Omah Kreasi Center Bangun Pusat Studi Teknologi dan Informasi Ekraf di Jogja

Foto ilustrasi teknologi dan informasi. - Ist/Freepik
25 Oktober 2020 03:37 WIB Abdul Hamied Razak News Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Meski badai pandemi Covid-19 memukul berbagai lini kehidupan masyarakat, namun sektor ekonomi keatif dan pariwisata diyakini mampu berkembang di tengah pandemi Covid-19. Upaya ini bisa dilakukan jika pelaku wisata dan ekonomi kreatif melakukan adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Sekretaris Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Yuke Sri Rahayu menilai ada dua sektor utama di industri ekraf yang cukup potensial untuk dikembangkan di masa pandemi. Salah satunya pengembangan aplikasi digital dan game online.

"Selama pandemi banyak waktu yang dihabiskan di rumah. Ini bisa dimanfaatkan untuk memproduksi aplikasi digital dan game online," katanya pada diskusi terbatas Membangun Optimisme Pelaku Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan peresmian Omah Kreasi Centre Jogja melalui rilis yang diterima Harian Jogja, Sabtu (24/10/2020).

Baca Juga: Pameran Fesyen Tan Mingkuh Tumapaking Jaman Anyar di Pasar Beringharjo Dibuka

Menurutnya, baik aplikasi digital dan game online, katanya, mampu bertahan di saat krisis pandemi dibandingkan sektor lainnya yang terpuruk. Dia menilai logis jika peluang bisnis dua sektor industri kreatif itu sangat menjanjikan untuk ditekuni. Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah membuat kelas daring, diikuti pelaku ekonomi kreatif di 17 sektor agar segera bangkit dan bergerak.

"Ada tiga kunci agar pelaku ekonomi kreatif tetap bisa berkembang, antara lain konsistensi, inovasi dan kreasi. Kami terus sosialisasikan agar pelaku industri kreatif bisa bangkit dengan cara transformasi digital dan penerapan protokol kesehatan," katanya.

Pendiri Omah Kreasi Centre Jogja Khoirun Nisa mengatakan berdirinya yayasan tersebut bertujuan untuk menjembatani masalah yang dihadapi pelaku industri kreatif dengan pangsa pasarnya. "Kami ingin membangkitkan sektor pariwisata dan industri kreatif mulai perfilman, animasi, desain grafis, kerajinan, budaya hingga kuliner. Kami ingin menjembatani masalah yang mereka hadapi," katanya.

Ia menilai, meskipun potensi industri ekonomi kreatif di Jogja besar dan ekosistemnya berjalan baik namun belum dikelola secara optimal. Sebagai langkah awal, pihaknya akan membangun jejaring komunitas pariwisata dan ekraf di DIY. Dia berharap ke depan ada pusat studi berbasis teknologi dan informasi untuk bidang pariwisata dan ekonomi kreatif di Jogja.

Baca Juga: IMA Keluarkan 5 Butir Deklarasi agar RI Keluar dari Pandemi Covid

"Masih banyak yang belum terwadahi sehingga kreativitas mereka belum maksimal. Kami akan adakan berbagai program untuk membantu para pelaku industri kreatif dengan coaching, seminar atau pelatihan. Termasuk nanti kegiatan sosial kebudayaan, kemanusiaan juga," ungkapnya.

Salah satu pelaku ekonomi kreatif yang juga seniman, Farid Stevy Asta mengatakan seluruh sektor industri kreatif harus berubah menyesuaikan diri dengan pandemi. Adaptasi yang dilakukan, katanya bertujuan untuk menggerakkan kembali ekonomi kreratif yang dijalankan para pelaku usaha. "Saat ini secara bertahap teman-teman yang bergerak di dunia kreatif mulai bergerak dengan AKB. Itu harus dilakukan untuk tetap bertahan. Memang masih ada subsektor yang belum bisa bergerak terutama terkait showbiz," katanya.*