Advertisement
Kemenhub Akui Kewalahan Atur Penumpang KRL
Kereta Rel Listrik melintas didekat Stasiun Tanah Abang, di Jakarta, Jumat (10/4). PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) akan menyesuaikan operasional kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek sejalan dengan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Sesuai aturan PSBB, maka operasional KRL di pemerintah provinsi DKI Jakarta dimulai pukul 06.00 WIB dan berakhir hingga 18.00 WIB. Bisnis - Dedi Gunawan
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA – Kementerian Perhubungan mengaku kesulitan untuk mengontrol lonjakan penumpang yang tak sesuai dengan kapasitas kereta rel listrik (KRL) atau commuter line saat penerapan fase kenormalan baru (new normal).
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri mengatakan, beberapa kantor di daerah Jabodetabek telah mulai menerapkan skema bekerja di kantor atau work from office. Hal itu membuat di beberapa stasiun terjadi penumpukan konsetrasi penumpang dari kalangana pekerja di jam-jam tertentu.
Advertisement
“Gambaran puncak ini kapasitas selalu ada yang melonjak, kapasitas tak mampu hadapi lonjakan, akibatnya ada antrian. Saat menjelang transisi ini semakin meningkat, beberapa kantor menerapkan WFO ini kondisi yang ada sehingga terjadi di hari tertentu penumpukan terkonsentrasi jam-jam tertentu,” katanya, dalam webinar, Sabtu (13/2/2020).
Dia mengatakan, lonjakan volume penumpang biasanya terjadi pada jam-jam sibuk yakni pukul 06.00-07.00 WIB dan sore hari pada pukul 16.00-18.00 WIB.
Menurut data yang diperolehnya, kapasitas kereta yang disediakan pada periode pukul 06.00-08.00 mencapai 69.168 orang. Namun, pada 10 April-12 Juni 2020 terdapat beberapa kali lonjakan penumpang di atas kapasitas. Salah satu rekor tertinggi jumlah penumpang adalah sebanyak 77.575 penumpang yag terjadi pada April 2020.
Dia melanjutkan, secara rata-rata jumlah penumpang sepanjang pekan ini mencapai 70.000 orang. Jumlah itu tentu saja melampaui kapasitas yang disediakan oleh KCI.
“Penumpang rute Jakarta-Bogor ini mencapai 60 persen dari total penumpang di Jabodetabek. Di minggu-minggu pertama kapasitas tak mampu menampung jam puncak. Sampai jam 8.00-9.00 WIB masih terjadi antrian,” katanya.
Untuk itu dia meminta penumpang KRL dapat menghindari perjalanan yang dilakukan pada jam-jam sibuk pada pagi dan sore hari. Hal itu dilakukan agar dapat protokol kesehatan dapat dijalankan dengan baik dan melindungi penumpang dari potensi penularan virus corona.
“Kalau mau, penumpang bisa pakai moda alternatif lain. Kita harus bisa disiplin protokol dilakukan menuju kebiasaan baru,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Sidang E-Court, Gugatan Cerai Atalia-Ridwan Kamil Segera Diputus
- Kuba dan Kolombia Kecam Serangan AS ke Venezuela
- Venezuela Kecam Agresi AS dan Aktifkan Pertahanan Nasional
- Gempa Vulkanik Guncang Filipina, Gunung Taal Catat 25 Getaran
- Gempa 6,5 M Guncang Mexico City, Satu Tewas, Belasan Warga Terluka
Advertisement
Advertisement
Favorit Nataru, KA Joglosemarkerto Angkut Puluhan Ribu Penumpang
Advertisement
Berita Populer
- Perputaran Uang di DIY Tembus Rp9 Triliun Selama Libur Nataru
- Jip Wisata Kaliurang Dominasi Kunjungan Libur Tahun Baru
- TKA 2025: DIY Unggul Nasional di Literasi dan Numerasi
- Minimarket di Kulonprogo Resmi Larang Kantong Plastik
- Favorit Nataru, KA Joglosemarkerto Angkut Puluhan Ribu Penumpang
- Ini Jadwal KRL Jogja-Solo Palur-Tugu, Sabtu 3 Januari 2026
- Alex Rins Ungkap Alasan Yamaha Tinggalkan Mesin Inline-Four
Advertisement
Advertisement




