Advertisement
Sejumlah Monumen Perjuangan Akmil Jogja Dibangun
Anggota Ikatan Keluarga Akmil Jogja membangun monumen perjuangan di Jembatan Bogem Kali Opak, Sabtu (12/10 - 2019).Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN- Sejumlah monumen perjuangan para Taruna Akademi Militer (Akmil) Jogja di era 1940an dibangun di sejumlah titik. Monumen tersebut dibangun agar masyarakat dan generasi selanjutnya mengetahui sejarah dan perjuangan yang dilakukan para Taruna Akmil.
Penasehat Ikatan Keluarga Akmil Jogja Indroyono Susilo mengatakan monumen yang dibangun tersebut meliputi monumen jembatan di Bendan (depan RM Sendang Ayu Kalasan) yang menghubungkan jalan Jogja-Solo. Jembatan tersebut berhasil diruntuhkan oleh para gerilyawan Taruna Akmil Sub-Wherkeise 104.WK III.
Advertisement
"Jembatan dirobohkan oleh ahli demolisi Herman Johannes yang juga pernah menjadi mantan Rektor UGM. Jembatan ini diledakkan pada 24 April 1949 agar Belanda tidak bisa masuk ke Jogja," katanya di sela-sela peresmian monumen perjuangan Akmil Jogja, Sabtu (12/10/2019).
Selain itu, jembatan Bogem Kali Opak mampu dirusak oleh para Taruna Akmil Peleton H1 dan H2 yang tergabung dalam para gerilyawan Taruna Akmil Sub-Wherkeise 104.WK III pada 15 Januari 1949. Hal itu dilakukan karena jalur Jogja-Solo adalah jalur penting.
BACA JUGA
"Para gerilyawan dibantu rakyat, mampu menyerang iring-iringan pasukan Belanda yang datang dari Jogja. Jembatan dirusak oleh bom yang dibuat Herman Johannes," katanya.
Monumen tersebut dibangun, katanya, untuk mengingatkan para generasi bangsa bahwa Indonesia dibangun dengan kegigihan para pejuang dibantu oleh rakyat. "Waktu itu, semangat meraih kemerdekaan sangat tinggi. Ini harus ditularkan kepada generasi bangsa agar mereka kukuh menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Di sini penguatan karakter kebangsaan harus dilakukan," katanya.
Putri mendiang pahlawan nasional Herman Johannes, Christine Johannes mengatakan selain kedua jembatan tersebut, ada beberapa jembatan lainnya yang juga diledakkan. Hal itu dilakukan untuk menghalau pasukan Belanda bergerak. "Saya pernah diajak ayah untuk melihat-lihat jembatan yang pernah dibom saat itu. Ada juga di daerah Mlati," katanya.
Wakil Ketua Ikatan Keluarga Akmil Jogja Aminah mengatakan selain di dua jembatan tersebut ada lima monumen lainnya yang dibangun. Yakni di lima lokasi markas para gerilyawan Taruna Akmil. "Monumen-monumen ini kami bangun untuk mengingatkan sejarah perjuangan para Taruna Akmil Jogja yang hanya tiga angkatan waktu itu," ujarnya.
Sementara Kepala Ajudan Jenderal Akmil Magelang Letkol Caj. llham monumen tersebut diharapkan bisa meningkatkan moral para Taruna Akmil bahwa seniornya dulu berjuang dengan gagah berani. Para Taruna Akmil akan melakukan napak tilas ke lokasi-lokasi ini.
"Monumen ini untuk menunjukkan kepada Taruna Akmil di Magelang, meskipun sedang mengikuti pendidikan mereka juga ikut bertempur. Taktik gerilya dilakukan karena dari segi persenjataan saat itu memang tidak imbang," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Trump Ingin Konflik Iran Cepat Usai, Tekanan Justru Meningkat
- Pelecehan Berlangsung 8 Tahun, DPR Kejar Keadilan Korban Syekh AM
- Sebelum ke Beijing, Trump Kejar Gencatan Senjata dengan Iran
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
Advertisement
Jogja Diserbu Wisatawan Pengeluaran Sekali Jalan Tembus Jutaan
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Sampah Lebaran Sleman: Volume TPST Turun, Waspada Lonjakan 15 Persen
- OJK dan Bareskrim Polri Tangkap Tersangka Pidana Perbankan BPR DCN
- Astra Motor Yogyakarta Tanam 1.000 Pohon Aren di Desa Bonosari Kebumen
- Jumlah Penumpang Bandara YIA Melonjak 31 Persen Saat Puncak Arus Balik
- Pemkot Jogja Kaji WFH Bagi ASN Guna Tekan Biaya Operasional Kendaraan
- KY Buka Pendaftaran Calon Hakim Agung dan Hakim Ad Hoc Tahun 2026
- Okupansi Hotel di DIY Turun, Wisatawan Pilih Solo dan Magelang
Advertisement
Advertisement







