Pelaku UMKM Gaptek Disarankan Gandeng Anak Milenial

Seminar tentang pemanfaatan teknologi informasi dalam upaya meningkatkan daya saing industri kreatif, Jumat (16/4/2021). - Ist.
17 April 2021 08:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebagian besar pelaku industri kreatif skala mikro atau lazim disebut sebagai usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) masih gaptek dan tidak menggunakan teknologi informasi dalam berproses produksi serta transaksi. Pelaku UMKM jenis ini disarankan untuk mengandeng kalangan milenial yang sudah familiar dengan teknologi.

Pembina Kampus Dosen Jualan Suryadin Laoddang mengatakan pelaku UMKM yang tidak memanfaatkan teknologi lebih banyak kalangan usia tua. Hal ini harus disikapi dengan bijak dan sebaiknya tidak memaksakan kepada yang gaptek untuk dengan cepat beradaptasi dengan teknologi. Menurutnya, salah satu cara bagi pelaku usaha kecil gaptek adalah menjalin kerja sama dengan anak milenial.

BACA JUGA : Pemkot Jogja Buka Keran Bantuan untuk 6.000 UMKM, Begini Cara Daftarnya

“Kalau ingin segera beradaptasi maka harus bekerja sama atau meminta bantuan anak milenial agar bisa berkembang. Pelaku industri kecil yang sudah tua tidak mungkin untuk dipaksakan harus dengan cepat beradaptasi, sementara pasar menuntut harus beradaptasi dengan cepat,” katanya ungkapnya dalam seminar tentang pemanfaatan teknologi informasi dalam upaya meningkatkan daya saing industri kreatif, yang disiarkan secara virtual Jumat (16/4/2021).

Ia menambahkan melalui Kampus Dosen Jualan ia telah meluluskan 3.000 alumni yang belajar digital marketing pada lembaga binaannya. Setiap angkatan belajar sekitar tiga bulan, dengan usia termuda 11 tahun dan tertua 58 tahun. “Mereka yang belajar digital marketing saat ini sudah mampu survive dengan usahanya, banyak yang mulai dari nol,” ujarnya.

Anggota Komisi I DPR RI Sukamta mengatakan industri kreatif berskala mikro atau sering disebut sebagai UMKM memiliki sumbangsih besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Sedikitnya ada 18 juta orang bekerja di sektor ini dan mencatatkan pendapatan total Rp10 triliun berdasarkan data 2019. Namun, sebagian besar pelaku industri mikro belum menggunakan digital marketing, mereka rata-rata masih melakukan cara-cara konvensional dalam melakukan pemasaran dan transaksi.

BACA JUGA : 80 Persen UMKM di DIY Belum Gunakan Teknologi Internet 

“Industri kreatif pada skala mikro atau UMKM ini sebagian besar belum beradaptasi terhadap kecepatan media online era saat ini,” ujarnya.

Ia meyakini jika industri kecil tersebut menggunakan komputer dan internet atau teknologi informasi kemungkinan akan mendapatkan nilai tambah yang lebih besar. Pemerintah harus secara berkelanjutan memberikan akses bagi pelaku usaha kecil tersebut untuk bisa terkoneksi dengan kampus atau ahli dan pasar. Di luar itu pemerintah harus memberikan perlindungan kepada pelaku usaha kecil agar bisa bersaing

“Teknologi informasi ini harus menjadi fokus dalam penanganan industri kreatif jadi bukan hanya sebagai sarana penunjang saja. Sehingga semakin banyak pelaku usaha kecil yang bisa beradaptasi dengan internet, menggunakannya untuk berproses produksi dan memasarkannya,” kata Sukamta.

BACA JUGA : UMKM Jogja Pemohon Bantuan Rp2,4 Juta Sudah Ribuan

Akademisi Gun Gun Siswadi menyatakan sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk pengembangan digital marketing di era saat ini. Sehingga pelaku usaha kecil mendapatkan banyak nilai tambah. Ia mengapresiasi gerakan sekolah digital marketing seperti keberadaan Kampus Dosen Jualan sebagai salah satu upaya menghasilkan SDM yang bisa beradaptasi.

“Sekarang eranya kerja dari rumah, membuka usaha dari rumah cukup lewat online, maka SDM untuk menyiapkan kemampuan digital marketing ini sangat penting,” ujarnya.