Sebanyak 32.000 Karyawan dari Dua Maskapai AS Diberhentikan

Pesawat milik American Airlines Group Inc. diparkir di bandara O'Hare International Airport (ORD) di Chicago, Illinois, AS - Bloomberg / Patrick T. Fallon
01 Oktober 2020 12:57 WIB Reni Lestari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pengurangan karyawan dilakukan dua maskapai penerbangan AS yakni American Airlines Group Inc. dan United Airlines Holdings Inc. Dua perusahaan ini mulai memberhentikan ribuan karyawan seperti yang dijadwalkan semula.

Keputusan diambil di tengah negosiasi yang belum final antara Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Kongres tentang perpanjangan dukungan penggajian untuk maskapai penerbangan AS.

Menurut memo kepada karyawan, kedua maskapai tersebut berjanji untuk membatalkan keputusannya jika pemerintah setuju untuk memberikan bantuan tambahan dalam beberapa hari ke depan. American memberhentikan 19.000 karyawan, sementara United memberhentikan sekitar 13.000 orang.

Keputusan untuk melanjutkan PHK meningkatkan tekanan pada Mnuchin dan Ketua DPR Nancy Pelosi saat mereka merundingkan bantuan ekonomi senilai US$2,2 triliun yang didukung oleh Demokrat. Nilai itu termasuk US$25 miliar dalam bantuan penggajian untuk maskapai penerbangan.

"Saya sangat menyesal kami sampai pada titik ini. Ini bukan layak Anda semua dapatkan," kata CEO American Airlines Doug Parker dalam sebuah surat kepada karyawan, dilansir Bloomberg, Kamis (1/10/2020).

Sementara itu kemarin, Menteri Keuangan mendesak maskapai penerbangan untuk menunda PHK yang akan dimulai ketika putaran bantuan penggajian sebelumnya sebesar US$25 miliar berakhir. Pimpinan DPR menunda pemungutan suara mengenai rencana stimulus untuk memberi Pelosi lebih banyak waktu untuk menyelesaikan kompromi dengan Mnuchin.

United mengatakan telah menjelaskan kepada pemerintahan Trump, Kongres dan serikat buruh bahwa mereka dapat dan akan mengurungkan rencana PHK jika bantuan tambahan diperpanjang. Namun hal itu menjadi belum pasti.

Gelombang PHK itu akan menambah kehilangan pekerjaan yang sudah berjumlah 150.000 di empat perusahaan penerbangan terbesar di negara itu berdasarkan karyawan yang keluar secara sukarela atau mengambil cuti sementara.

Maskapai penerbangan telah mengurangi gaji eksekutif, mengurangi jadwal, dan melarang penerbangan karena permintaan domestik merosot sekitar 30 persen dari level tahun lalu.

Perjalanan internasional masih jauh di bawah itu. Bahkan dengan pengeluaran yang lebih rendah, industri kehilangan miliaran dolar setiap bulan karena biaya melebihi pendapatan.

Adapun Delta Air Lines Inc. akan menghindari sebagian besar PHK hingga setidaknya musim panas mendatang setelah 17.000 pekerja mengundurkan diri dan 40.000 lainnya mengambil cuti yang tidak dibayar.

Perusahaan tetap dalam pembicaraan dengan serikat pilot tentang jalan untuk memangkas jumlah cuti yang tidak dibayar sekitar 2.000 orang. Southwest Airlines Co. juga mengatakan tidak akan memberhentikan pekerja hingga akhir 2020 setelah 28 persen tenaga kerjanya setuju untuk undur diri secara permanen atau sementara.

Sumber : Bloomberg, Bisnis.com