Pandemi Corona, Negara Miskin Tidak Siap Berlakukan Lockdown

Warga duduk di restoran sebelum jam malam yang diberlakukan karena corona virus di Kota Makati, Metro Manila, Filipina, Senin (16/3/2020). - Bloomberg/Veejay Villafranca
02 April 2020 23:27 WIB Nirmala Aninda News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Negara berkembang menghadapi kondisi sulit dengan risiko lebih besar dari negara maju dalam upaya menahan penyebaran virus Corona (Covid-19),

Dari Asia Tenggara hingga Amerika Selatan, pemerintah berjuang untuk memberlakukan lockdown gaya China yang sangat ketat.

Beberapa negara berkembang tidak memiliki cukup sumber daya untuk menerapkan langkah ekstrim berbasis teknologi seperti yang dilakukan oleh Singapura dan Korea Selatan, yang sukses menahan lonjakan angka penularan virus Corona tanpa memberlakukan lockdown.

“Negara-negara ini menghadapi keadaan yang cukup serius. Kemampuan mereka untuk memberlakukan lockdown dan mengisolasi masyarakat lebih terbatas daripada negara maju," kata Barbara McPake, Direktur Nossal Institute for Global Health di University of Melbourne, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (2/4/2020).

Vietnam, dengan 222 kasus virus corona terkonfirmasi, pada Rabu (1/4/2020), bergabung dengan pemerintah-pemerintah Asia yang mengimbau warga untuk tinggal di rumah, dengan dimulainya masa isolasi selama setengah bulan hingga 15 April. Namun, langkah ekstrim ini telah memberikan dampak buruk.

Di India, lockdown telah menelantarkan puluhan ribu pekerja asing yang kini berada jauh dari rumah. Di Kenya, jam malam diberlakukan oleh pemerintah dan polisi akan menangkap mereka yang nekat keluar rumah. Sementara itu di Ekuador, tentara diturunkan untuk berjaga-jaga di Quito, kota terbesar di negara itu.

Tentu saja, virus ini juga telah membuat susah negara-negara kaya, termasuk AS dan Italia. Tetapi banyak negara berkembang lebih rentan karena kontrol yang lemah atas warganya dan kurangnya dana untuk langkah-langkah pengendalian efektif.

Hanya sedikit dari negara berkembang yang memiliki cadangan miliaran dolar dalam stimulus yang diperlukan untuk memastikan stabilitas ekonomi dan sosial.

Republik Benin yang terletak di Afrika Barat, dengan 13 kasus terkonfirmasi, tidak dapat menegakan kebijakan lockdown karena tak memiliki sarana seperti negara-negara kaya.

"Jika Benin mengambil tindakan yang akan membuat semua orang kelaparan, peraturan pada akhirnya akan dilanggar," ujar Presiden Patrice Talon.

Di Afrika, upaya untuk mengendalikan situasi menjadi lebih sulit dengan sistem pelayanan kesehatan yang lemah dan terbebani oleh penyakit yang ada, dengan HIV/AIDS, TBC dan malaria menewaskan ratusan ribu orang setiap tahunnya.

Langkah-langkah pengendalian juga memberi tekanan pada ekonomi yang lebih kecil ketika pabrik-pabrik tutup. 

Banyak juga negara dihadapkan dengan pilihan untuk menggunakan sumber daya keuangan yang ada guna mendukung fasilitas layanan kesehatan atau tetap beralih ke kreditor internasional.

Tekanan anggaran semakin memburuk di India setelah Perdana Menteri Narendra Modi memberlakukan karantina selama tiga pekan untuk 1,3 miliar penduduknya.

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo belum memberlakukan karantina wilayah sebagian atau menyeluruh (lockdown), atau pun pembatasan pergerakan orang di seluruh negeri.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia