tercatat kasus sembuh di Sumbar mencapai 95, dan melonjak signifikan pada 29 Juli yaitu 697 kasus.

Lalu setelahnya kasus sembuh harian berflutuasi hingga pada 8 Agustus 2021 dilaporkan sebanyak 663 kasus terjadi dalam sehari.

Puncak kurva kasus meninggal di Sumbar terjadi pada 5 Agustus 2021 yaitu mencapai 33. Jumlah itu naik signifikan jika dibandingkan dengan 1 Juli yang tercatat hanya terjadi 5 kasus meninggal sehari.

Terakhir, pada 8 Agustus 2021, kasus meninggal di sana masih tergolong tinggi yaitu 24 kasus.

Petugas kesehatan melakukan tes cepat antigen kepada pekerja migran yang tiba di Kepulauan Riau, Selasa (18/5/2021). ANTARA/Kemenko PMK

Riau

Puncak kurva kasus positif di Provinsi Riau terjadi pada 6 Agustus 2021 yaitu mencapao 2.205. Jumlah ini meroket jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, 6 Juli 2021 sebanyak 418 kasus.

Kendati setelah 6 Agustus kasus terkonfirmasi kembali menurun, tapi peningkatannya masih tergolong tinggi yakni sekitar 1.150 kasus dalam sehari.

Kabar baiknya, kasus sembuh harian juga tercatat terus meroket. Pada 8 Agustus 2021, kasus sembuh harian di Riau menjadi yang tertinggi selama pandemi terjadi yaitu mencapai 2.016 kasus.

Sementara itu, kasus meninggal juga tercatat naik pada periode Juli-Agustus 2021.

Puncak kurva kasus meninggal akibat Covid di Riau terjadi pada 6 Agustus yaitu sebanyak 55 kasus.

Penyebab Lonjakan Kasus

Sementara itu, Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyampaikan bahwa lonjakan kasus positif di beberapa daerah di luar Jawa dan Bali terjadi karena penegakkan upaya 3T dan protokol kesehatan yang belum maksimal.

“Untuk strategi 3T [tracing, testing, dan treatment] jangankan di luar Jawa, di Jawa sendiri hanya Jakarta dan Yogyakarta yang memenuhi standar WHO, artinya daerah di luar Jawa menjadi bom waktu,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (9/8/2021).

Dicky tidak menampik bahwa kondisi geografis Indonesia yaitu sebagai negara kepulauan memang menjadi kendala tersendiri dalam upaya penanganan Covid-19 sehingga perlu disiasati dengan langkah yang lebih agresif.

Hal itu juga yang menjadi penyebab kasus meninggal akibat Covid melonjak di beberapa daerah karena minimnya upaya tracing dan testing.

Dicky menyampaikan perlu dilakukan strategi mitigasi 3T, 5M, dan vaksinasi dari rumah ke rumah guna meredam lonjakan kasus.

“Trias strategi 3T dan 5M sangat penting dilakukan secara berkomitmen, konsisten, dan merata,” kata Dicky.

Sementara itu, Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dr Syahrizal Syarif menyampaikan bahwa peningkatan kasus sebuah daerah mengindikasikan tingkat kepemimpinan dan pemahaman kepala daerah.

Menurutnya, kepemimpinan walikota/bupati memiliki peran tersendiri dalam lonjakan kasus positif di sejumlah daerah di luar Jawa-Bali.

“Indonesia negara kepulauan sehingga keberhasilan penanganan [pandemi] tergantung pada walikota/bupati dan bukan gubernur apalagi pemerintah pusat,” katanya kepada Bisnis, Senin (9/8/2021).

Dia menambahkan, kenaikan kasus tersebut adalah wajar karena kepemimpinan dan pemahaman serta langkah penanganan yang berbeda-beda antarkabuputen/kota.

Namun, Syahrizal tidak menampik bahwa ada peran atau pengaruh varian Delta dalam lonjakan kasus tersebut.

“Tapi faktor utama adalah kepemimpinan kepala daerah dalam memimpin wilayahnya menghadapi wabah,” ujarnya kemudian.

Batasi Mobilitas

Terkait peningkatan kasus di luar Jawa dan Bali, Presiden Jokowi telah meminta jajarannya untuk melakukan tiga strategi yaitu pertama, membatasi mobilitas masyarakat.

“Kalau sudah kasusnya gede seperti itu, mobilitas masyarakat harus direm. Yang pertama yang paling penting, ini Gubernur semua harus tahu, Pangdam, Kapolda, semua harus tahu. Artinya mobilitas manusianya yang direm. Paling tidak dua minggu,” katanya.

Kedua, Presiden meminta Panglima TNI untuk menggencarkan 3T sehingga mereka yang kontak erat dengan orang yang terkonfirmasi positif bisa segera ditemukan dan dipisahkan sehingga kasus Covid-19 tidak menyebar luas.

“Respons secara cepat. Karena ini berkaitan dengan kecepatan. Kalau ndak, orang yang punya kasus positif sudah ke mana-mana, menyebar ke mana-mana. Segera temukan. Yang kedua testing dan tracing, sekali lagi, segera temukan. Dites ketemu, di-tracing dia kontak dengan siapa, itu yang kedua,” tegasnya.

Ketiga, Jokowi menginstruksikan agar para pasien positif Covid-19 segera dibawa ke tempat isolasi terpusat (isoter).

Terkait hal itu, Dia meminta kepala daerah baik gubernur hinhha bupati/ wali kota untuk menyiapkan tempat-tempat isolasi terpusat di daerahnya masing-masing dengan memanfaatkan fasilitas umum seperti gedung olah raga, balai, hingga sekolah.

“Saya minta Menteri PUPR juga membantu daerah dalam rangka penyiapan isoter ini. Terutama di daerah-daerah yang tadi saya sebutkan yang segera harus merespons dari angka-angka yang ada. Dan juga libatkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), pintu utama dalam penanganan pasien,” ujarnya.

Selain tiga strategi itu, Kepala Negara juga menyebutkan bahwa kecepatan vaksinasi menjadi kunci dalam penanganan Covid-19.

Jokowi meminta agar program vaksinasi terus berjalan tanpa henti setiap harinya. Dia memastikan pemerintah pusat sesegera mungkin mengirimkan kembali stok vaksin di daerah jika diperlukan.

“Jangan ada stok vaksin terlalu lama, baik di dinkes maupun di rumah sakit dan puskesmas. Perintahkan segera semua, segera suntikkan. Karena kecepatan ini juga akan memberikan proteksi pada rakyat kita. Akan saya ikuti terus, angka-angka harian ini,” katanya.

Sumber : Bisnis.com