Ini Penjelasan Menkes Soal Keterisian Bed Pasien Covid-19 di Rumah Sakit

Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan pers usai Rapat Terbatas, Senin (10/05/2021), di Jakarta - Humas Setkab - Rahmat
05 Juli 2021 12:37 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Kasus Covid-19 di Tanah Air melonjak tajam beberapa hari terakhir. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap alasan tingginya tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR).

Menurutnya, jumlah tempat tidur rumah sakit di seluruh Indonesia ada 389.000 tempat tidur. Pada awal 2021 saat krisis pandemi pertama diinstruksikan agar 30 persen dialokasikan untuk tempat tidur Covid-19, sehingga ada 130.000 tempat tidur yang dialokasikan untuk Covid-19.

Adapun, sebelum lebaran jumlah pasien ada 23.000, sementara jumlah tempat tidur 75.000 atau tiga lipat dari jumlah pasien. Namun, dalam 1 bulan, jumlah pasiennya naik dari 23.000 menjadi 81.000 atau hampir 3,5 kali lipat.

Baca juga: Satgas Bubarkan Kerumunan Anak Muda di Lapangan Denggung

Dari lonjakan tersebut, jumlah kapasitas tempat tidur rumah sakit sudah dinaikkan dari 75.000 menjadi 98.000 tempat tidur dengan estimasi kapasitas di 130.000 atau 30 persen kapasitas total.

“Memang masalah utama kita adalah kita perlu mempercepat konversi tempat tidur rumah sakit. Jadi beberapa tempat yang terjadi gelombang kedua sudah konversi banyak lebih dari 50 persen untuk Covid dan tekanannya sudah mulai terasa. Tapi di beberapa daerah seperti Jawa Timur, Bali dan Yogyakarta masih sedikit,” ungkap Budi pada Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI, Senin (5/7/2021).

Dengan sedikitnya alokasi tempat tidur untuk Covid-19 membuat BOR-nya tinggi. Adapun, Kemenkes sudah mendorong rumah sakit yang alokasinya tempat tidur untuk Covid-19nya masih rendah agar bisa ditingkatkan.

Baca juga: Awas, Jual Obat Covid-19 dan Isi Ulang Oksigen dengan Harga Tinggi Bakal Dipidana

“Khusus untuk Jakarta, karena banyak yang penuh untuk merawat pasien, diatur yang harus masuk RS adalah pasien dengan kondisi sedang, saturasi 95 persen ke bawah, ada sesak, dan komorbid kita pastikan mereka bisa dapat rumah sakit,” tegas Budi.

Sementara untuk yang tidak bergejala atau bergejala ringan diimbau jangan masuk rumah sakit, karena akan memenuhi dan menghalangi dan orang-orang yang harusnya bisa masuk menjadi tidak bisa masuk dan mendapat perawatan.

Kemenkes juga telah menambah kapasitas untuk yang tidak bisa isolasi mandiri di rumah. Di Wisma Atlet saat ini kapasitas totalnya ada 8.000 kamar dan sudah dibuka tempat isolasi di Rusun Nagrak kapasitas 3.000 kamar, dan Pasar Rumput 4000 kamar.

“Jadi 7.000 kamar sudah kita tambah untuk menampung orang yang positif tapi gejala ringan atau OTG dan tidak bisa isoman,” jelasnya.

Adapun, penambahan di RS, kita sudah konversi 3 RS pemerintah di RS Fatmawati, RSUP Persahabatan, dan RS Sulianti Saroso dengan total kapastias 1.000 untuk 100 persen dialokasikan merawat pasien Covid-19 untuk membantu DKI.

Asrama Haji Pondok Gede juga dicadangkan dengan kapasitasn 900 kamar untuk merawat pasien bergejala sedang.

“Di sana juga akan kita bangun 50 ICU sehigga akan ada 950 bed tambahan hari rabu ini. Kita sudah intruksi IGD jadi ruang isolasi jadi bisa tmpung pasien yang sduah masuk dan dengan BNPB membangun tenda di rumah sakit,” imbuh Budi.

Dengan ditambahnya kapasitas rumah sakit, begitu pula untuk tenaga kesehatan. Tambahan tenaga kesehatan akan didatangkan dari daerah yang masih zona hijau, seperti dari Kalimantan dan Sumatra untuk membantu RS cadangan.

Sumber : Bisnis.com