Hadapi New Normal, Kementerian PUPR Terapkan e-Learning

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. - Ist/ dok KemenPUPR
28 Mei 2020 11:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyempurnakan penerapan metode pembelajaran jarak jauh atau e-learning  dalam rangka memasuki era normal baru.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan sumber daya manusia (SDM) di Kementerian PUPR harus unggul untuk mendukung Visi Indonesia Maju. Pengembangan SDM merupakan salah satu dari lima program prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Ma’ruf Amin

"Untuk terus menuju ke arah e-learning, maka harus disiapkan SDM yang dapat menggunakan teknologi informasi. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) yang bertugas melaksanakan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi para aparatur sipil negara (ASN) PUPR harus bisa membantu kesiapan para peserta pelatihan terutama bagi para pegawai senior yang belum terbiasa dengan teknologi informasi," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (28/5/2020).

Sebagai upaya menyiapkan SDM untuk dapat beradaptasi dengan e-learning, Menteri Basuki mengatakan BPSDM akan menyiapkan modul-modul metode pembelajaran jarak jauh. "Dalam merumuskan modul tersebut agar dibantu oleh para direktur jenderal, kepala badan, dan seluruh kepala balai untuk mendukung pelaksanaan e-learning dan juga e-office," ujar Basuki.

Upaya Kementerian PUPR untuk terus menyempurnakan e-learning tersebut sesuai dengan Peraturan Lembaga Administrasi Negara (LAN) Nomor 10 Tahun 2020 tentang Panduan Teknis Penyelenggaraan Pelatihan Dalam Masa Pandemi COVID-19, yakni dengan menggunakan metode pembelajaran jarak jauh.

Kepala BPSDM Sugiyartanto mengatakan, BPSDM tidak bisa menunggu pandemi usai untuk tetap melaksanakan pelatihan, maka BPSDM melakukan terobosan dan inovasi dengan tetap melaksanakan kediklatan melalui virtual seperti ini.

"Hal ini senada dengan visi PUPR 2030 dan arahan presiden bahwa aparatur sipil negara harus mampu kompetitif, global dan antisipatif terhadap kondisi birokrasi yang berkelas dunia pada tahun 2045,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, Sugiyartanto meminta setiap pelatihan direkam, sebab menurutnya harus ada kriteria yang dilakukan untuk penyesuaian. Para peserta, menurut dia, juga mesti diberikan toleransi apabila pihak penyelenggara memiliki kendala teknis, sehingga peserta tetap nyaman dalam mengikuti pembelajaran.

Sugiyartanto menambahkan, terdapat perbedaan signifikan dalam pelatihan klasikal di kelas dengan pembelajaran jarak jauh, yakni  tingkat kelulusan dengan metode klasikal lebih tinggi, karena peserta lebih fokus dalam mengikuti pembelajaran.

"Sedangkan dengan metode e-learning peserta tetap bekerja sesuai dengan penugasan di unit kerja masing-masing, sehingga ada kemungkinan beberapa peserta tidak mengikuti pembelajaran secara keseluruhan," ujarnya.

Sumber : Antara