Advertisement

Ada Pasien Kabur, Pemkab Bantul Tambah Pagar & Satpam

Catur Dwi Janati
Rabu, 04 Agustus 2021 - 09:37 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Ada Pasien Kabur, Pemkab Bantul Tambah Pagar & Satpam Foto ilustrasi. - ANTARA FOTO/Aji Styawan\\r\\n

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL - Adanya kasus pasien Covid-19 yang mencoba kabur di Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 (RSLKC) membuat Pemkab Bantul mempertimbangkan untuk menambah pagar dan petugas keamanan. Sebelumya kejadian pasien kabur juga sempat terjadi di Selter Niten.

Wakil Bupati Bantul, Joko Purnomo mengungkapkan keprihatinnya atas meninggalnya pasien yang berusaha kabur dari RSLKC. "Kami memang sangat prihatin mendapatkan laporan. Salah satu warga kita pasien Covid-19 mungkin mengalami kejenuhan, depresi sehingga harus keluar dari rumah sakit dan kemudian terjadi kecelekaan sampai tadi laporannya meninggal, ya kita prihatin," ungkapnya pada Selasa (3/8/2021).

Atas kejadian itu, Joko telah menyampaikan langsung kepada Kepala Dinkes Bantul agar kejadian serupa jangan sampai terjadi lagi. Joko juga akan melakukan koordinasi dengan Satpol PP terkait kemungkinan penambahan pagar di sejumlah selter.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

"Kami akan koordinasi dengan Satpol PP nanti. Apakah memungkinkan di setiap RS ditambah pagarnya. Di samping ada satpamnya yang kita perbantukan. Supaya jangan sampai terjadi lagi, ini preseden yang sangat memprihatinkan," tegasnya.

Baca juga: Keterisian Tempat Tidur Pasien Covid-19 di Jogja Mulai Turun

Ketua FPRB Bantul, Waljito pun turut menanggapi adanya kasus pasien Covid-19. Waljito menyoroti aspek psikososial pasien. Menurutnya pasien isoman di rumah maupun selter membutuhkan pendampingan psikososial. "Karena banyak yang melakukan isoman itu justru menuju sakit, bukan menuju sehat," ujarnya.

"Secara psikologis dia [pasien] merasa bahwa diasingkan, kemudian menjadi beban psikis tersendiri. Sehingga perlu adanya pendampingan psikososial, bisa dilakukan lembaga pemerintah kalau sekarang tidak mampu bisa menggandeng relawan untuk dilatih pendampingan psikososial," tandasnya.

Hasil kajian tim FPRB kepada warga yang sedang isoman menemukan banyak warga yang membutuhkan pendampingan karena kondisinya yang bisa drop sewaktu-waktu. "Ada yang mendengar suara ambulans kondisi dia [pasien] langsung drop. Mendengar suara pengumuman kematian atau layatan di masjid-masjid pun kondisinya drop," tambahnya.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Ratusan Mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta Terima Beasiswa Pendamping PKH

Sleman
| Minggu, 25 September 2022, 23:37 WIB

Advertisement

alt

Ada Paket Wisata ke Segitiga Bermuda, Uang 100% Kembali Jika Wisatawan Hilang

Wisata
| Minggu, 25 September 2022, 11:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement