Studi: Campuran Vaksin Astrazeneca dan Pfizer Hasilkan Antibodi Tinggi

Kandidat vaksin Pfizer - JIBI/Bisnis.com
30 Juli 2021 16:07 WIB Janlika Putri Indah Sari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Tim peneliti yang dipimpin oleh Martina Sester menemukan orang yang menerima vaksin dari AstraZeneca sebagai dosis pertama dan vaksin BioNTech Pfizer sebagai suntikan kedua menunjukkan respons kekebalan yang jauh lebih kuat daripada mereka yang menerima dua dosis vaksin AstraZeneca.

Profesor Imunologi di Universitas Saarland itu telah menerbitkan pracetak penelitiannya tentang pencampuran berbagai jenis vaksin Covid-19. Setelah melalui proses peer review yang ketat, hasil penelitian tersebut kini telah dipublikasikan di jurnal Nature Medicine.

Analisis tingkat produksi antibodi menunjukkan bahwa kombinasi vaksinasi AstraZeneca/BioNTech atau dosis ganda BioNTech secara signifikan lebih efektif daripada dosis ganda vaksin AstraZeneca. Tim menemukan bahwa tingkat antibodi dalam darah sekitar sepuluh kali lebih tinggi pada orang yang mendapat kombinasi AstraZeneca/BioNTech atau vaksinasi BioNTech ganda.

"Ketika kami melihat antibodi penetral, kami menemukan bahwa strategi kombinasi benar-benar menghasilkan hasil yang sedikit lebih baik daripada yang dicapai dengan dosis ganda BioNTech," kata Profesor Transplantasi dan Imunologi Infeksi di Universitas Saarland, Martina Sester.

Tim peneliti Sester juga melihat dua jenis sel T yang berbeda, yaitu sel darah putih yang memainkan peran penting dalam sistem kekebalan tubuh. Sel T pembantu memiliki sejumlah fungsi, termasuk mengaktifkan produksi antibodi. Peran sel T pembunuh adalah untuk menghancurkan sel-sel yang telah terinfeksi virus. Sel T pembunuh sangat penting dalam mencegah penyakit Covid-19 yang serius dan rawat inap.

Baik kombinasi vaksin AstraZeneca/BioNTech maupun vaksinasi ganda BioNTech secara substansial lebih efektif dalam memproduksi kedua jenis sel T. Produksi sel T pembunuh paling menonjol pada subjek yang telah menerima vaksinasi heterolog, mencerminkan temuan untuk antibodi penetralisir.

Sester memaparkan jika peneltian itu memberikan bukti yang cukup mencolok bahwa dosis ganda vaksin AstraZeneca tidak mampu memobilisasi respon imun tubuh sekuat dua rejimen vaksinasi lainnya. Namun, ini tidak berarti bahwa orang yang telah menerima dosis ganda AstraZeneca memiliki tingkat perlindungan yang tidak memadai terhadap virus.

Uji klinis dan keberhasilan kampanye vaksinasi di negara lain menunjukkan tingkat efektivitas vaksin AstraZeneca yang tinggi. Tetapi ini menunjukkan bahwa dosis kedua AstraZeneca tidak dapat memicu potensi penuh yang sebenarnya ada dalam vaksin. Tim peneliti juga terkejut melihat betapa jelas hasilnya.

"Inilah sebabnya kami ingin berbagi temuan ini dengan publik yang lebih luas pada kesempatan paling awal, daripada menunggu proses peer-review akademik penuh selesai," tutup Sester.

Hasilnya juga telah diambil oleh Komite Tetap Vaksinasi Jerman (STIKO), yang sekarang merekomendasikan vaksinasi kombinasi untuk orang dewasa. Termasuk mereka yang berusia di atas enam puluh tahun.

Dilansir dari medicalxpress, Jumat (30/7/2021) penelitian itu bertujuan untuk mengetahui kekuatan respon imun pada 216 penerima vaksin dua minggu setelah mereka menyelesaikan seri vaksinasi mereka. Semua subyek divaksinasi selama musim semi oleh petugas medis kerja di Saarland University Medical Center di Homburg.

Bagian dari kelompok penelitian diberi dua dosis vaksin AstraZeneca atau dua dosis vaksin BioNTech/Pfizer. Kemudian sisa subjek diberi satu dosis masing-masing vaksin dengan selang waktu sembilan hingga dua belas minggu untuk diberikan vaksinasi prime-boost heterolog vaksinasi campur.

Beberapa anggota kelompok uji lainnya diberi dua dosis vaksin Moderna atau kombinasi vaksin AstraZeneca dan Moderna.

Sumber : JIBI/Bisnis.com