Perusahaan China dan Korea Dipastikan Investasi Baterai Lithium di Indonesia

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
16 September 2020 15:37 WIB Jaffry Prabu Prakoso News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Indonesia ke depan akan fokus pada pengembangan produksi baterai lithium yang akan menjadi salah satu untuk sumber energi moda transportasi pda 2025.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menghasilkan baterai.

“Cadangan ore nikel dunia 20 persen ada di Indonesia. Lalu 85 persen material untuk memenuhi pembagunan baterai ada di Indonesia,” katanya dalam diskusi virtual, Rabu (16/9/2020).

Bahlil menjelaskan bahwa apabila fokus, Tanah Air akan berkontribusi besar dalam menyediakan baterai khususnya dalam dunia otomotif.

“Ini bukan mimpi. Beberapa perusahan China dan Korea [Selatan] hari ini sudah melakukan negosiasi dengan pemerintah Indonesia termasuk dengan BUMN. Bahkan sudah sampai pada tanda tangan HoA [head of agreement],” jelasnya.

BACA JUGA : Rumitnya Regulasi hingga Keterbatasan Lahan Jadi Kendala Investasi di DIY



Sebelumnya dalam pertemuan virtual dengan redaksi Bisnis Indonesia, Bahlil mengklaim bahwa investasi baterai ini adalah satu-satunya proyek di dunia yang fokus pada sektor hulu dan hilir untuk nikel. Nilai investasi yang akan masuk relatif besar rata-rata sebesar Rp70 triliun dan Rp100 triliun.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo membuat perspektif lain dalam berinvestasi. Kini harus ada strategi penanaman modal untuk pengembangan sektor produktif.

“Bicara itu pasti bicara nilai tambah. Indonesia tidak boleh lagi ekspor barang mentah. Kita lihat nikel sudah membuat larangan ekspor ore nikel. Lalu buat hilirisasi. Dari situ industri terbangun,” ucap Kepala BKPM.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia