Peneliti Sebut Tak Ada Perbedaan Signifikan Gejala Virus Corona Varian Lama dan Baru

Ilustrasi batuk - istimewa
04 Februari 2021 23:47 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Perubahan genetik pada virus bukanlah hal baru, tapi mutasi virus corona baru telah menimbulkan kekhawatiran karena ancamannya terhadap vaksinasi.

Dilansir dari Express UK, Kamis (4/2) analisis baru pada data yang dikumpulkan dari aplikasi ZOE Covid Symptom Study diharapkan meredakan banyak ketakutan ini. Pasalnya, data tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada gejala, tingkat keparahan, atau durasi yang disebabkan oleh mutasi baru.

Salah satunya yang paling terkenal adalah varian B.1.1.7, mutasi virus corona baru yang pertama kali ditemukan di Kent, Inggris. Pertama kali diidentifikasi pada September 2020, varian tersebut kini telah menyebar dengan cepat di Inggris dan banyak negara lain.

Temuan ini meyakinkan banyak ilmuwan, tapi masyarakat diminta tetap waspada. Claire Steves, peneliti dari King’s College London menggarisbawahi pentingnya menanggapi berbagai gejala yang mungkin terjadi. Dia menyoroti lima gejala virus yang umum terjadi pada varian lama dan baru.

“Penting untuk menekankan berbagai gejala yang dapat disebabkan oleh varian baru dan lama seperti sakit kepala dan sakit tenggorokan, selain tiga serangkai gejala klasik yakni batuk, demam, dan hilangnya indera perasa dan penciuman,” katanya.

Penelitian membandingkan varian lama dan baru

Untuk mengetahui apakah versi baru virus Kent memengaruhi gejala Covid-19 yang dialami orang, penelitian yang dipimpin oleh Sebastian Ourselin dan Claire Steves dari King’s College London menganalisis lebih dari 65 juta laporan kesehatan dari ZOE Covid Symptom Study pada periode 28 September hingga 27 Desember 2020.

Ini adalah periode ketika varian baru menyebar ke seluruh populasi, terutama di London, Inggris Tenggara, dan Inggris Timur. Hampir setengah juta pengguna melaporkan telah melakukan tes swab virus corona selama waktu itu dengan 55.192 melaporkan hasil positif.

Peneliti melihat berapa banyak orang yang melaporkan mengalami salah satu dari 14 gejala utama Covid-19, jumlah total gejala yang dilaporkan oleh setiap individu (indikator tingkat keparahan penyakit) dan apakah gejala itu berlangsung selama 28 hari atau lebih.

Mereka juga menghitung rawat inap yang dilaporkan sendiri dan kemungkinan kasus infeksi ulang yang terjadi, di mana seseorang melaporkan dua tes positif Covid-19 yang terpisah setidaknya dalam 90 hari terakhir.

Mereka kemudian mencocokkan informasi ini dengan perkiraan prevalensi varian baru di Skotlandia Wales dan tujuh wilayah NHS Inggris berdasarkan data dari program pengawasan genomik COG Inggris dan layanan pengujian kesehatan masyarakat.

Setelah menyesuaikan data dengan usia dan jenis kelamin serta suhu dan kelembapan setempat. Analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam jenis, jumlah, atau durasi gejala antara daerah dengan prevalensi B.1.17 tinggi dibandingkan dengan yang lebih rendah.

Tidak ada perbedaan juga dalam proporsi laporan rawat inap dan infeksi ulang. Para peneliti mengidentifikasi 249 kemungkinan kasus infeksi ulang selama masa penelitian, mewakili tingkat infeksi ulang 0,7 persen yang sebanding dengan penelitian pada varian virus sebelumnya.

“Ini adalah tanda positif bahwa kekebalan yang dibangun melalui vaksinasi terhadap varian yang lebih tua juga dapat melindungi mereka terhadap varian baru seperti B.1.1.7,” kata para peneliti. Hanya saja, varian baru memang dinyatakan lebih mudah menular dari varian sebelumnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia