Advertisement
Memprihatinkan! 504 Tenaga Medis Wafat Akibat Virus Corona, Desember Paling Tinggi
Warga melihat liang kubur yang telah disiapkan untuk pemakaman korban kebakaran pabrik korek api gas (mancis) di perkuburan muslim, Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara, Minggu (23/6/2019). - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA -- Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melaporkan pembaruan data kematian tenaga medis akibat Covid-19. Sejak Maret sampai akhir Desember 2020, sebanyak 504 tenaga medis wafat terinfeksi Covid-19.
Tim Mitigasi IDI mencatat angka kematian selama Desember mencetak rekor tertinggi dengan jumlah 52 kematian. Dari total 504 petugas medis dan kesehatan yang gugur, 237 di antaranya adalah dokter, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medik.
Advertisement
“Peningkatan angka kematian tenaga medis dan kesehatan merupakan salah satu dampak dari akumulasi peningkatan aktivitas dan mobilitas yang terjadi belakangan ini. Desember 2020 merupakan bulan dengan angka kematian tenaga medis dan kesehatan tertinggi selama pandemi berlangsung,” kata Ketua Tim Mitigasi IDI Adib Khumaidi laporan resminya, Sabtu (2/1/2021).
Terdapat 11 provinsi dengan kematian tenaga medis dan kesehatan tertinggi mencakup Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Banten, Bali, Nanggroe Aceh Darussalam, Kalimantan Timur, DI Yogyakarta. Sementara itu, profesi tenaga medis dengan kematian tertinggi adalah dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesial kandungan, dokter spesialis anak, dan dokter gigi.
“Kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia, dan 5 besar di seluruh dunia. Angka kematian ini naik hingga lima kali lipat dari awal pandemi,” sambungnya.
Meski pemerintah sudah menyiapkan vaksin yang akan diberikan secara gratis kepada masyarakat Indonesia secara bertahap, Adib mengatakan keberadaan vaksin bukanlah obat untuk Covid-19 dan merupakan upaya preventif.
Dia pun menyoroti rasio positif Covid-19 yang angka 29,4 persen. Situasi dia sebut akan bisa menjadi semakin tidak terkendali jika masyarakat tidak membantu dengan meningkatkan kepatuhan terhadap Protokol Kesehatan 3M.
“Kami juga mengingatkan kepada pemerintah dan pengelola fasilitas kesehatan agar memperhatikan ketersediaan APD bagi para tenaga medis dan kesehatan, serta juga memberikan tes rutin untuk mengetahui status kondisi kesehatan terkini para pekerja medis dan kesehatan,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Iran Sebut AS Minta Bantuan Negara Regional Amankan Selat Hormuz
- WHO: 14 Tenaga Medis Tewas dalam Serangan Fasilitas Kesehatan Lebanon
- Trump Sebut Banyak Negara Siap Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
- Prabowo Perintahkan Polri Usut Tuntas Penyiraman Andrie Yunus
- Polisi Didesak Tangkap Dalang Teror Penyiram Air Keras Aktivis
Advertisement
Berkat 12 Kali Operasi Pasar Murah, Harga Pangan di Kulonprogo Stabil
Advertisement
Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul
Advertisement
Berita Populer
- Pembatasan Media Sosial Anak Dinilai Tekan Depresi dan Bullying
- Indef Ingatkan Daya Beli Warga Jadi Kunci Hadapi Tekanan Global
- Dinkes Bantul Tarik Makanan Kemasan Rusak dari Supermarket
- Gilimanuk Macet Parah, Antrean Kendaraan Mudik Mengular hingga 10 KM
- Arus Mudik Mulai Terlihat di Jalur Pantura Pekalongan-Batang
- Real Madrid Umumkan Skuad Lawan Elche Tanpa Mbappe
- Arus Mudik Lebaran 2026 di Tol Kalikangkung Semarang Mulai Naik
Advertisement
Advertisement







