Keluarga Direnggut Wedhus Gembel saat Kondangan

Sukirno saat diwawancarai di Bunker Tunggularum Wonokerto Turi Sleman, Kamis (28/1/2021) - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
30 Januari 2021 07:27 WIB Hafit Yudi Suprobo News Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Erupsi Merapi kali ini mengarah ke barat daya. Terakhir kali, erupsi Merapi dengan arah yang sama terjadi pada 1994 silam. Sebanyak 65 warga Turgo menjadi korban keganasan wedhus gembel. Masih ada sejumlah penyintas peristiwa 27 tahun silam itu, salah satunya, Sukirno, seorang penjaga bunker Tunggularum yang berada di Dusun Tunggularum, Desa Wonokerto, Turi, Sleman. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Hafit Yudi Suprobo.

Sebuah gapura berdiri kokoh tak jauh dari bunker yang terletak di Dusun Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman. Di sebelah timur gapura terdapat sebuah rumah sederhana dengan pepohonan yang rindang di sebelah kirinya. Seorang lelaki paruh baya beraju lengan panjang warna orange bertuliskan BPBD DIY, duduk sambil bercengkrama dengan anak dan istrinya. Secangkir kopi menjadi teman menghabiskan sore itu bersama dengan keluarga.

BACA JUGA: Merapi Berpotensi Erupsi Eksplosif, Ini Pernyataan BPPTKG

Pria itu bernama Sukirno yang merupakan salah satu penyintas erupsi Gunung Merapi pada 1994 silam. Saat kejadian itu, Sukirno kehilangan empat anggota keluarganya, dua mertua, istri, dan kedua anaknya. "Waktu tahun 1994 silam, tanggal 22 November 1994 sebenarnya sudah ada detik-detik Gunung Merapi akan meletus. Jam 7 pagi sebenarnya sudah merasakan hawa panas, kemudian jam pukul 11 lebih berapa menit itu sudah keluar abu vulkanik," ujar Sukirno di depan Bunker Tunggularum, Kamis (28/1) sore.

Saat peristiwa itu, Sukirno berusia sekitar 26 tahun. Pada waktu itu, ia sudah mempunyai seorang istri dan dua orang anak. Rencananya, pada saat kejadian Sukirno, istri dan anaknya berencana menghadiri pernikahan di Dusun Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman. Waktu itu, ia berangkat ke resepsi pernikahan bersama keluarganya dengan menggunakan sebuah sepeda motor L2G Yamaha.

"Kebetulan yang nikah itu teman istri saya seorang guru di Dusun Tritis. Waktu mantenan itu kebetulan semua guru ikut. Kalau saya bukan seorang guru. Saya kan dulu perantau. Pernah di Banten, Palembang, dan pulang kembali ke Turgo sebelum erupsi 1994," jelasnya.

Sesampainya di tempat resepsi pernikahan, tidak ada suara gemuruh. Terlebih, saat itu tidak ada alat-alat teknologi canggih yang menjadi penanda bagi warga di lereng Gunung Merapi untuk bisa beradaptasi dengan aktivitas vulkanik Gunung Merapi. "Kalau dulu kan paling cuma ada bende sama kentongan. Saya baru sampai halaman rumah [tempat resepsi pernikahan]. Seperti abu gumpalan itu. Kelihatannya langsung gelap saja. Padahal gak sampai lima menit itu. Ganasnya awan panas waktu itu kalau kena hewan ternak langsung jadi abu," ujarnya.

BACA JUGA: Pengungsi Merapi di Pakem Mulai Berkurang

Sukirno ternyata masih diberikan kekuatan untuk menyelamatkan satu anaknya yang ia gendong. Ia kemudian lari menyelamatkan diri. Kemudian, anaknya dititipkan ke rumah kerabatnya. Meski tubuhnya terluka akibat awan panas Sukirno tetap mengambil sebuah motor yang sudah tertutupi abu vulkanik Gunung Merapi. "Dengan menggunakan sepeda motor saya langsung menuju ke RSUP Prof Dr Sardjito. Tubuh saya sudah terkena luka bakar, saya sempat nyopot sendal saya, kulit saya sudah menyatu dengan sendal. Menuju Sardjito saya dikawal oleh ABRI [anggota TNI]. Lampu merah tidak saya hiraukan. Saya dirawat selama empat bulan. Saya dirawat oleh dokter dari Jepang," kata Sukirno.

Butuh pemulihan selama sekitar satu tahun sebelum Sukirno bisa benar-benar kembali beraktivitas secara normal. Setiap akan lari pagi, ia harus menahan rasa sakit akibat luka yang belum 100% pulih. Namun, ia tidak bosan menggerakkan tubuhnya. Pasalnya, jika tidak digerakkan bagian tubuh yang terkena luka bakar akan sulit digerakkan. "Sepulangnya saya ke rumah, saudara saya sudah menyiapkan rumah di Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman. Rumah di Turgo tidak ditinggali, tinggal jadi buk," ungkapnya.

Sukirno yang sering nongkrong di Bunker Tunggularum yang berada di dusun Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, akhirnya didapuk oleh BPBD Kabupaten Sleman sebagai penjaga bunker. Pada 2008, ia resmi bergabung di Pusdalops BPBD Kabupaten Sleman yang berlokasi di Pakem, Sleman. "Waktu 2003 saya digaji Rp100.000, saat ini saya digaji Rp500.000," ujarnya.

Saat ini, Sukirno tinggal bersama dengan istri keduanya dan anak-anaknya. Ia mengingatkan warga di lereng Gunung Merapi agar selalu waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana Gunung Merapi yang saat ini berstatus Siaga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman sudah menyiapkan dua barak pengungsian bagi warga Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman. Barak itu disiapkan setelah sejumlah warga terutama dari kelompok rentan diungsikan seiring dengan meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Merapi pada Rabu (27/1).

Kepala BPBD Kabupaten Sleman Joko Supriyanto mengaku menyiapkan barak Purwobinangun, dan barak Pandanpuro, Hargobinangun, Pakem, Sleman. Barak itu disiapkan bagi 150 warga Dusun Turgo, Purwobinangun, Pakem. "Kapasitas barak hanya 100 orang, lainnya ada lagi di barak Pandanpuro, Hargobinangun, Pakem, Sleman Yang jelas saya siapakan dua barak, ini Purwobinangun dan Barak Pandanpuro," ujar Joko Supriyanto.