Nakes Menipis, Ganjar Pranowo: Ambil dari Sekolah, Bisa Dilatih!

Sejumlah tenaga kesehatan bersiap untuk didekontaminasi usai bertugas di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran di Jakarta, Kamis (12/11/2020). - Antara
08 Januari 2021 07:27 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Tenaga kesehatan untuk perawatan Covid-19 di Indonesia makin menipis. Hal itu disebabkan angka kematian tenaga kesehatan atau nakes Indonesia.

Sejak Maret hingga Desember 2020, sebanyak 523 tenaga kesehatan gugur selama wabah Covid-19. Bahkan 111 di antaranya gugur hanya pada Desember 2020 saja.

Jumlah kematian nakes pada Desember menjadi yang tertinggi atau naik lebih dari dua kali lipat dari bulan sebelumnya. Pada Mei jumlah nakes meninggal ada 12 orang, Juni 35, Juli 52, Agustus 51, September 62, Oktober 49, dan November 50 orang.

Baca juga: Aktivitas Masyarakat Jogja Dibatasi, Pengusaha Hotel & Resto Galau

Menurut BMJ Global Health 2020, persentase kematian nakes di Indonesia dibandingkan total korban jiwa karena Covid-19 mencapai 2,3 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Eropa 1,4 persen dan Asia Tenggara 0,2 persen.

Beban nakes bakal makin berat melihat angka kasus konfirmasi Covid-19 per Kamis (7/1/2021) mencapai yang tertinggi, sebanyak 9.321 kasus per hari.

Terkait tenaga kesehatan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berpendapat bahwa komitmen menambah kapasitas tempat tidur rumah sakit saja tak akan cukup tanpa ada SDM.

“Kami sudah bicara dengan Pak Menkes, dengan Menteri Pendidikan, ini musti ada cross program, ada dua cara,” kata Ganjar pada konferensi pers, Kamis (7/1/2021).

Usulan pertama, ambil dari sumber sekolah. Kata Ganjar, tak masalah jika kemampuannya masih kurang. Bisa diberikan pelatihan.

Lalu kedua, dengan membaca peta nasional, lihat daerah di luar Jawa yang tidak terjadi peningkatan kasus yang tinggi sehingga bisa dipinjam tenaganya.

“Jadi konteks NKRI dan saling bantunya jalan. Ini proposal saya, saya tidak terlalu pintar sih soal ini, tapi logika saya mengatakan ketika kita kesulitan menyediakan nakes, apakah kita akan diam? Kan tidak,” ungkap Ganjar.

Dengan merekrut relawan dari kalangan pelajar atau mahasiswa, kata Ganjar, mereka bisa bekerja seperti sebagai tenaga surveilans. Sementara yang menangani kesehatan tetap menggunakan tenaga kesehatan.

Baca juga: Usai Rapid Test Antigen, Sopir Chacha Sherly Eks Trio Macan Resmi Ditahan

“Jadi nakes kita protect supaya mereka bekerja itu cukup. Cukup waktu, cukup tenang, tidak tertekan, lebih banyak. Masyarakat juga diedukasi dan kita ingatkan, ini kita siapkan dan tambah, tapi kalau tidak disiplin, mereka juga tidak akan mampu,” tegasnya.

Ganjar menilai cross program bisa menjadi alternatif. Dia mengungkapkan, sampai hari ini pihaknya masih terus menghitung untuk tenaga tambahan yang bisa dihimpun di Jawa Tengah, mana saja yang bisa cross program.

“Untuk itu IDI juga kita ajak, nanti misalnya mahasiswa akhir bisa enggak kita pakai mereka jadi tenaga yang fresh, kita tinggal asses[ment] aja,” ungkapnya.

Sumber : bisnis.com