2 Gempa Langka Terjadi di Laut Jawa, Begini Penjelasan BMKG

Grafik hasil pencatatan seismometer/seismograf, alat pencatat besaran gempa bumi. - Reuters
22 September 2019 14:57 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Dua gempa bumi terjadi di laut Jawa pada hari Kamis, 19 September 2019, pukul 14.06.31 WIB dan pukul 14.31.59 WIB. Dua gempabumi tektonik itu berlangsung dengan selisih waktu 25 menit dan jarak episenter 21 km. .

Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki parameter UPDATE dengan magnitudo Mw=6,1 dan Mw=6,0. Episenter gempabumi pertama terletak pada koordinat 6,1 LS dan 111,86 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 88 km arah timur laut Kota Rembang, Kabupaten Rembang, Propinsi Jawa Tengah pada kedalaman 620 km.

Episenter gempabumi kedua terletak pada koordinat 6,24 LS dan 111,84 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 75 km arah timur laut Kota Rembang, Kabupaten Rembang, Propinsi Jawa Tengah pada kedalaman 623 km.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, tampak bahwa gempa ini merupakan gempa dalam (deep focus earthquake) yang dipicu oleh adanya deformasi batuan pada slab Lempeng Indo-Australia di kedalaman tersebut," demikian penjelasan BMKG.

Kedua gempabumi ini dirasakan di Madura, Malang, Denpasar, Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Sumbawa, Bima III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu), Cilacap, Purworejo, Yogyakarta, Lumajang, Tuban, Trenggalek, Surabaya, Bandung II- III MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang). Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami.

Gempa hiposenter dalam yang melebihi 300 kilometer dinilai sebagai fenomena alam yang menarik karena jarang terjadi. Gempa ini dirasakan dalam wilayah yang luas dari Bandung hingga Lombok. Hal ini disebabkan hiposenternya yang dalam sehingga spektrum guncangan dirasakan dalam wilayah yang luas.

"Patut disyukuri bahwa gempa tidak berdampak merusak, karena kedalaman hiposenternya yang sangat dalam sehingga energinya sudah mengalami perlemahan setelah sampai di permukaan Bumi," tambah pernyataan tersebut.

BMKG juga menjelaskan meskipun tidak berdampak, gempa ini sangat menarik untuk dikaji untuk kemajuan sains kebumian Indonesia.

Gempa ini juga menjadi bukti bahwa gempa subduksi lempeng Indo -Australia kedalaman 500 kilometer di bawah laut Jawa masih aktif. Di bawah laut Jawa tersebut lempeng Indo-Australia menunjam dan menukik curam hingga kedalaman lebih dari 600 kilometer.

Sumber : Bisnis.com