Meghan Markle Cerita Keguguran Akibat Jatuh Saat Gendong Archie

Pangeran Harry dan Meghan Markle. - Ist/Instagram @sussexroyal
26 November 2020 04:17 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Istri Pangeran Harry, Meghan Markle mengungkapkan bahwa dia sempat mengalami keguguran di musim panas. Ia menggambarkan hal itu sebagai kesedihan yang hampir tak tertahankan.

Duchess of Sussex yang berusia 39 tahun mengenang dalam esai pribadi untuk The New York Times merasakan "rasa sakit yang tajam" pada pagi biasa di bulan Juli saat mengganti popok putranya yang berusia satu tahun, Archie di rumahnya di California.

"Saya jatuh ke lantai dengan dia dalam pelukan saya, menyenandungkan lagu pengantar tidur untuk membuat kami berdua tetap tenang, nada ceria sangat kontras dengan perasaan saya bahwa ada sesuatu yang tidak benar," tulisnya.

Baca juga: Viral Nenek Umur 53 Tahun, Tapi Penampilan Persis ABG

“Saya tahu, saat saya menggenggam anak pertama saya, bahwa saya kehilangan anak kedua.”

Mantan aktris itu dibawa ke rumah sakit di mana dia ingat memegang tangan Harry dan "mencium buku-buku jarinya, basah dari kedua air mata kami".

Ia menuliskan bahwa ia "Menatap dinding putih dingin, mataku berkaca-kaca. Saya mencoba membayangkan bagaimana kita akan sembuh, "tulisnya.

“Kehilangan seorang anak berarti membawa kesedihan yang hampir tak tertahankan, dialami oleh banyak orang tetapi dibicarakan oleh sedikit orang.”

Baca juga: Legenda Sepakbola Argentina, Diego Maradona Meninggal Dunia karena Serangan Jantung

Tidak jelas seberapa jauh Markle dalam kehamilannya, yang belum diungkapkan oleh pihak kerajaan.

Dalam esai - berjudul "The Losses We Share" - Markle mengatakan dia mengungkapkan sakit hatinya sendiri setelah mengetahui bahwa itu adalah ia mengalami peristiwa duka yang juga banyak dialami orang lain.

“Dalam kepedihan atas kehilangan kami, saya dan suami saya menemukan bahwa di kamar yang terdiri dari 100 perempua, 10 hingga 20 dari mereka akan mengalami keguguran,” tulisnya.

“Namun terlepas dari kesamaan yang mengejutkan dari rasa sakit ini, percakapan ini tetap tabu, penuh dengan rasa malu (yang tidak beralasan), dan melanggengkan siklus berkabung sendirian.