Gempa M 7,1 Guncang Kumamoto Jepang, Lebih dari 50 Orang Terluka
Gempa magnitudo 7,1 mengguncang Kumamoto, Jepang, melukai lebih dari 50 orang. Gempa susulan M6,1 menyusul, sementara peringatan tsunami sempat dikeluarkan.
Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi. /Suara.com-Ria Rizki
Harianjogja.com, JAKARTA- Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sudah kembali beraktivitas setelah dinyatakan sembuh dari infeksi virus corona Covid-19.
Tetapi, Menhub Budi Karya mengaku dirinya sempat mengalami penurunan fungsi otot setelah menjalani perawatan virus corona Covid-19 dengan alat bantu ventilator.
"Saya baru tahu Covid-19 setelah hari kedua, Dokter Basuki sampaikan menjalani masa recovery, sekarang ini harus ada proses lanjutan karena beberapa fungsi tubuh belum berjalan," cerita Menhub Budi dalam acara live Instagram @tempodotco, Sabtu (16/5/2020).
Menhub Budi Karya pun menceritakan kondisinya usai perawatan virus corona Covid-19. Lantas, Menhub Budi Karya mengaku fungsi ototnya belum bekerja maksimal.
"Pikiran dan otak sudah berjalan baik, secara fisik memang terlihat normal tapi dilihat secara parsial fisik belum boleh. Setelah dianalisa otot kaki, paha, betis saya itu belum normal jadi harus dilatih lagi," lanjutnya.
Seorang dokter di China telah mempelajari sejumlah efek jangka panjang dari infeksi virus corona Covid-19. Dalam beberapa kasus yang dilansir oleh The Sun, sejumlah pasien corona Covid-19 yang sembuh perlu perawatan kerusakan paru-paru, jantung, masalah kehilangan otot hingga gangguan psikologis.
Ternyata tingkat keparahan gejala virus corona Covid-19 yang dialami oleh pasien akan memengaruhi efek samping jangka panjang.
Dalam hal ini, orang yang terinfeksi virus corona Covid-19 dalam kondisi parah bisa mengalami kerusakan sejumlah organ hingga komplikasi lain.
Adapun kehilangan fungsi otot dan tungkai salah satu efek jangka panjang dari virus corona Covid-19, sama halnya yang dialami oleh Menhub Budi Karya.
Selain hilangnya fungsi otot, virus corona Covid-19 juga bisa menyebabkan nyeri otot. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dilansir oleh NPR, telah menganalisis hampir 56 ribu kasus peradangan akibat virus corona Covid-19.
Menurut laporan itu, banyak infeksi virus yang bisa menyebabkan nyeri otot akibat respons peradangan terhadap virus. Dalam kasus ini sendiri, hampir 15 persen pasien corona Covid-19 mengalami nyeri otot.
Dr. David Aronoff , kepala Divisi Penyakit Menular di Vanderbilt University Medical Center mengatakan pilek atau flu musim dingin memang biasanya menyebabkan nyeri otot. Karena ini tidak musim dingin, seseorang perlu mewaspadai bila mengalami nyeri otot.
"Kami tahu bahwa nyeri toto bisa dikaitkan dengan virus corona Covid-19. Kondisi itu juga sangat masuk akal," kata Aronoff.
Bahkan Aronoff juga menambahkan kelelahan atau kelemahan otot sebagai efek dari virus corona Covid-19. Tapi, kelemahan otot ini bukan termasuk gejala corona Covid-19 yang menonjol, karena beberapa orang mengalaminya tanpa hasil positif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gempa magnitudo 7,1 mengguncang Kumamoto, Jepang, melukai lebih dari 50 orang. Gempa susulan M6,1 menyusul, sementara peringatan tsunami sempat dikeluarkan.
BGN memprioritaskan pembangunan dapur MBG di daerah dengan angka stunting tinggi untuk mempercepat intervensi gizi penerima manfaat.
KPK memeriksa saksi OTT Bupati Pemalang dan mendalami dugaan suap proyek serta jual beli jabatan dengan barang bukti lebih dari Rp2 miliar.
PAD sektor wisata Gunungkidul mencapai Rp43,3 miliar hingga akhir Juli 2026 dan melampaui target di tengah evaluasi penarikan retribusi.
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) resmi meluncurkan Pusat Pengembangan Bahasa untuk Kompetensi, Komunikasi, dan Bisnis pada Rabu (29/7/2026).
Sebanyak 45 kebakaran lahan terjadi di Bantul hingga 26 Juli 2026, mayoritas dipicu pembakaran sampah yang tidak diawasi.