Mumtaz Rais Ungkap Perbedaan Pilihan Politiknya dengan Amien Rais

Cabup Sleman Mumtaz Rais - (Instagram - @mumtaz.rais)
18 September 2020 17:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Mumtaz Rais, anak politikus senior Amien Rais membeberkan perbedaan pandangan politiknya dengan sang ayah.

Santer beredar berita perbedaan pandangan politik antara ayah dan anak, Amien Rais dan Mumtaz Rais. Menanggapi komentar netizen yang menyebutnya anak durhaka karena berbeda pandangan politik, Mumtaz memberikan klarifikasi bersama Gus Miftah lewat YouTube.

Mumtaz mengaku tidak secara sengaja memiliki pandangan politik yang berbeda dari ayahnya. Makin banyak buku yang ia baca, begitu juga dengan pengalamannya bersekolah di Amerika, Mumtaz merasa memiliki makin banyak wawasan yang membuatnya ingin mencoba banyak hal.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa saat ini paham yang dianut oleh keluarganya merupakan sesuatu yang lurus-lurus saja. Sepulangnya dari Amerika, Mumtaz mengaku ingin mencoba sesuatu hal yang baru dan berbeda.

"Mungkin karena bacaan buka dan pergaulan. Kita kan menjadi semakin kaya khazanah, ingin membuktikan, jangan-jangan teori kita yang benar nih, bukan teori keluarga," ujar Mumtaz, menjelaskan.

Gus Miftah pun menilai, perbedaan pandangan antara Mumtaz dan ayahnya adalah hal gila.

Saat ini, lanjut Mumtaz, masyarakat tengah berada di era disruptif, era sosial media, di mana segala halnya berlangsung secara cepat, tetapi tidak tepat. Mumtaz lantas mengaku ingin mencoba, dalam kondisi yang ada saat ini, melakukan banyak hal dengan gaya yang lebih cocok pada dirinya, bukan ayahnya.

Ia mengakui bahwa terjadinya titik tertinggi perbedaan dengan sang ayah adalah saat kongres PAN di Kendari belum lama ini. Satu prinsip yang dipegang, yakni ia tidak selalu harus sepaham dengan prinsip keluarga, termasuk dalam pandangan politik.

Sebagai anak, ia mengakui bahwa Amien Rais merupakan sosok yang cerdas dan menguasai bidang yang ditekuni. Namun, Mumtaz juga menilai bahwa dalam beberapa hal, pandangan Amien Rais tidak bisa diterapkan dengan kondisi politik yang ada saat ini.

"Dengan hadirnya aku, Mumtaz ini adalah Amien Rais versi modifikasi," imbuhnya.

Mumtaz menyebut dirinya sebaga Amien Rais versi milenial. Ia melihat, saat ini ada banyak warganet yang kontra dengan pemikiran Amien Rais, sehingga ia menilai, kehadirannya bisa menjadi jawaban atau jembatan untuk warganet memahami pemikiran sang ayah lewat penyampaiannya.

Secara biologis, Mumtaz mengaku dirinya tetaplah anak Amien Rais. Namun secara ideologis, dirinya bisa memiliki pandangan yang berbeda. Meskipun berbeda pendapat, tetapi hal itu tidak memengaruhi perlakuan baiknya kepada sang ayah.

Selain sang ayah, kakaknya, Hanafi Rais, juga memiliki peran penting dalam dunia politik Mumtaz. Awal mula terjun ke dunia politik, Mumtaz dipercaya kakaknya untuk memegang barisan muda PAN saat Hanafi melanjutkan pendidikannya di Singapura.

Dari situ, Mumtaz menjadi aktif terlibat dalam kegiatan politik, khususnya PAN. Akhirnya hingga saat ini, ia menyebut dirinya sudah basah kuyup berkecimpung di dunia politik.

"Itu terbukti dengan aku terpilih jadi anggota DPR RI, bahkan sebelum kakak dan adik-adikku," ujar Mumtaz.

Meskipun saat ini banyak pihak yang membandingkan dirinya dengan sang kakak, tetapi Mumtaz menyampaikan bahwa sang kakaklah yang menjadi terobosan awalnya berkecimpung di dunia politik. Pada karier politiknya, ia mengaku sebagai politikus termuda pertama yang masuk menjadi anggota DPR RI.

Ia menjadi anggota DPR RI pada usia 24 tahun, dan menurutnya itu adalah momen pertama ada anak muda terjun dalam dunia politik. Meski santer pemberitaan perbedaan pandangan antara dirinya dengan sang ayah, Mumtaz mengakui bahwa sampai saat ini hubungannya dengan keluarga baik-baik saja.

Gus Miftah sendiri menekankan dalam pesannya bahwa seorang anak bisa memiliki perbedaan pandangan dengan keluarganya. Namun, hal tersebut tidak lantas mengartikan bahwa hubungan anatara anak dan orang tua tersebut bermusuhan. Secara bilogis Mumtaz tetaplah anak Amien Rais, tetapi secara ideologis bisa saja berbeda.

Sejak diunggah pada Kamis (17/9/2020), video tersebut sudah ditayangkan lebih dari 25.000 kali. Ada seribu lebih yang menekan tanda jempol dan beberapa tidak menyukai. Ada 200 lebih komentar yang ditinggalkan warganet, tidak sedikit yang mencemooh Mumtaz dan pandangan politiknya serta mengkritik Gus Miftah karena membuat konten bersama Mumtaz.

Sumber : Suara.com