Ini yang Haris Dilakukan agar Kita Siap Hadapi Pandemi di Masa Mendatang

Petugas kesehatan mengambil sampel darah warga saat Rapid Test COVID-19 di Taman Balai Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (4/4/2020). - Antara/Novrian Arbi
05 Mei 2020 18:47 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Virus corona baru yang mengakibatkan pandemi global telah menyebabkan lebih dari 3,5 juta infeksi dan 250.000 kasus meninggal dunia.

Para pakar sebelumnya telah memperingatkan dunia kesehatan bahwa kemungkinan terjadinya epidemi dan pandemi yang disebabkan oleh virus sangat mungkin terjadi dan menelan banyak korban jiwa.

Bahkan, beberapa di antaranya menyebut bahwa kasus seperti ini umumnya terjadi berulang dalam rentang waktu tertentu. Lantas bagaimana kita melindungi dunia dari pandemi berikutnya di masa depan?

Dilansir dari Business Insider, Selasa (5/5/2020) sejumlah ahli yang diwawancara mengatakan bahwa perlu ada investasi jangka panjang dalam kesehatan masyarakat untuk menangani wabah. Selain itu, ada juga kebutuhan untuk lebih banyak investasi terhadap penelitian biomedis, termasuk vaksin.

Emily Landon, spesialis penyakit menular di University of Chicago Medicine, Amerika Serikat mengatakan bahwa kunci untuk melindungi dunia dari pandemi berikutnya adalah investasi dalam kesehatan masyarakat dan organisasi kesehatan.

Menurutnya, masalah utama yang telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir adalah terbatasnya sumber daya yang dimiliki, termasuk dalam hal jumlah tes yang tersedia, “Semakin banyak orang pintar yang dimiliki, semakin banyak yang bisa dilakukan” katanya.

Ynonne Maldonado, profesor pediatri dan epidemiologi di Stanford University, Amerika Serikat mengatakan tidak hanya ada solusi untuk mempersiapkan pandemi di masa mendatang, tetapi dia setuju bahwa memperbaiki infrastruktur kesehatan akan menjadi kunci.

“Saya pikir infrastruktur kesehatan masyarakat kita yang sangat tidak terawat dan itu tidak terpikirkan oleh kita. Benar-benar tidak ada dorongan,” katanya.

Dia menyebut kurangnya investasi di bidang ini sangat mengkhawatirkan padahal ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kejadian-kejadian masa lalu. Pun saat ini yang harusnya bisa lebih menjadi pemicu untuk menuangkan lebih banyak dana di bidang kesehatan.

Maldonadi juga mengatakan bahwa diperlukan lebih banyak organisasi-organisasi kesehatan yang dapat membantu memberikan layanan terapi dan pengembangan vaksin yang cepat. Artinya, dibutuhkan sumber daya manusia yang juga tidak sedikit di sektor riset dan pengembangan.

Jeremy Youde, dekan College of Liberal Arts di University of Minnesota mengatakan bahwa para pakar kesehatan sudah mengetahui langkah-langkah yang perlu diambil untuk mempersiapkan masalah di masa depan, berdasarkan apa yang telah dipelajari di masa sebelumnya.

Mereka telah memahami bahwa akan ada pandemi di masa mendatang, tetapi tidak mengetahui kapan tepatnya wabah akan terjadi.

“Di satu sisi kami mencoba mencari tahu bagaimana kami bisa belajar dari apa yang terjadi di masa lalu. Sementara di sisi lain, kami harus memiliki sistem yang cukup tangguh sehingga dapat fleksibel dan berguna dalam situasi yang mungkin tidak dipahami pada titik ini,” katanya.

Menurutnya, membangun jaringan yang dapat menangani krisis di masa depan dengan cukup baik serta menjalankan skenario potensial sekaligus melakukan lokakarya tanggapan dengan berbagai pilihan menjadi sangat penting.

Dia menyebut setelah pandemi terakhir, sering kali ada pengakuan bahwa perlu persiapan lebih lanjut. Akan tetapi, umumnya hal tersebut tidak dilakukan dengan benar-benar sehingga pandemi di masa berikutnya akan dimulai dari titik terbawah lagi.

Tobert Nyenswah, peneliti senior di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health mengatakan bahwa sudah ada dokumen-dokumen kunci resmi yang menyoroti apa saja yang dibutuhkan dunia untuk mempersiapkan pandemi di masa depan.

Hal ini termasuk laporan dari PBB yang diterbitkan setelah wabah Ebola, yang menguraikan 27 rekomendasi yang harus diambil dunia untuk mencegah peristiwa serupa lainnya. Ada juga serangkaian rekomendasi kebijakan oleh kelompok pakar independen, yang dipimpin oleh Bill Gates.

Dia melanjutkan, ada juga Global Health Security Index yang menawarkan wawasan tentang keamanan kesehatan global dari 195 negara di seluruh dunia, dan opsi-opsi rekomendasi untuk meningkatkan proses tersebut.

Nyenswah mengatakan bahwa sejauh ini negara-negara cenderung mengabaikan dokumen tersebut begitu krisis telah berlalu. Namun demikian, dia optimistis setelah pandemi Covid-19 akan lebih banyak negara yang menerapkan rekomendasi dari dokumen-dokumen tersebut.

Kendati isi dari dokumen kesehatan tersebut bervariasi, tetapi saran-saran utamanya mencakup hal-hal seperti penilaian dan tanggapan prevalensi penyakit yang kuat, penelitian dan pengembangan vaksin dan terapi, serta pembentukan koordinasi global untuk memastikan respons yang efisien.

Greg Poland, direktur Mayo Clinic Vaccine Research Group mengatakan ada tiga kunci untuk mempersiapkan diri dari pandemi berikutnya. Pertama adalah mengakui bahwa tidak ada negara yang bisa melakukannya seorang diri.

Kedua, memahami bahwa peristiwa semacam itu bisa terjadi di masa depan. Ketiga, kesiapan, “Kita harus bekerja sama satu sama lain. Kita perlu pengawasan global yang kuat dan berbagi data serta harus memikirkan kembali kesiapan yang diperlukan,” katanya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia