Gandeng Pelaku Usaha, FTI UII Lakukan Konservasi Bambu Lereng Merapi

Dekan FTI UII Profesor Hari Purnomo (kedua dari kanan) berfoto bersama dengan sejumlah pelaku usaha yang siap melakukan upaya konservasi bambu di Lereng Merapi. - Ist/UII.
12 Juni 2021 09:17 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) bekerja sama dengan sejumlah pihak swasta melakukan konservasi dan pemanfaatan bambu di kawasan Lereng Merapi. Kerja sama bertajuk Konservasi dan Industri Bambu, Sinergitas Perguruan Tinggi dan Industri didiskusikan secara daring pada Kamis (10/6/2021) lalu.

Dekan FTI UII Profesor Hari Purnomo menjelaskan sejumlah swasta yang digandeng tersebut antara lain Bambooland, PT Dekor Asia Jayakarya dan PT BPR Danagung Bakti. Upaya kolaborasi dengan para pemangku kepentingan diharapkan menciptakan pemulihan ekonomi di tengah pandemi.

BACA JUGA : Penambangan di Tanah Warga Jadi Ancaman Konservasi 

“Ini menjadi salah satu momentum dalam mengakselerasi kerja sama perguruan tinggi, dengan industri dan jasa keuangan. Harapannya Kerjasama ini dapat mengimplementasikan transformasi pendidikan tinggi yang mampu mencetak lebih banyak lagi talenta-talenta yang dapat bersaing di tingkat dunia,” katanya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Sabtu (12/6/2021).

Ketua Program Studi Teknik Industri, Program Magister FTI UII Winda Nur Cahyo menambahkan sejumlah fokus menarik dari kerja sama tersebut adalah konservasi bambu di kawasan Lereng Merapi. Kemudian pemanfaatan bambu untuk diubah menjadi karya seni kriya yang bernilai tinggi dengan harapan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Target selanjutnya adalah mampu menjual produk bambu tersebut di berbagai negara di dunia, karena selama ini bambu memiliki pangsa pasar yang baik.

“Kami yang menyediakan dari sisi teknologinya melalui beberapa jurusan di FTI. Untuk yang lain seperti Bambooland akan menangani konservasi dan BPR mendukung dari sisi pendanaan dan Dekor Asia pemanfaatan bambu menjadi seni kriya,” ujarnya.

Direktur Bambooland Indonesia Yulianto P Prihatmaji menyatakan sejak 2017 timnya sudah focus pada penanganan bambu di Lereng Merapi. Oleh karena itu ia siap melakukan konservasi sesuai dengan kerja sama tersebut. Saat ini perajin bambu di Sleman tergolong banyak tersebar di lima kapanewon, sedangkan untuk pembibitan ada di tujuh kapanewon. Hal ini diharapkan bisa terus menghasilkan kerajinan melalui bahan baku lokal.

BACA JUGA : Penghijauan Lereng Merapi Terhambat Pariwisata

“Untuk yang di Lereng Merapi kami menangani di Dusun Ngepring, Purwobinangun, Pakem. Kami membentuk sosial enterprise untuk masyarakat. Dengan adanya kerja sama lintas ini akan lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.