Vaksin Corona Produksi Bio Farma Indonesia Hadir di 2021

Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) memberikan vaksin imunisasi kepada balita di Posyandu Kunir, Desa Sukaurip, Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (10/8/2020). Pemerintah mulai mengaktifkan kembali posyandu desa yang sempat terhenti sejak pandemi COVID-19 dengan memperketat protokol kesehatan dan menyesuaikan kondisi Adaptasi Kebiasaan Baru. ANTARA FOTO - Dedhez Anggara
12 Agustus 2020 09:37 WIB Nancy Junita News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 yang disebabkan Virus Corona menjadi tantangan bagi industri obat dan vaksin. Hingga kini belum ada obat definif untuk melawan virus SARS-CoV-2.

Kalaupun ada, sejauh ini obat yang dipergunakan adalah obat yang sudah ada, namun bermanfaat bagi penderita Covid-19, seperti dexamethasone, obat malaria hidroxychloroquine sulfate (HCQ), obat antiflu avigan, dan obat anivirus remdesivir yang digunakan untuk penderita ebola.

Seperti mata uang yang punya dua sisi, obat yang terbuat dari bahan kimia juga memiliki dua sisi, yakni manfaat (efek positif) dan efek negative (yang tidak diharapkan). Misalnya, saat awal pandemi Covid-19 melanda dunia, masyarakat heboh dengan HCQ yang disebut bisa menyembuhkan penderitta Covid-19, namun belakangan justru efek negatifnya lebih besar dari manfaat, sehingga WHO pun meninjau obat itu untuk Covid-19.

BACA JUGA : Ada Ratusan Kandidat Vaksin Virus Corona, Ini Cara Kerjanya

Belakangan muncul dexamethasone, obat warung, yang digunakan untuk mengobati radang sendi, gangguan darah, hormon, sistem kekebalan tubuh, reaksi alergi, kondisi kulit dan mata tertentu, masalah pernapasan, gangguan usus tertentu, dan kanker tertentu. Namun, ternyata dexamethasone hanya cocok untuk pasien Covid-19 yang parah, artinya pasien yang sudah alat bantu pernapasan ventilator.

relawan uji klinis vaksin

Seorang relawan menunjukkan no antrean uji klinis Vaksin COVID-19 usai pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Dago, Bandung, Selasa (11/8/2020). Pelaksanaan Uji Klinis tahap III vaksin COVID-19 mulai dilaksanakan kepada sedikitnya 1.620 relawan dengan tahapan pemeriksaan kesehatan, tes usap dan kemudian penyuntikan vaksin yang digelar di enam lokasi yakni Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Balai Kesehatan Unpad dan empat puskesmas di Kota Bandung. ANTARA FOTO/Novrian Arbi

Terapi Plasma Konvalesen

Setelah riset obat belum membuahkan hasil, maka kini giat dilakukan terapi plasma darah dari eks pasien Covid- 19. Di Indonesia, sejumlah rumah sakit telah menerapkan terapi ini seperti RS Hasab Sadikin di Bandung, RSPAD Gatot Soebroto di Jakarta.

Penggunaan plasma darah dari penyintas Covid-19 dipercaya dapat memberikan antivirus bagi pasien positif Covid-19, sehingga dapat menurunkan angka kematian dan komplikasi.

BACA JUGA : Vaksin Virus Corona Oxford Diklaim Beri Perlindungan Ganda

Pasien yang awalnya positif dan bergejala berat hingga kritis dapat tertolong dengan pemberian terapi plasma konvalesen Plasma ini mengandung zat antibodi yang melawan virus dan membantu penderita dengan gejala berat untuk melawan komplikasi organ.

Seorang penyintas Covid-19 dapat menjadi donor bila, dalam dua kali uji swab negatif Virus Corona, dan dalam keadaan sehat.

Idealnya, memang menggunakan vaksin Covid-19 untuk melawan Virus Corona, namun karena belum ada vaksinnya, maka terapi plasma konvalesen ini menjadi ‘senjata’ melawan Virus Corona.

jokowi

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) berbincang dengan Direktur Utama PT. Bio Farma Honesti Basyir (kiri) saat meninjau fasilitas produksi gedung 43 yang nantinya akan digunakan untuk memproduksi vaksin COVID-19, di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (11/8/2020). ANTARA FOTO/HO/dok PT Bio Farma

Uji Klinis Vaksin Covid-19

Di tengah dunia berperang melawan Corona, ada secercah harapan dari riset pengembangan vaksin untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Di dunia, pada Selasa (11/8/2020), Covid-19 menelan korban sebanyak 738,726 jiwa dengan total kasus 20,249 juta, yakni riset vaksin di beberapa negara hasilnya positif.

Di Indonesia, Kemenkes mencatat total kasus Covid-19 di Indonesia 128.776, dengan perincian 83.710 orang sembuh, dan 5.824 orang meninggal.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) per tanggal 31 Juli 2020, terdapat 26 kandidat vaksin yang saat ini berada dalam tahap uji klinis, sementara 139 lainnya sedang dalam tahap uji pra-klinis di berbagai negara.

Satu dari 26 kandidat vaksin itu ada di Indonesia yang sejak kemarin sudah mulai tahap uji klinis tahap 3 di Bandung Jawa Barat (Jabar), yang dilakukan perusahaan vaksin nasional PTY Bio Farma bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad).

BACA JUGA : Uji Klinik Kandidat Vaksin Dilakukan Ketat untuk Keamanan

Presiden Joko Widodo menyaksikan langsung pelaksanaan uji klinis tersebut kepada 19 relawan di Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Universitas Padjadjaran (Unpad) di Jalan Eyckman, Kota Bandung, Selasa (11/8/2020).

Jokowi didampingi Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, Menteri BUMN Erick Thohir dan Kepala BNPB, Doni Monardo.

Ketua Tim Peneliti Uji Klinis vaksin Covid-19, dari Fakultas Kedokteran Unpad Kusnandi Rusmil menyebut setelah mendapat suntikan pertama, 14 hari kemudian relawan itu harus kembali datang ke rumah sakit untuk mendapat suntikan kedua. Setelah dua kali disuntik, baru enam bulan kemudian dicek lagi.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito menggaris bawahi bahwa uji klinis merupakan tahapan penting dalam pengembangan vaksin untuk mendapatkan data khasiat dan keamanan yang valid.

Pelaksanaan uji klinis harus memenuhi aspek ilmiah dan menjunjung tinggi etika penelitian sesuai dengan pedoman cara uji klinis yang baik (CUKB atau GCP/Good Clinical Practice). Hasil uji ini dibutuhkan untuk mendukung proses registrasi vaksin Covid-19 sebagai salah satu bentuk akses terhadap kebutuhan vaksin.

 Vaksin yang akan diuji juga harus diproduksi sesuai dengan standar cara pembuatan obat yang baik (CPOB). Khusus untuk vaksin, dilakukan sertifikasi lot release oleh Badan POM untuk menjaga keamanan dan mutu vaksin tersebut.

Produksi 2021

Gubernur Jabar Ridwan Kamil menjadi satu dari 1.620 relawan yang menjalani uji klinis fase kandidat vaksin Covid-19.

Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil itu lewat video yang diunggahnya di akun Instagram @ridwankamil mengatakan bahwa dia percaya proses pembuatan vaksin dilakukan secara ilmiah.

“Jangan sampai ada pernyataan gubernurnya saja tidak yakin, kita menjadi kelinci percobaan,” ujarnya.

Emil pun memenuhi kriteria relawan, yaitu sehat, berusia 20 tahun hingga 59 tahun, domisili dekat dengan PT Bio Farma karena tim peneliti akan memeriksa secara berkala efek dari penyuntikan vaksin.

 “Jika uji klinik ini berhasil, maka saya bisa testimoni yang valid karena saya ikut sebagai relawan,” kata Emil.

Uji klinik fase tiga calon vaksin Covid-19 kerja sama PT Bio Farma dan perusahaan vaksin asal China, Sinovac, sudah dimulai Selasa (11/8/2020). 

Berdasarkan perhitungan statistik diperlukan 1.620 relawan untuk uji klinik fase 3 yang akan mengukur manfaat dan keamanan vaksin.

Relawan akan mendapat dua kali suntikan, dan akan dipantau dari tim tenaga medis dari Unpad. Tim akan mengukur persentase kenaikan imunitas setiap relawan, jika naik di atas 90 persen, maka  kandidat vaksin itu bermanfaat untuk genetika orang Indonesia.

Namun, bila kenaikan imunitas kurang dari 90 persen, kata Emil, tidak layak diproduksi. Bila berhasil, maka Indonesia bisa memproduksi vaksin Covid-19 pada Januari 2021, dan akan diberikan pada kelompok risiko tinggi. Kemudian, diperkirakan untuk seluruh warga Indonesia pada tahun 2022.

puskesmas

Seorang relawan menunjukkan no antrean uji klinis Vaksin COVID-19 usai pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Dago, Bandung, Selasa (11/8/2020). Pelaksanaan Uji Klinis tahap III vaksin COVID-19 mulai dilaksanakan kepada sedikitnya 1.620 relawan dengan tahapan pemeriksaan kesehatan, tes usap dan kemudian penyuntikan vaksin yang digelar di enam lokasi yakni Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Balai Kesehatan Unpad dan empat puskesmas di Kota Bandung. ANTARA FOTO/Novrian Arbi

Diproduksi Bio Farma

Di tengah kabar baik kandidat vaksin Covid-19, ada pihak yang mempertanyakan: kenapa vaksin China?

Emil menegaskan bahwa bakal vaksin yang diuji klinis diproduksi di Bandung oleh Bio Farma, bukan perusahaan vaksin dari China, Sinovac.

Seluruh proses produksi dilakukan di Bio Farma (dari 0 persen hingga 100 persen), hanya rumus untuk membuat kandidat vaksin yang kerja sama dengan China. Selebihnya, untuk proses produksi dan uji klinis di Bandung.

BACA JUGA : Arab Saudi Uji Coba Fase 3 Vaksin Covid-19 pada 5.000 Orang

Adapun kandidat vaksin tersebut merupakan virus yang tidak aktif (mati), kemudian diproses sebagai vaksin, selanjutnya disuntikkan ke tubuh manusia agar muncul kekebalan tubuh melawan Virus Corona.

Vaksin dari virus yang mati ini lebih aman dibanding vaksin dari virus yang dilemahkah, maupun vaksin dari bagian tubuh virus. Hanya saja, memerlukan logistik yang banyak karena penyuntikan dua kali untuk mendapatkan daya tahan tubuh maksimal.

“Jangan asing, asing, asing, yang penting dalam perang ada alat perang untuk menembak musuh. Mana saja yang siap, kita gunakan,” tandas Emil.

Dibanding kandidat vaksin Covid-19 dari Inggris, Korea Selatan, Indonesia, maka Sinovac lebih siap untuk diuji klinis.

Kalau sudah begini, pilih selamat dari cengkeraman Virus Corona dengan vaksin hasil kerja sama Bio Farma-Sinovac, atau menunggu vaksin buatan dalam negeri tanpa  kerja sama asing yang belum  tahu kapan uji klinis fase 3.

 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia