Pernyataan CDC AS Bahwa OTG Tak Perlu Jalani Uji Corona Menuai Protes

Ilustrasi - cdc.gov
27 Agustus 2020 10:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, WASHINGTON - Pandemi Covid-19 masih berlangsung, dan seluruh dunia masih fokus pada penanganan penyakit ini. Kekinian, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan kotroversial terkait pasien Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala sebelumnya.

CDC mengatakan bahwa orang-orang yang terpapar Covid-19 tapi tak menunjukkan gejala tak perlu dites.

Pernyataan yang dilontarkan pihak CDC, pekan ini, lantas menimbulkan protes di kalangan pejabat dan ahli. Mereka mengkhawatirkan pedoman yang diubah itu dilatarbelakangi kepentingan politik.

Baca juga: Catat! Produsen Obat dan Kosmetik Diimbau Cantumkan Iklan Protokol Kesehatan di Kemasan

CNN dan The New York Times melaporkan pada Rabu bahwa para pejabat kesehatan masyarakat AS diperintahkan oleh kalangan atas pemerintahan Trump untuk menjalankan perubahan-perubahan itu.

Meski begitu, Brett Girior, asisten sekretaris urusan kesehatan di Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) mengatakan tak ada tekanan politik dari pemerintah di balik keputusan mengubah pedoman pengujian.

"Ini satu produk yang dihasilkan oleh ilmuwan dan kalangan medis yang dibahas panjang lebar di gugus tugas," katanya. Gugus tugas itu dipimpin Wakil Presiden Mike Pence.

Baca juga: BPS Kulonprogo Jamin Petugas Sensus Tidak Terpapar Covid-19

Sementara itu, Anthony Fauci, pakar penyakit menular terkemuka AS mengatakan kepada CNN bahwa dia tak ambil bagian dalam pertimbangan-pertimbangan itu.

Saat keputusan itu diambil Fauci mengaku sedang dioperasi.

Fauci menyatakan keprihatianan dan menegaskan bahwa rekomendasi-rekomendasi itu dapat mendorong orang-orang percaya bahwa penyebaran tanpa gejala Covid-19 bukanlah masalah.

Trump mengatakan dalam satu rapat umum bahwa pengujian merupakan pedang "bermata dua". Pengujian, ujar Trump, mendorong lebih banyak kasus yang ditemukan. Hal itu sekaligus menyebabkan AS tampak lebih buruk dibandingkan jika pengujian dikurangi.

Trump menambahkan bahwa dia mendesak para pejabat untuk "tolong, lambatkan pengujian." Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa pernyataan itu sebuah candaan.

AS mengalami lebih dari lima juta kasus Covid-19 yang terdiagnosa dan sekitar 180.000 orang meninggal.

Para pejabat kesehatan pemerintah AS mengatakan selama percakapan lewat telepon dengan para wartawan pada Rabu bahwa pedoman-pedoman itu tak mesti ditafsirkan sebagai "menghambat kesehatan masyarakat".

Tujuannya adalah "pengujian yang sesuai," bukan lebih banyak pengujian demi pengujian itu sendiri, kata Girior.

Negara Bagian California pada Rabu mengumumkan kesepakatan dengan PerkinElmer untuk meningkatkan hampir dua kali lipat kapasitas uji dan memangkas waktu yang dibutuhkan dalam memperbaiki akses uji dan menurunkan biayanya,

Pengujian terhadap orang-orang tanpa gejala, yang dilakukan terlalu dini, untuk mendeteksi secara akurat virus dapat mendorong rasa aman yang semu dan berpotensi membantu penyebaran virus itu, katanya.

Girior mengatakan pedoman baru itu tak didorong oleh kekurangan pengujian.

Para pakar pengujian mengatakan langkah itu dapat merugikan upaya pelacakan kontak untuk mencegah penyebaran virus.

"Tak dapat dipahami mengapa pedoman ini mendadak diubah. Tak ada sains baru yang kami sadari," ujar Dr. Leana Wen, mantan komisioner kesehatan Baltimore dan profesor tamu di Sekolah Kesehatan Masyarakat Institut Milken Universitas George Washington kepada CNN. "Kita butuh lebih banyak tes, bukan lebih sedikit," lanjutnya.

Pedoman baru itu merupakan kolaborasi antara CDC, Badan Pengawasan Makanan dan Obat dan HHS, yang mengawasi dua badan itu.

Sumber : Antara/Reuters