Harga BBM 19 September 2026, Pertamax hingga Shell Naik
Harga BBM 19 September 2026 masih mengikuti penyesuaian awal bulan. Cek harga Pertamina, BP-AKR, Vivo, dan Shell terbaru.
Suku Anak Dalam di Jambi/Okezone-Nanang Fahrurozi
Harianjogja.com, MERANGIN-- Warga suku anak dalam di Jambi dikabarkan mengalami kelaparan.
Musim kemarau panjang ternyata juga mengancam sumber pangan bagi warga suku anak dalam (SAD). Sehingga membuat warga SAD yang berada di Kampung Duren Kecamatan Renah Pamenang Kabupaten Merangin, Jambi terancam kelaparan.
Biasanya warga SAD Kebun Duren, sering berburu babi namun saat ini sangat sulit mendapatkan babi. Sementara getah karet juga sangat murah, sehingga memaksa warga SAD hanya bisa makan satu kali dalam sehari.
"Semenjak kemarau ini kami sangat kesulitan mencari babi. Apalagi getah karet juga sangat murah harganya dan kami terpaksa makan sekali dalam sehari itu saja jika kami punya beras," ungkap Jhon Temenggung SAD Kebun duren, Kamis (17/10/2019).
Selama ini, warga terpaksa makan monyet hasil buruan, itupun jika mereka dapat berburu. Tapi jika tidak terpaksa hanya mengkonsumsi air putih untuk mengganjal perutnya.
"Kadang kalau sudah lapar beras tidak ada, Terpaksa kami cari monyet untuk dimakan jika tidak dapat terpaksa hanya minum air putih saja," ujarnya lagi.
Jhon tidak tinggal diam, dan pernah mengajukan permohonan rawan pangan kepada Dinas Sosial namun tidak pernah ada tanggapan.
"Lewat pemerintah desa saya sudah ajukan surat rawan pangan. Tapi sampai saat ini tidak ada realisasinya. Saya bingung warga saya banyak berdatangan ke rumah dengan kondisi lapar," ucapnya.
Sementara, Keluarga Arif warga SAD Kebun Duren bersama keluarganya terpaksa mengkonsumsi monyet untuk kebutuhan makan keluarganya.
"Sudah beberapa Minggu ini terpaksa makan monyet. Sebab beras tidak punya dan ini yang bisa kami makan," ungkap Arif.
Meskipun cara berburu babi tidak lagi mudah didapatkan. Namun bagi Arif untuk bertahan hidup terpaksa hewan yang bisa didapat yang akan dimakan.
"Dari pada kami tidak makan ya terpaksa hewan apa saja yang bisa kami makan, dari pada keluarga saya lapar," ujarnya.
Setiap malam Arif dan keluarga lain berburu dengan senapan angin. Untuk bisa mendapatkan monyet yang tak jauh dari pemukimannya.
"Sekali berburu bisa lima kepala keluarga, entah sampai kapan kami bisa bertahan hidup dengan cara begini, kami harus menahan lapar," ucapnya lirih.
Hal senada di sampaikan Betelih, Warga SAD Kebun Duren. Keluarganya terpaksa mencari sumber makanan lain, dengan cara mencari buah sawit yang jatuh di kebun warga.
"Kadang kami mencari buah sawit yang sudah jatuh dan tidak diambil pemiliknya. Itupun hasilnya tidak seberapa hanya cukup buat beli beras satu kilo, dan kami sangat berharap ada uluran tangan pemerintah untuk membantu kesulitan kami," ucap Betelih.
Sementara itu, Samono, Kepala Desa Lantak Seribu Kecamatan Renah Pamenang mengatakan bahwa pihaknya sudah mengajukan surat rawan pangan, tapi tidak juga ada realisasinya.
"Sudah kita ajukan beberapa bulan yang lalu. Tapi tidak ada realisasinya, padahal mereka sangat butuh makanan," ungkapnya singkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
Harga BBM 19 September 2026 masih mengikuti penyesuaian awal bulan. Cek harga Pertamina, BP-AKR, Vivo, dan Shell terbaru.
BDx mulai membangun data center AI 640 MW di Jatiluhur. Gedung pertama berkapasitas 120 MW ditargetkan beroperasi awal 2027.
Harga emas Antam hari ini turun Rp1.000 menjadi Rp2.627.000 per gram. Simak harga emas Antam 0,5 gram hingga 1.000 gram.
RUU Reforma Agraria disahkan DPR hari ini. Regulasi ini mengatur pembentukan LPRA yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
Mete Kaligayam, Semin, Gunungkidul, pernah diekspor ke Kanada pada 2016. Kini pemasarannya menjangkau sejumlah wilayah di Indonesia.
Banjir bandang menerjang Arosuka, Solok. Empat warga luka, 32 jiwa mengungsi, serta 11 kantor dan 28 kendaraan terdampak.