Krisis Tempe-Tahu, Rokcy Gerung Curiga Ulah Kartel

Perajin memproduksi tahu di salah satu pabrik tahu tradisional di Banda Aceh, Aceh, Kamis (1/10/2020). - ANTARA FOTO
04 Januari 2021 20:27 WIB Rika Anggraeni News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pengamat politik Rocky Gerung mengatakan bahwa adanya kemungkinan kartel pada kenaikan harga bahan baku tempe dan tahu. Seperti diketahui, kedelai pada tahun baru 2021 ini melambung naik hingga 35 persen.

"Itu bisa saja soal lain, soal kartel misalnya. Artinya ada yang nimbun, ada yang mencari untung [dan] segala macam," kata Rocky melalui akun YouTube miliknya, seperti dikutip Bisnis.com, Senin (4/1/2021).

Apabila benar adanya kartel atau penimbun, pemerintah harus segera menyelesaikan permasalahan dan memberitahukan kepada rakyat. "Ini kan yang mustinya dikerjain sama negara secara cepat-cepat memberitahu kepada rakyat apa problem-nya. Soal kurs kah, soal rupiah yang enggak ada harganya lagi, sehingga selisih dolar besar sekali 30 persen, atau soal permainan harga," ucapnya.

Rocky menambahkan, kasus kelangkaan kedelai dan tempe merupakan permasalahan tahunan yang terjadi dalam kurun waktu 3-4 tahun. 

BACA JUGA: Deteksi Covid-19, Polda DIY Gunakan GeNose

Menurut Rocky, kelangkaan tahu dan tempe di pasaran menjadi kepanikan yang riil. Pasalnya semua elemen masyarakat mengonsumsi dua makanan tersebut untuk memenuhi kebutuhan protein dengan harga terjangkau.

"Ini menyangkut hajat hidup seluruh hidup orang. Dan itu yang saya anggap pemerintah enggak pernah mau berpikir tentang soal permasalahan rill seperti ini," katanya.

Selain kartel, Rocky juga menilai ada kemungkinan menyangkut kurs atau nilai tukar mata uang. Sebagaimana diketahui, Indonesia termasuk negara yang mengimpor kedelai.

"Tapi biasanya ini mungkin soal kurs, karena kita impor [kedelai]. Maka, setiap kali kurs rupiah anjlok, harganya terpaksa ngikutin harga kurs pada saat produsen membeli dari supplier," jelasnya.

Adapun para produsen tahu dan tempe memutuskan untuk menaikkan harga jual sekitar 20 persen menyusul terkereknya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama.

Ketua Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifudin mengatakan penyesuaian harga dilakukan usai para produsen tahu dan tempe memutuskan untuk berhenti produksi pada 1 sampai 3 Januari 2021.

Sumber : Bisnis.com