Cegah Stunting, Calon Pengantin Disarankan Cek Kesehatan

Pelaksanaan smart sharing pencegahan stunting di Kecamatan Godean, Sleman, Senin (12//4/2021). - Ist/bkkbn.
13 April 2021 06:57 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Persiapan kesehatan calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan seringkali diabaikan masyarakat. Padahal kesehatan calon ibu dan ayah menjadi faktor penting tumbuhnya bayi sehat. Guna menekan angka stunting BKKBN menggulirkan kerja sama penurunan angka stunting dengan melibatkan sektor swasta hingga organisasi kemasyarakatan, Senin (12/4/2021).

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menjelaskan untuk mencegah stunting butuh kerja sama dengan semua pihak termasuk kalangan usia pranikah. Karena proses pertumbuhan bayi sangat ditentukan oleh kondisi orangtua selama tiga bulan terakhir. Ia mengimbau kepada kalangan pemuda yang akan melangsungkan pernikahan sebaiknya mempersiapkan diri dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara lengkap.

BACA JUGA : Kasus Stunting di Jogja Masih Memprihatinkan

Kesiapan kesehatan itu menjadi titik awal dalam mencegah adanya stunting. Tetapi, masyarakat belum sepenuhnya menyadari pentingnya memeriksakan kesehatan, buktinya calon pengantin lebih mengutamakan persiapannya dengan prewedding.

“Ternyata prewedding itu tidak lebih penting dari prekonsepsi, tetapi yang sering dikerjakan, prewedding habis Rp20 juta dikerjakan tetapi yang periksa kesehatan hanya habis Rp20.000 tidak dikerjakan,” kata mantan Bupati Kulonprogo ini.

Ia menambahkan bayi diciptakan pada bulan pertama kedua yang seringkali ibu tidak menyadari jika hamil. Padahal saat telat satu bulan saja itu organ tubuh bayi sudah lengkap. Sehingga jika ada bibit gangguan pertumbuhan itu bisa dimulai sejak usia satu atau dua bulan kandungan. Usia ini sangat penting dan berpengaruh terhadap pertumbuhan anaknya ke depan.

“Penyebabnya karena orangtua sering tidak merencanakan kehamilan jadi tidak tahu kalau hamil. Sebaiknya hamil direncanakan sehingga bisa mengontrol begitu telat dites langsung diberikan penanganan bidan atau dokter. Jadi sebenarnya stunting itu bisa dicegah sejak dini. Adapun bayi yang sudah terlanjur lahir stunting, bisa ditangani sampai pada usia 24 bulan. Oleh karena itu melalui program 1.000 mitra untuk 1.000 HPK [hari pertama kehidupan] ini kita harapkan bisa mencegah [stunting],” ujarnya.

BACA JUGA : Bantul Bertekad Cegah Stunting, Ini Langkahnya

BKKBN menggandeng sejumlah pihak dalam rangka mencegah dan menangani stunting, dari kalangan swasta seperti Kalbe Farma, Klik Dokter hingga ormas seperti PP Muhamamdiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nahdatul Ulama dan Gerakan Pemuda Ansor.

Regional Sales Promotion Head Kalbe Nutrisia Desi Indriyati menyatakan komitmennya untuk membantu pemerintah dalam menurunkan angka stunting. Kabupaten Sleman menjadi salah satu daerah sasarannya dalam program pemberian bantuan nutrisi kepada ibu hamil, ibu menyusui dan bayi. Nutrisi itu diberikan kepada penerima melalui bidan, kemudian dilakukan observasi setiap bulan terkait perkembangan pertumbuhan bayi dan ibu.

“Kami akan observasi selama enam bulan ini, apakah dengan diberikan tambahan nutrisi apakah memberikan efek terhadap tumbuh kembangnya juga. Setiap bulan nutrisi akan kami berikan lewat bidan,” ujarnya.

BACA JUGA : Ratusan Balita Stunting Masih Ditemukan di Kecamatan di Jogja

Ia menambahkan melalui bidan tersebut kemudian dipantau dan dilaporkan perkembangan bayi dan ibunya. Selain itu pemberian nutrisi dilakukan setiap bulan agar benar-benar paket makanan tersebut dikonsumsi. Adapun jumlah penerima di Sleman terdiri atas 50 orang ibu menyusui, 50 ibu hamil dan 50 bayi.

“Lalu setiap bulan dipantau perkembangannya, berat badan dan lain lain. Pemberian dilakukan setiap bulan agar kami bisa memantau dan memastikan bahwa nutrisi itu benar-benar dimakan,” katanya.