30 Menit Seusai Vaksin Covid-19 Harus Diawasi, Ini Sebabnya

Petugas kesehatan memberikan contoh cara memvaksin seorang pasien saat simulasi pemberian vaksin Covid-19 Sinovac di Puskesmas Kelurahan Cilincing I, Jakarta, Selasa (12/1/2021). - Antara/Muhammad Adimaja
13 Januari 2021 17:47 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Penerima vaksin Covid-19 perdana telah melakukan suntikan vaksin termasuk Presiden Jokowi dan pesohor Raffi Ahmad.

Seusai disuntik, mereka diharuskan menjalani pemantauan efek dari vaksin selama kurang lebih 30 menit untuk mengetahui dampak vaksin itu pada tubuh si penerima.

Mengutip petunjuk teknis pelaksanaan vaksinasi Covid-19, pemantauan diperlukan untuk mengetahui  adanya kemungkinan reaksi anafilaktik.

Reaksi anafilaktik adalah reaksi hipersensitifitas generalisata atau sistemik yang terjadi dengan cepat (umumnya 5-30 menit sesudah suntikan) serius dan mengancam jiwa. Jika reaksi tersebut cukup hebat dapat menimbulkan syok yang disebut sebagai syok anafilaktik.

Syok anafilaktik membutuhkan pertolongan cepat dan tepat. Reaksi anafilaktik adalah KIPI paling serius yang juga menjadi risiko pada setiap pemberian obat atau vaksin. Tatalaksananya harus cepat dan tepat mulai dari penegakkan diagnosis sampai pada terapinya di tempat kejadian, dan setelah stabil baru dipertimbangkan untuk dirujuk ke RS terdekat.

Setiap petugas pelaksana vaksinasi harus sudah kompeten dalam menangani reaksi
anafilaktik.

Gambaran atau gejala klinik suatu reaksi anafilaktik berbeda-beda sesuai dengan berat-ringannya reaksi antigen-antibodi atau tingkat sensitivitas seseorang, namun pada tingkat yang berat berupa syok anafilaktik gejala yang menonjol adalah gangguan sirkulasi dan gangguan respirasi.

Reaksi anafilaktik biasanya melibatkan beberapa sistem tubuh, tetapi ada juga gejala-gejala yang terbatas hanya pada satu sistem tubuh (contoh: gatal pada kulit) juga dapat terjadi.

Tanda awal anafilaktik adalah kemerahan (eritema) menyeluruh dan gatal (urtikaria) dengan obstruksi jalan nafas atas dan/atau bawah. Pada kasus berat dapat terjadi keadaan lemas, pucat, hilang kesadaran dan hipotensi. 

Petugas sebaiknya dapat mengenali tanda dan gejala anafilaktik. Padadasarnya makin cepat reaksi timbul, makin berat keadaan penderita. 

Penurunan kesadaran jarang sebagai manifestasi tunggal anafilaktik, ini hanya terjadi sebagai suatu kejadian lambat pada kasus berat. Denyut nadi sentral yang kuat (contoh: karotis) tetap ada pada keadaan pingsan, tetapi tidak pada keadaan anafilaktik.

Gejala anafilaktik dapat terjadi segera setelah pemberian vaksinasi (reaksi cepat) atau lambat. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia