Bos Bursa Kripto Turki Bawa Kabur Aset Nasabah Hingga Rp29 Triliun

Ilustrasi Bitcoin. - Bloomberg
23 April 2021 22:57 WIB Aprianto Cahyo Nugroho News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Salah satu platform transaksi cryptocurrency terbesar di Turki, Theodex, menyatakan tidak memiliki kemampuan finansial untuk melanjutkan operasional setelah pendiri CEO dilaporkan telah menghilang dan meninggalkan negara tersebut.

Dilansir dari Bloomberg, ratusan ribu investor khawatir aset yang mereka simpan akan hilang CEO Theodex Faruk Fatih Ozer dikabarkan kabur dan membawa aset senilai US$2 miliar.

Dalam pernyataan dari lokasi yang tidak diketahui, Ozer berjanji untuk mengembalikan aset investor dan kembali ke Turki untuk menghadapi persidangan. Pemerintah memblokir rekening perusahaan dan polisi menggerebek kantor pusatnya di Istanbul.

Surat kabar Haberturk mengabarkan bahwa uang yang diinvestasikan oleh sekitar 390.000 investor aktif tidak dapat ditarik kembali. Namun, tuduhan nilai aset sebesar US$2 miliar atau sekitar Rp29 triliun yang dibawa kabur dibantah oleh Faruk.

Sementara pihak berwenang dan pelanggan mencoba mencari tahu detail dari apa yang terjadi, seorang pejabat senior di kantor Presiden Recep Tayyip Erdogan menyerukan regulasi ketet terhadap pasar crypto.

Secara global, lonjakan harga token digital telah dibarengi dengan tindakan regulator menyusul berbagai penipuan terkait dengan platform perdagangan.

Penasihat ekonomi senior Erdogan Cemil Ertem mengatakan pemerintah harus mengambil tindakan secepat mungkin untuk mengatasi masalah ini.

“Ada skema piramida yang tengah dibangun. Turki niscaya akan melaksanakan peraturan yang sejalan dengan ekonominya, tetapi juga dengan mengikuti perkembangan global,” ungkap Ertem, seperti tikutip Bloomberg.

Thodex adalah bagian dari booming cryptocurrency yang telah menarik banyak orang Turki yang berusaha melindungi tabungan mereka dari inflasi yang merajalela dan mata uang yang tidak stabil.

Inflasi Turki menyentuh mencapai 16,2 persen pada Maret 2021, lebih dari tiga kali lipat dari target bank sentral sebesar 5 persen. Sementara itu, lira Turki telah melemah 10 persen terhadap dolar tahun ini, sekaligus pelemahan selama sembilan tahun berturut-turut.

Erdogan menyatakan pada Rabu (21/4) bahwa pemerintah menghabiskan US$165 miliar cadangan devisa besar-besaran selama dua tahun terakhir. Kekhawatiran tentang berkurangnya cadangan devisa negara, yang menjadi negatif ketika uang yang dipinjam oleh pemerintah dari bank swasta melalui perjanjian pertukaran diperhitungkan, telah memicu kekhawatiran terhadap lira dan simpanan dolar, sehingga mendorong investor mencari sarana investasi alternatif.

Jumat lalu, volume perdagangan di pasar crypto Turki naik tiga kali lipat menjadi lebih dari US$1,2 miliar dari minggu sebelumnya, menurut data yang diterbitkan oleh coingecko.com, yang melacak data harga, volume dan nilai pasar di pasar crypto.

"Seseorang dapat membangun platform transaksi crypto hanya dengan modal 50.000 lira (sekitar US$6.000)," kata pengacara yang mewakili pengguna Thodex, Oguz Evren Kilic.

Bedirhan Oguz Basibuyuk, pengacara Thodex, mengatakan kepada Bloomberg bahwa dia tidak tahu di mana Ozer berada, tetapi dia tidak berada di Turki. Kantor Berita Demiroren melaporkan bahwa dia melarikan diri ke Albania pada hari Selasa.

Kampanye Dogecoin

Bulan lalu, Thodex memulai kampanye untuk meningkatkan keanggotaan dengan menawarkan jutaan Dogecoin gratis kepada pendaftar baru. Situs webnya mengatakan 4 juta koin telah didistribusikan, meskipun banyak orang telah menggunakan media sosial untuk mengeluh bahwa mereka tidak pernah menerimanya.

Ozer mengatakan pernah berniat bunuh diri atau menyerahkan diri langsung ke kepolisian. Namun, ia berpikir opsi tersebut bakal membuat aset pengguna tidak akan kembali.

“Saya memutuskan untuk tetap hidup dan berjuang, bekerja dan membayar hutang saya kepada Anda. Pada hari saya membayar semua hutang saya, saya akan kembali ke negara saya dan menyerahkan diri ke kepolisian," pungkasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia