ReCAAP Laporkan Kasus Pembajakan dan Perampokan di Perairan Asia Meningkat

Kapal petugas melakukan pemanduan dan penundaan kapal di perairan pandu luar biasa Selat Malaka dan Selat Singapura di Batam, Kepulauan Riau, Senin (10/4). - JIBI/Dwi Prasetya
16 Januari 2021 08:37 WIB Zufrizal News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Jumlah kasus pembajakan dan perampokan bersenjata di perairan Asia pada 2020 meningkat 17 persen dibandingkan dengan 2019, berdasarkan laporan Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery against Ships in Asia (ReCAAP) Information Sharing Centre (ISC).

Jika pada 2019 jumlah kasus yang dilaporkan tercatat 83, tahun lalu jumlahnya naik menjadi 97 insiden.

Akan tetapi, seperti dikutip dari www.straitstimes.com, Sabtu (16/1/2021) insiden di Selat Singapura tahun lalu mencapai angka tertinggi dalam 5 tahun terakhir dengan 34 kasus atau lebih dari sepertiga kasus pembajakan dan perampokan di perairan Asia pada tahun lalu.

Baca juga: Sampel DNA untuk 62 Korban Sriwijaya Air SJ-182 Dinyatakan Terkumpul Lengkap

“Dari 34 kasus, 30 kasus terjadi di jalur timur dari Skema Pemisahan Lalu Lintas, dekat Pulau Batam dan Bintan di Indonesia,” kata Direktur Eksekutif ReCAAP ISC Masafumi Kuroki dalam jumpa pers, Jumat (15/1/2021).

ReCAAP ISC yang berbasis di Singapura merilis angka-angka ini dalam laporan tahunannya secara virtual pada acara 12th Nautical Forum, yang dihadiri oleh sekitar 100 peserta dari perusahaan dan asosiasi perkapalan, instansi pemerintah, dan institusi akademis.

ReCAAP ISC mencatat bahwa tingkat keparahan insiden tetap moderat, dengan hampir tiga perempat berada pada kategori terendah, karena pelakunya tidak bersenjata dan awak kapal tidak terluka.

Baca juga: Sleman Terapkan PTKM, Kedisiplinan Warga Diklaim Meningkat

Namun, empat awak kapal yang telah diculik pada Januari tahun lalu dari kapal pukat nelayan di lepas pantai Sabah tetap ditahan perampk.

ReCAAP ISC mengatakan risiko penculikan awak sangat tinggi dan para penculik memiliki informasi tentang penculikan yang direncanakan di Sabah dan Kota Semporna di Pulau Kalimantan wilayah Malaysia, menargetkan kapal-kapal yang lewat di sekitarnya.

Selain di Selat Singapura, peningkatan juga terjadi di laut Bangladesh, India, Filipina, Vietnam, dan Laut Cina Selatan.

Menurut definisi resmi, pembajakan mengacu pada serangan di perairan internasional, sedangkan perampokan bersenjata mengacu pada serangan di perairan teritorial suatu negara.

Kuroki mengatakan bahwa pandemi mungkin telah menjadi faktor yang berkontribusi pada peningkatan kasus pada tahun lalu.

Kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh Covid-19 bagi masyarakat pesisir dapat menyebabkan lebih banyak orang melakukan perampokan laut.

"Mungkin juga pekerjaan yang berkepanjangan dari awak di atas kapal karena sulitnya pergantian awak, menyebabkan kelelahan pada awak dan dapat mengurangi kewaspadaan mereka."

Kuroki menambahkan bahwa perkembangan positif tahun lalu adalah beberapa pelaku ditangkap di perairan Bangladesh, India, Indonesia, Filipina, dan di Selat Singapura, kata Kuroki.

"Kami mendesak negara-negara pesisir untuk menganggap serius pencurian kecil-kecilan dan perampokan laut, karena membiarkan penjahat terus melakukan kejahatan tanpa hukuman hanya akan memberanikan mereka untuk meningkatkan tindakan mereka."

Dia mengatakan bahwa tiga negara pesisir di Selat Singapura—Singapura, Malaysia, dan Indonesia—perlu mengatasi masalah tersebut dengan memperkuat kerja sama dan berbagi informasi.

Perusahaan dan kapal swasta juga harus melakukan penilaian risiko dari lokasi yang mereka lewati, berdasarkan pembaruan terkini tentang situasi keamanan dan keselamatan di area tersebut.

Mereka harus mengadopsi tindakan pencegahan jika perlu, seperti menyiapkan peralatan untuk melindungi kapal mereka.

Sumber : Bisnis.com