Harga Telur Ayam Bisa Terus Turun, Sampai Kapan?

Pedagang menata telur di Pasar Benhil, Jakarta, Senin (13/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
30 Januari 2021 08:07 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan tren harga eceran telur ayam ras akan mengalami penurunan sampai pertengahan Februari 2021 apabila permintaan terhadap komoditas ini tidak meningkat signifikan.

Kepala Bidang Harga Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan Inti Pertiwi mengatakan pemicu turunnya harga telur adalah produksi yang berlimpah namun tidak terserap banyak oleh pasar.

Kondisi itu akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) terutama di wilayah Jawa yang diperpanjang sampai 8 Februari 2021 sehingga mengakibatkan konsumsi dan permintaan telur ayam berkurang.

"Proyeksi kami jika tidak ada upaya menahan turunnya harga telur, harga akan turun sampai minggu kedua Februari," kata Isti dikutip melalui Antara, Sabtu (30/1/2021).

Isti menjelaskan, penurunan harga hingga Februari 2021 terlihat dari neraca bulanan yang surplus hingga 38.136 ton. Setelah itu harga telur akan mengalami peningkatan hingga akhir Mei 2021 hingga mencapai Rp25.453 per kilogram pada Mei 2021 karena defisit telur sebanyak 23.780 ton.

Seperti diketahui harga telur ayam di tingkat peternak saat ini di kisaran Rp16.000-Rp17.000 per kilogram, berdasarkan data Asosiasi Peternak Layer Nasional. Harga tersebut jauh di bawah harga acuan pemerintah sebesar Rp19.000-Rp 21.000 per kilogram, berdasarkan ketentuan Permendag No.7/2020.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional per 29 Januari 2021, harga rata-rata telur ayam ras segar secara nasional di tingkat konsumen mencapai Rp26.650 per kilogram.

Menyikapi hal ini, peternak layer atau telur ayam ras yang tergabung dalam Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Blitar berkirim surat kepada Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini, terkait permintaan agar pemerintah dapat menyerap telur produksi peternak sebagai Bahan Pangan Non-Tunai (BPNT).

Sumber : Bisnis Indonesia