Ini Kandungan Vaksin Sinovac Menurut Bio Farma

Vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu malam, 6 Desember 2020. - Istimewa
03 Januari 2021 17:17 WIB Rayful Mudassir News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - PT. Bio Farma (Persero) menjabarkan kandungan dalam vaksin Sinovac. Vaksin tersebut rencananya mulai didistribusikan pada Januari 2021 hingga Maret 2022.

Juru Bicara Vaksin Covid-19 PT. Bio Farma (Persero) Bambang Herianto menerangkan bahwa vaksin tersebut mengandung sejumlah elemen untuk menangkal masuknya virus Corona di dalam tubuh.

Beberapa kandungan yang ada di dalam vaksin tersebut berupa virus yang sudah dimatikan, aluminium hidroksida, larutan fosfat hingga larutan garam atau natrium klorida.

“Vaksin Covid-19 dari Sinovac hanya mengandung virus yang sudah dimatikan, jadi virusnya sudah dimatikan, tidak mengandung virus hidup atau yang dilemahkan, ini diketahui termasuk cara yang paling umum dalam membuat vaksin,” katanya saat konferensu pers virtual, Minggu (3/1/2021).

“Kandungan lainnya adalah aluminium hidroksida, kemudian larutan fosfat sebagai penstabil atau stabilizer, kemudian larutan garam natrium klorida sebagai isotonis. Tentunya garam ini yang memenuhi standar farmasi,” terangnya.

Di samping itu, dia menyebutkan vaksin Sinovac tidak diproduksi menggunakan bahan pengawet apa pun termasuk seperti borax, formalin, hingga mercuri.

Kata dia, vaksin yang akan digunakan nantinya dipastikan telah melalui pelbagai tahap pengambangan sehingga telah teruji efektivitasnya oleh BPOM dan memenuhi standar internasional termasuk WHO.

Teranyar, sekitar 1,8 juta dosis vaksin dalam bentuk produk jadi telah tiba di Indonesia pada 31 Desember 2020. Dari pengiriman tersebut, total vaksin yang telah masuk ke Indonesia mencapai 3 juta dosis.

Bambang menyebutkan seluruh vaksin telah disimpan di tempat penyimpanan khusus milik Bio Farma sesuai anjuran dengan suhu antara 2 - 8 derajat Celcius.

Vaksin tersebut juga telah menjalani serangkaian pengujian mutu baik dilakukan Bio Farma maupun BPOM. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia