Politis Gerindra Serahkan Bukti Dugaan Jual Rugi Semen Asal China

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). - Bisnis Indonesia/David Eka Issetiabudi
09 September 2019 13:47 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Politisi Partai Gerindra, Andre Rosiade bersama Federasi Serikat Pekerja Industri Semen Indonesia (ISI) kembali mendatangi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di Jakarta, Senin (9/9/2019). Kedatangan itu dalam rangka menyerahkan bukti lanjutan dugaan jual rugi atau predatory pricing semen asal China.

Bukti lanjutan yang dikumpulkan berupa bukti penjualan semen Conch asal China di pasar ritel yang harganya jauh di bawah harga pokok produksi dan struktur harga produksi, mulai dari bahan baku sampai menjadi semen yang digunakan sehari-hari.

Andre mengatakan, hal yang terpenting dalam membuktikan ada-tidaknya pelanggaran pasal 20 UU Nomor 5 Tahun 1999 terkait jual rugi atau predatory pricing adalah dengan menyelidiki struktur biaya perusahaan.

Industri semen adalah industri yang kompetitif, harga bahan baku antarpabrik relatif sama. Karena itu, aneh bila harga jual semen China ini lebih rendah dari harga pokok produksi.

"Untuk itu kami sangat yakin bahwa dapat diduga terjadi praktik jual rugi yang dilakukan oleh semen Tiongkok ini," kata Andre di Kantor KPPU.

Anggota DPR RI terpilih periode 2019-2024 ini menjelaskan, berdasarkan simulasi yang dibuat oleh serikat pekerja, harga yang ditawarkan oleh pabrikan semen China jauh lebih rendah dari harga modalnya.

"Harga modal per sak [kantong] semen [50 Kg] Rp53.000, namun semen China menjualnya pada harga Rp45.000. Data yang kami gunakan adalah data riil pasar," katanya.

Praktik jual rugi yang dilakukan oleh produsen semen China ini, kata Andre, memang seolah-olah menguntungkan konsumen dijangka pendek karena murahnya harga semen.

Namun, lanjut dia, dapat diperhatikan jangka panjangnya yang memberikan dampak yang besar bagi produksi pabrik semen asal Indonesia. Ia mencontohkan kasus matinya Semen Tarjun Indocement di Kalimantan Selatan karena kalah bersaing dengan semen China.

Semen Tarjun Indocement dulu menjual semennya diharga Rp53.000 per sak. Sedangkan harga semen China saat itu di Kalimantan dijual harga Rp 50.000 per sak. Tapi begitu Tarjun di Kalimantan Selatan pabriknya mati, harga semen China dikerek di angka Rp 65.000 per sak. “Inilah yang kita takutkan bila nanti semen lokal kita mati, mereka bisa naikkan harga seenaknya. Kedaulatan kita terancam. Presiden Jokowi harus perhatikan ini," katanya.

Ia berharap KPPU dapat segera menindaklanjuti bukti-bukti ini karena industri strategis dalam bahaya. Andre mengaku aneh di tengah laporan yang dilakukan ke KPPU, dalam dua minggu ini harga semen China di pasar ritel mengalami kenaikan sekitar 7% hingga 10%.

"Tapi begitu kami mencoba untuk beli dalam jumlah lebih banyak ternyata harga penawaran bisa jauh lebih murah dari harga yang diumumkan. Padahal harga bahan baku seperti batubara dan transportasi sama sekali tidak mengalami kenaikan," kata Andre.

Sumber : Antara