Sudah 100 Dokter di Indonesia Meninggal karena Covid-19, Warganet Berseru

Ilustrasi. - Freepik
01 September 2020 13:47 WIB Bernadheta Dian Saraswati News Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Jumlah tenaga kesehatan khususnya dokter di Indonesia yang meninggal dunia karena Covid-19 terus bertambah, Bahkan saat ini sudah tembus pada angka 100. 

Keprihatinan akan kondisi ini pun banyak diungkapkan di media sosial. Ada yang mengungkapkan kesedihannya, keprihatinannya karena pemerintah dinilai abai, ada pula yang mengajak untuk menyerukan tagar tentang nakes di media sosial. 

Seperti dilakukan akun Twitter @dr_koko28. Ia mengajak para warganet untuk membuat hastag #SaveOurDoctor agar kondisi tenaga kesehatan di Indonesia tidak semakin terpuruk akibat Covid-19. 

Ajakan untuk menyelamatkan nakes Indonesia juga dilontarkan akun Twitter @firdzaradiany. Ia mengungkap data angka jumlah dokter yang meninggal dunia karena Covid-19 sejak Maret hingga Agustus 2020 dengan total 100 nakes. "Selamatkan Dokter Indonesia," tulisnya dalam akun Twitter disertai emoticon sedih. 

Akun lain pun berkomentar dengan menanyakan selama ini apa kontriobusi Ikatan Dokter Indonesia (IDI).  "Apa IDI tdk bisa lebih banyak berbuat untuk melindungi dokter2 dari hanya sekedar menyampaikan berita duka? Mengajukan apalah gitu ke pemerintah supaya pemerintah lebih banyak berbuat untuk menyetop laju penularan cirus corona ini. Apa IDI tdk punya bergaining power buat ini?," tulis @saifulazza.

Instruksikan 4 Hal

Sementara itu, dilansir dari Suara.com--jaringan Harianjogja.com, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih memberikan empat instruksi kepada Satgas Penanganan Covid-19 dan Kementerian Kesehatan agar tidak ada lagi dokter yang berjatuhan.

Daeng mengungkapkan, telah berkoordinasi dengan Satgas dan Kemenkes sebagai tindak lanjut dari situasi berguguran para garda terdepan dalam penanganan Covid-19. "Kami sudah berkoordinasi dengan Satgas dan Kementerian," kata Daeng saat dihubungi, Senin (31/8/2020).

Poin pertama dalam instruksi tersebut, pengadaan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis. IDI berharap stok APD bagi para dokter, perawat dan tenaga medis lainnya selalu terpenuhi.

Kedua, ia juga meminta agar pihak rumah sakit bisa mengatur jadwal jaga petugas kesehatan. Hal itu dipintanya agar para tenaga medis tidak kelelahan sehingga berisiko tertular virus.

Kemudian instruksi yang ketiga yakni rumah sakit harus menerapkan kebijakan khusus bagi petugas kesehatan yang memiliki resiko paling tinggi tertular.

Sebisa mungkin petugas kesehatan itu dibatasi jadwal kerjanya atau pun tidak perlu praktik apabila memang berbahaya.

Sedangkan, instruksi keempat yakni, mendorong rumah sakit melakukan tes PCR rutin kepada petugas kesehatan. Dengan tujuan agar kesehatan para tenaga medis pun dapat terpantau.

Sumber : Twitter, Suara.com