Terdampak Asap, Mahathir Akan Surati Jokowi

Warga beraktivitas dengan mengenakan masker di dekat menara kembar Petronas, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (10/9/2019). - ANTARA / Rafiuddin Abdul Rahman
13 September 2019 17:17 WIB Denis Riantiza Meilanova News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad akan menulis surat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menyampaikan kekhawatirannya tentang kabut asap lintas-perbatasan.

Hal ini diungkapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup Malaysia Yeo Bee Yin di tengah perselisihan kedua negara atas kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap.

"Saya telah membahas hal ini dengan perdana menteri dan dia telah setuju untuk menulis surat kepada Presiden Jokowi untuk menarik perhatiannya terhadap masalah kabut asap lintas batas," ujar Menteri Lingkungan Malaysia Yeo Bee Yin, kepada wartawan seperti dikutip dari Reuters, Jumat (13/9/2019).

Yeo Bee Yin menambahkan Kantor PM Mahathir tengah mempersiapkan surat itu dan akan segera dikirim.

Malaysia menilai kebakaran hutan banyak terjadi beberapa bagian Pulau Sumatra dan Kalimantan selama lebih dari sebulan ini. Indonesia mengaku telah menerjunkan ribuan personel untuk memadamkan api di lahan yang terbakar.

Seringnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia membuat negara tetangga lebih waspada dan mengkhawatirkan kesehatan masyarakatnya, serta dampaknya bagi sektor pariwisata dalam negerinya.

Sementara itu, pejabat Indonesia membantah laporan yang menyebut kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan sebagai penyebab utama kabut asap di negara tetangga.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya meminta Malaysia untuk melihat persoalan tersebut lebih objektif, karena bisa saja kabut asap justru berasal dari kebakaran hutan di Malaysia.

Yeo Bee Yin mengatakan bahwa pihaknya menggunakan data Pusat Meteorologi Khusus Asean untuk melacak titik api di seluruh wilayah Asean.

Hasilnya, hanya ada lima titik panas atau hot spot yang terdeteksi di Malaysia pada Kamis (12/9/2019), sedangkan di Indonesia terdapat lebih dari 1.500 titik panas di waktu yang sama.

“Data jelas menunjukkan bahwa kabut berasal dari Indonesia,” katanya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia